ILUSTRASI. (Shutterstock)

Pada tahun 1995, Dr. Cheryl Craft, ketua departemen sel dan neurobiologi di Universitas California Selatan, mengemukakan bahwa kelenjar pineal adalah “mata pikiran.”

“Dengan menggunakan teknik biologi molekular, Craft telah menunjukkan bahwa pineal dan retina mengekspresikan sejumlah gen yang sama,” tulis sebuah artikel berdasarkan temuan Dr. Craft yang dipublikasikan di USC Health & Medicine.

“Siapa tahu? Mungkin kita akan menjadi orang-orang yang mampu menjawab pertanyaan besar tentang pikiran, materi, dan mesin waktu alam semesta. Hanya waktu yang akan membuktikannya,” artikel tersebut mengutip Dr. Craft.

Jika kita memeriksa lebih dalam penelitian pada masa lalu, kita menemukan bahwa karya Dr. Craft sesuai dengan apa yang ditemukan para ilmuwan pada tahun 1950 – kemampuan pineal body untuk mendeteksi cahaya dan menghasilkan melatonin.

ILUSTRASI. (Shutterstock)

Dalam sebuah studi pada tahun 2013, yang mendukung penelitian ilmiah mengenai sifat kesadaran, molekul yang dikenal sebagai DMT (N, N-Dimethyltryptamine) yang ditemukan di pineal body tikus.

Penelitian ini sebagian didanai oleh Yayasan Penelitian Cottonwood yang dipimpin oleh Dr. Rick Strassman. DMT adalah obat psikedelik, dan Dr. Strassman menyebutnya “molekul jiwa.”

ILUSTRASI. (Shutterstock)

Strassman, seorang peneliti di Universitas New Mexico, yang menyuntikkan DMT kepada relawan dalam penelitian klinis yang disetujui oleh pemerintah AS, mengatakan, “Hasil yang paling menarik adalah bahwa dosis DMT yang tinggi sepertinya memungkinkan kesadaran relawan kami untuk masuk sebuah alam yang eksis di luar tubuh, berdiri bebas, mandiri … ”

Menurut teori lain yang diterbitkan dalam Journal of Biological Rhythms, kelenjar pineal tampaknya telah berevolusi sebagai cara tidak langsung untuk memperbaiki penglihatan.

Teori ini membahas melatonin, hormon pineal yang mengatur siklus tidur dan bangun, dan mewakili karya Dr David Klein, kepala Neuroendocrinology di Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pembangunan Manusia (NICHD).

ILUSTRASI. (Shutterstock)

Inilah sejauh mana ilmu pengetahuan telah meneliti tentang kelenjar pineal, dan penelitian lebih lanjut harus dilakukan tentunya.

Ngomong-ngomong, bagaimana pikiran anda setelah membaca kutipan ilmiah ini?

Apakah kelenjar pineal jauh lebih banyak daripada sekadar mata vestigial yang menghasilkan hormon?

Atau apakah memang “mata ketiga” atau “pusat jiwa” yang berpotensi untuk mengintip hal-hal yang melampaui ruang dimensi kita?

Tonton video Beyond Science di bawah ini.

(edi/rp)

Share

Video Popular