Erabaru.net. Sejak kecil, Liu Xing telah ditinggal pergi ibunya yang kabur bersama dengan seorang pria pengangguran dari desa yang sama, dan selama bertahun-tahun ia pun tinggal bersama ayahnya.

Agar Liu Xing bisa tetap sekolah, ayahnya terus bekerja keras meski kondisi kesehatannya tidak lagi memungkinkan, tapi ia berusaha bertahan.

Ayah Liu Xing baru memiliki anak disaat usianya sudah tua, sehingga dia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.

Ayahnya tidak tega menghukum apa lagi memukul anak satu-satunya itu meski melakukan kesalahan sebesar apa pun.

Untungnya, meski Liu Xing sangat nakal, tapi secara umum, ia termasuk anak yang relatif dewasa.

Liu Xing sekarang duduk di bangku SMA di sebuah kota, dan prestasinya di sekolah juga tidak mengecewakan.

Sementara itu, agar bisa memberinya biaya hidup di kota, ayahnya setiap minggu menjual hasil panen dari kebun di rumah.

Suatu hari saat hujan selama beberapa hari, jalanan pun menjadi licin, ayah Liu Xing yang sedang berjalan pulang tiba-tiba jatuh terjerembab hingga kakinya lumpuh.

Demi mengobati kakinya, hampir semua uang yang ada telah habis terkuras, imbasnya biaya hidup bulanan untuk Liu Xing pun terputus.

Dan demi merawat ayahnya, Liu Xing pun pulang ke kampung, dan berencana membicarakan dengan ayahnya, untuk berhenti dari sekolah.

Namun, ayahnya tidak setuju, dan bersikeras bagaimanapun juga Liu Xing harus tetap sekolah.

Akhirnya sambil berjalan dengan kaki pincang sang ayah berusaha mencari pinjaman uang dari rumah ke rumah.

ILUSTRASI. (Internet)

Namun melihat kondisinya seperti itu, orang-orang pun tidak menggubrisnya, dan bukan main sedihnya Liu Xing melihat ayahnya didepak dari rumah ke rumah.

Untungnya, masih ada orang yang baik hati di dunia ini. Bibi Wang, paman Wu dan paman Yang yang bersimpati meminjamkan Rp. 2 juta pada ayah Liu Xing.

Pada saat itu, uang sebesar dua juta itu sangatlah banyak, cukup sebagai bekal hidup Liu Xing untuk sementara waktu.

Ayahnya dengan senyum ceria menunjukkan uang itu pada Liu Xing, dan menyuruhnya cukup fokus pada studi saja, selebihnya biar dia yang mencari solusinya.

Liu Xing hanya tersenyum, tidak mengatakan apa pun pada ayahnya.

Liu Xing kembali ke kota melanjutkan studinya, tapi beberapa hari kemudian, ayahnya mendapat kabar Liu Xing berkelahi di sekolah.

Sekadar diketahui, tempat sekolahnya Liu Xing itu paling tabu kalau ada siswa yang berkelahi, semuanya yang terlibat akan dikeluarkan jika tertangkap basah.

ILUSTRASI. (Internet)

Mengetahui hal itu, ayah Liu Xing pun segera ke sekolah anaknya sambil berjalan tertatih-tatih.

Dan ayahnya langsung menampar Liu Xing begitu bertemu, kemudian berkata dan memohon kepada kepala sekolah agar memaafkan anaknya dan memberinya kesempatan.

Namun, dengan tegas kepala sekolah menggelengkan kepala sambil mengatakan bahwa masalah itu tidak bisa dinegosiasikan. Ayah Liu Xing pun cemas mendengar perkataan kepala sekolah.

Tiba-tiba ayah Liu Xing membuang tongkat kruknya dan berlutut, memohon kepala sekolah memaafkan anaknya, kalau tidak ia tidak akan berdiri.

Share

Video Popular