Erabaru.net. Ini adalah sebuah kisah nyata, kisah ini terjadi lebih dari dua dekade silam. Namun, setiap kali saya naik mobil melewati area tak berpenghuni di Tibet utara itu, saya tidak bisa tidak selalu mengingat tokoh utama dalam cerita ini – yaitu antelope Tibet yang sedang berlutut dengan tatapan iba.

Pada saat itu, perburuan dan penangkapan hewan liar secara sewenang-wenang bebas dari sanksi hukum.

Tepat pada hari ini, suara tembakan di Kekexili-suatu daerah di Tibet tetap terdengar riuh rendah dari sisa suara tembakan kejahatan di sudut yang sulit dicapai oleh para penjaga Cagar Alam yang berpatroli.

Antelop Tibet, kuda liar, keledai Persia, Tetraogallus Tibetanus, zeren atau gazel Mongolia dan satwa liar lainnya yang banyak ditemui ketika itu sekarang menjadi pemandangan yang sangat langka.

Pada saat itu, mereka yang sering berkunjung di Tibet utara selalu bisa melihat seorang pemburu tua berjenggot tebal dan mengenakan sepatu boots beraktivitas di sekitar Jalan Raya Qinghai -Tibet.

Senapan laras panjang yang berkilauan bergelantung di badannya sambil membawa aneka jenis hewan hasil buruannya.

Tidak ada yang tahu dengan sosok pemburu tua itu, ia selalu berkeliling, menuju ke salju utara Tibet, saat lapar ia menyantap buruannya atau minum air salju saat haus.

Tentu saja kulit-kulit dari satwa liar hasil buruannya itu bisa dijual olehnya, selain digunakan sebagian untuknya sendiri, selebihnya ia gunakan untuk membantu para peziarah.

Orang-orang Tibet yang ke Lhasa untuk berziarah rela menempuh jarak jauh yang sulit dan penuh dengan mara bahaya.

Share

Video Popular