Erabaru.net. Esai inspiratif ini layak dibaca, dan direnungkan. Anda akan memetik manfaat dibaliknya. Silakan simak.

Pertama, lebih baik emas atau lumpur?

ILUSTRASI. (Internet)

Biksu : Menurutmu, mana yang lebih baik, sekeping emas atau setumpuk lumpur/tanah ?
Murid : Tentu saja emas!

Biksu tersenyum, jika kamu adalah sebulir benih? Tidak ada yang secara mutlak baik atau buruk di dunia ini, yang sesuai/cocok dengan anda itulah yang terbaik.

Kedua, beras tetaplah beras

ILUSTRASI. (Internet)

Seorang pemuda bertanya kepada pendeta Tao, “Guru, ada yang bilang saya jenius, juga ada yang bilang saya bodoh, kalau menurut guru, gimana ?”

“Bagaimana kamu melihat dirimu?” kata pendeta Tao balik bertanya, anak muda terlihat bingung ditanya seperti itu.

“Contoh misalnya, setengah kg beras, di mata sepotong kue, dia tetaplah kue, begitu juga kalau diolah jadi arak, dia tetaplah arak, sementara di mata pengemis, dia adalah seporsi nasi penyelamat.”

Beras tetaplah beras. Pemuda tiba-tiba tersadar seketika.

Cara Anda melihat diri Anda menentukan nilai Anda sendiri.

Ketiga, segelas air dan air sedanau.

ILUSTRASI. (Internet)

Pendeta Tao memiliki seorang murid yang suka mengeluh. Suatu hari, pendeta Tao memasukkan segenggam garam ke dalam segelas air dan menyuruh muridnya minum.

Muridnya berkata, “Asin sekali sampai anyep rasanya.”

Pendeta Tao kemudian menaburkan lebih banyak lagi garam ke danau dan menyuruh muridnya mencicipi air danau.

“Murni dan manis,” kata muridnya.

Pendeta Tao berkata, “Derita dalam hidup itu adalah garam, rasa hambar dan asinnya tergantung pada wadahnya/penampung. Orang yang selalu mengeluh dalam hidupnya, bukan dunia yang terlalu buruk, tapi pikiranmu yang terlalu sempit.”

Keempat, kalajengking dan master Zen

ILUSTRASI. (Internet)

Master Zen melihat kalajengking jatuh ke air, ia pun bertekad untuk menyelamatkannya.

Tapi tak disangka, kalajengking itu menyengat jari tangannya begitu disentuh.

Namun, tanpa khawatir disengat lagi, Master Zen kembali menjulurkan tangannya, dan sekali lagi kalajengking itu kembali menyengatnya.

Sementara itu seseorang yang berada di sebelah master Zen berkata, “Dia suka menyengat siapa pun, jadi untuk apa menyelamatkannya?”

“Menyengat adalah sifat kalajengking, sementara welas asih adalah sifat bawaan saya, jadi mana boleh saya meninggalkan (sifat) bawaan saya karena sifat alaminya kalajengking.”

Lebih baik merasakan rasa sakit itu, daripada mengikuti sifatnya, mengubah kebaikan hati sendiri yang alami. Belas kasih seorang Guru Agung.

Share

Video Popular