Erabaru.net. Pria itu pergi ke kota besar, katanya mau kerja mencari uang untuk isteri dan anaknya agar bisa hidup lebih baik.

Wanita itu atau isterinya pun setuju, suaminya berangkat ke kota, meninggalkan isteri dan anak laki-lakinya di rumah.

Sejak sang suami ke kota, isterinya pun menahan rindu dan berharap sang suami segera pulang.

Awalnya, pria itu masih mengirim sejumlah uang untuk isterinya di rumah, dan beberapa hari sekali menelepon isterinya.

Tapi belakangan tidak pernah menelepon lagi, juga tidak mengirim sepeser pun uang untuk isterinya di rumah, seolah-olah dia telah melupakan wanita isterinya itu dan anaknya.

Isterinya pun jadi gelisah, dia mencari tahu kabar mengenai pria suaminya itu, tapi nihil.

Akhirnya isterinya terpaksa membuka lapak buah-buahan. Setiap hari berangkat pagi pulang malam hanya mendapatkan uang yang tidak seberapa.

ILUSTRASI. (shutterstock.com)

Tak disangka, tiga tahun kemudian, pria itu tiba-tiba pulang ke rumah. Dia pulang dengan mobil mewahnya, melihat itu, orang-orang pun berpikir kegetiran hidup wanita itu akan segera berakhir, demikian pula si wanita juga berpikir begitu.

Namun, malam itu, pria itu mengatakan kepada si wanita bahwa dia pulang karena ingin bercerai dengannya.

Pria itu mengatakan sudah tidak ada perasaan cinta lagi setelah bertahun-tahun pisah ranjang dengannya.

Tapi sebenarnya, si pria sudah sukses dan kaya di kota, dan punya simpanan wanita yang lebih muda dan cantik.

Perkataan pria itu sontak membuat si wanita terkejut, dan bertanya kepada pria itu, “Benarkah sudah tidak ada perasaan cinta lagi di antara kita? Mungkinkah aku akan menunggumu pulang setiap hari jika tidak ada perasaan cinta lagi ?”

Tapi pria itu mengatakan kepada si wanita, bahwa dia tidak menyuruhnya menunggu dan mengatakan bahwa mereka harus bercerai bagaimana pun juga. Dia akan memberikan sejumlah uang kepada si wanita sebagai kompensasi.

Tampaknya pria itu sudah bertekat untuk bercerai. Sementara itu, si wanita juga tahu pria itu sudah berubah, kemudian ia pun setuju untuk bercerai, dan berkata, “Tapi, bagaimana dengan anak kita? Aku tidak ingin menyakitinya!”

“Terserah dia mau ikut siapa, aku juga tidak akan memaksa” kata si pria.

Wanita itu setuju. Dia pikir anak laki-lakinya itu pasti akan memilihnya, karena dia yang selalu menemani anak itu dan ikatan batin antara mereka juga sangat kental.

Selama bertahun-tahun di luar sana, pria itu tidak pernah menjalin kontak sedikit pun dengan putranya, jadi sudah pasti anaknya itu tidak akan memilih ikut bersama si pria.

Pada hari perceraian, hakim bertanya kepada anak laki-laki itu mau ikut ayah atau ibunya, dan tak disangka anak itu menjawab tanpa ragu.

“Aku ikut ayah, aku ikut ayah !”sahutnya kencang.

Jawaban bocah itu mengejutkan semua orang. Hakim bertanya lagi pada si bocah, “Mengapa kamu lebih memilih ikut ayahmu?”

“Karena ayah banyak uang!” jawab si bocah spontan sambil tersenyum.

Bocah itu mengatakan yang sebenarnya, pria itu memang kaya. Si pria kaya bisa membeli makanan, mainan dan segala macam barang kesukaan anaknya.

Sementara jika anak itu ikut dengan ibunya yang miskin, si ibu tidak memberinya uang saku dan tidak bisa membelikan barang-barang kesukaan si anak, bahkan untuk makan satu buah-buahan saja cukup sulit karena si wanita tidak akan semudah itu memberinya.

Karena kenakalannya, wanita itu pernah memarahi dan memukulnya. Tak ayal lagi, dalam hati si bocah, wanita itu sangat menjengkelkan, jadi sudah sewajarnya dia memilih ikut ayahnya.

Namun, wanita itu tidak menyerah, dia menatap anak itu, “Nak, kenapa kamu tidak memilih ikut dengan ibu? Mulai sekarang, ibu akan membeli barang-barang kesukaanmu.”

ILUSTRASI. (Internet)

Namun, si bocah menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak menyukaimu!”

Pria itu tersenyum senang mendengar perkataan putranya. Tampaknya tidak salah memang, dua hari sebelumnya ia membelikan makanan atau mainan untuknya.

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular