- Erabaru - http://m.erabaru.net -

6 Tanda Kelelahan Emosional dari Pekerjaan

Erabaru.net. Bahkan jika Anda menyukai pekerjaan Anda, terkadang pekerjaan itu masih melelahkan. Anda duduk di dapur di pagi hari dan Anda tidak ingin pergi kemana-mana. Memikirkan 8 jam kerja membuat Anda ingin memegang kepala dan tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun. Terdengar akrab? Tidak ada alasan untuk merasa malu.

Anda hanya merasa lelah secara emosional, dan alasannya karena pekerjaan Anda. Tentu, pekerjaan itu yang menempatkan makanan di atas meja. Tentu, pekerjaan itu yang membayar tagihan.

Mungkin Anda menyukai apa yang Anda lakukan, tapi sekarang, Anda akan melakukan apa pun asal tidak perlu masuk kerja, melihat kantor dan mengetahui apa yang harus Anda lakukan untuk memenuhi keinginan si bos. Diagnosanya: Anda telah mencapai batas Anda.

[1]
(Foto : Mascha Tace / Shutterstock.com)

Sebagian besar, alasannya adalah perasaan tidak puas yang berhubungan dengan pekerjaan Anda. Bagi saya, kerja monoton dan tenggat waktu yang sulit membuat saya ingin menjerit. Bagi tetangga saya, itulah yang harus ia bayar. Bagi teman saya Masha, pekerjaan ini adalah perjalanan 2,5 jam waktu pulang kerja setiap hari.

1. Kurangnya motivasi diri

Anda duduk dan menjawab korespondensi perusahaan, memanggil klien, dan menjaga agar roda usaha perusahaan tetap berjalan lancar, namun tidak menunjukkan hal yang sama pada semuanya.

Oke, Anda dibayar setiap bulan sekali. Memang itu ada. Tapi itu belum cukup. Lagi pula, hewan dalam sirkus pun bekerja juga untuk mendapatkan makanan mereka.

2. Merasa sulit bangun dan pergi bekerja

Bagaimana Anda bisa berpikir untuk bangun, bersiap-siap, dan mulai bekerja, hanya untuk menemui rekan kerja, atasan Anda, dan bekerja seperti budak sampai pukul lima sore?

Yang benar-benar ada di pikiran Anda adalah rumah Anda, piknik hari Minggu, berjalan di taman, anak-anak Anda yang tidak pernah Anda lihat, teh dan irisan pai hangat bersama teman, dan kelas salsa Anda.

Kebahagiaan ada di suatu tempat di antara hal-hal itu, tapi di tempat kerja Anda hanya merasa sedih dan kehilangan semangat.

3. Kerja membuat Anda cemas dan tegang

Mereka datang lagi! Apa yang mereka inginkan dari saya? Tidak bisakah mereka meninggalkan saya dalam damai dan membiarkan saya melakukan pekerjaan saya?

Tidak masalah seberapa keras Anda bekerja jika Anda terus-menerus berada di bawah tekanan kuat, tuntutan pekerjaan menggantung di leher Anda seperti sebuah pedang.

Seseorang selalu melihat melewati bahu Anda, ada tenggat waktu yang sulit untuk dipenuhi, dan Anda merasa seperti seekor hamster dengan roda.

[2]
(Foto : Andrey_Popov / Shutterstock.com)

4. Anda bahkan tidak bisa bersantai di hari libur

Entah itu benar-benar terjadi atau tidak, kita seharusnya beristirahat dan bersantai saat kita berada di rumah. Lupakan kerja dan isi ulang baterai semangat kita.

Anda melakukan pekerjaan saat sedang bekerja, tapi terkadang Anda masih membawanya pulang ke rumah.

Dan bahkan di akhir pekan Anda tidak bisa beristirahat. Bahkan jika Anda meninggalkan tanggung jawab dan tugas di kantor, stres menempel pada Anda seperti remis di dasar sebuah kapal yang tidak akan lepas.

5. Anda sering sakit

Jika Anda terus-menerus mengalami stres, tubuh Anda akan menyerah. Jika Anda memperhatikan bahwa Anda sering terkena pilek atau migrain, Anda tidak bisa tidur, atau Anda pegal atau sakit yang tidak biasa, maka pekerjaan mungkin akan jatuh menimpa Anda seperti kepalan tangan besi.

6. Kedamaian batin Anda hilang

Mungkin tugas dan tanggung jawab Anda sendiri tidak terlalu sulit, tapi Anda berada pada titik di mana Anda merasa seperti kalau ada bau mesin fotokopi yang tercium atau telepon dari pelanggan maka itu akan membuat Anda menjerit.

Jika demikian, maka masalahnya lebih serius dari perkiraan Anda. Pada titik ini, tidak masalah apa yang Anda lakukan untuk bekerja. Apa pun yang berhubungan dengan pekerjaan sudah pasti hanya untuk menghancurkan hidup Anda.

Apa yang harus kamu lakukan

Saya mengerti bahwa semua hal ini terjadi dari waktu ke waktu. Tapi kalau bisa, pergilah berlibur. Atau setidaknya beberapa hari beristirahat. Seperti pepatah lama, “Terlalu banyak bekerja tanpa ada waktu untuk bermain tidak baik bagi seseorang”.

Atau seperti yang dikatakan pepatah Rusia kuno: “Terlalu banyak pekerjaan bahkan bisa membunuh seekor kuda”.

Manajemen perusahaan tidak akan suka jika Anda harus mengambil cuti yang diperpanjang selama beberapa bulan karena gangguan mental atau jika mereka harus menghadiri pemakaman seorang rekan kerja.

[3]
(Foto : NikolaJankovic / Shutterstock.com)

Luangkan waktumu dalam suasana alami. Saat kita berada di dalam gedung beton, kita tidak bisa melihat betapa indahnya langit, merasakan betapa hangatnya matahari, atau mendengar betapa indahnya burung bernyanyi.

Seperti pepatah lama mengatakan, “Terkadang Anda harus berhenti dan mencium bau mawar”.

Cobalah untuk tidak menempatkan terlalu banyak tuntutan pada diri Anda sendiri. Menjadi perfeksionis tidak apa-apa bagi atasan Anda, tapi buruk untuk Anda.

Seorang akuntan yang saya kenal adalah seorang wanita yang sangat bertanggung jawab. Setelah dia selesai dan menyampaikan laporan tahunan yang sangat penting, sarafnya begitu tegang sampai-sampai ia roboh di lantai di lorong. Kakinya menyerah. Siapa yang butuh itu?

Bicaralah dengan atasan Anda. Dia tidak akan menggigit kepalamu! Jelaskan situasinya, dan jujurlah tentang bagaimana perasaan Anda tentang gaji atau jadwal Anda.

Bersiaplah untuk berkompromi. Jika Anda merasa tidak ada kontribusi Anda di perusahaan dan hanya sebagai mesin penggerak yang tidak diperlukan dalam mesin, maka diskusikanlah.

Dan terakhir, jika Anda merasa ada pekerjaan atau jenis pekerjaan lain akan membuat hidup Anda lebih bahagia dan lebih memuaskan – jika Anda melihat diri Anda lebih suka mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak daripada bekerja di bidang medis, misalnya – jangan takut untuk berhenti. Hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dalam ilusi kosong.(iin/yant)

Sumber: fabbiosa.com