- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Ibu Mertua Memintaku Berjalan Mengelilingi Rumah Sambil Membawa Semangkuk Beras, Suatu Hari Seorang Tetangga Memberitahu Fakta yang Sebenarnya, Aku pun Menangis

Erabaru.net. Aku lahir di daerah pedesaan yang miskin. Sejak kecil memiliki kehidupan yang sangat keras. Orangtuaku harus membesarkan 7 anak-anaknya. Aku adalah anak tertua dan juga satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Aku harus putus sekolah untuk membantu orangtua merawat semua adik-adiku.

Seorang laki-laki diperkenalkan oleh paman, saat usia 25 tahun aku menikah. Saat itu suamiku berumur 27 tahun.

[1]

Saat kehamilan anak pertama, dengan tubuh yang lemah, aku termasuk orang yang akan mengalami kesulitan dalam melahirkan.

Saat itu, dokter mengatakan bahwa mungkin harus dipilih apakah ibunya atau bayinya yang akan diselamatkan.

Ibuku kemudian mengatakan kepadaku bahwa dia pikir aku masih muda, dan jika harus kehilangan, dia akan sangat sedih, lagipula kami masih bisa punya anak lagi.

Namun aku tetap bersikeras untuk menyelamatkan anakku. Dengan bantuan dokter, akhirnya aku melahirkan anak yang baik, hanya saja kondisinya agak lemah. Dia sering sakit-sakitan, namun dalam kondisi kehidupan yang seadanya, dia masih bisa tumbuh, hanya saja kondisinya lemah.

Waktu anak pertama berusia 10 tahun, aku hamil untuk kedua kalinya. Kehamilan ini bahkan lebih sulit daripada yang pertama kali.

Dokter menasihati untuk menggugurkan kehamilan ini karena bisa mengancam nyawa. Tapi aku benar-benar tidak mau menyerah, anak ini harus lahir … Aku juga merasakan gerakan bayi ini.

[2]

Saat itu, kedua orangtua menginginkan supaya aku mengikuti saran dokter. Hanya ibu mertua yang tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Pada usia kehamilan 7 bulan, bayi itu lahir prematur, dan segera, kondisiku menjadi sangat buruk, wajahku terlihat sangat pucat, dan perutku sering sakit.

Suatu hari, tiba-tiba ibu mertua memberikan sebuah mangkuk berisi beras dan menyuruhku untuk berjalan mengelilingi rumah, dia berkata bahwa ini adalah untuk kebaikanku. Aku pun melakukannya.

Setelah beberapa waktu dirawat, kesehatanku mulai membaik, kondisi ku mulai pulih, sehingga aku kembali bisa bekerja mengurus rumah tangga.

Syukurlah selama ini ibuku selalu ada di sisi dan membantu dalam segala hal, termasuk dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun ibu mertua tidak pernah banyak bicara dan melakukan apa pun untuk membantu.

Beberapa waktu kemudian, perutku sakit, aku didiagnosis menderita kanker serviks, segera saja hidupku terasa gelap.

Saat itu, sekali lagi ibu mertua memberiku semangkuk beras dan menyuruhku berjalan berkeliling rumah.

[3]

Saat melewati depan rumah, seorang tetangga melihat, dia bertanya, apakah ibu mertua yang memberi mangkuk beras itu.

Aku menjawab “Ya.”

Dia tertawa, dan dengan kata-kata lembut dia bercerita: “Ibu mertuamu adalah orang baik, dia selalu memberimu semangkuk beras saat hidupmu dalam kondisi kritis?”Aku mengangguk.

Dia melanjutkan bercerita: “Aku tidak tahu mengapa, tapi orang-orang jaman dulu tahu, beras mempunyai kekuatan sihir. Orang tua jaman dahulu berpikir bahwa jika seseorang memberi semangkuk beras kepada orang lain dan memintanya berkeliling rumah, itu artinya dia juga memberikan hidupnya kepada mereka, artinya memberikan umurnya kepada orang tersebut!”

Ketika aku mendengar kata-kata ini, aku menangis tersedu-sedu. Selama ini ibu mertua terlihat tidak banyak membantu, ketika sebenarnya dia justru telah memberikan umurnya demi menantunya ini.

Aku tidak tahu berapa lama sisa hidupku ini, tapi aku pasti akan berusaha sekuat tenaga dan memberikan yang terbaik untuk keluargaku.(asm/yant)

Sumber: ins.dkn.tv