- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Seorang Petani Miskin Bekerja Selama 20 Tahun, Ketika Ia Menanyakan Gaji pada Bosnya, Ia Diberi 3 Nasihat

Erabaru.net. Salah satu ujian terberat yang harus kita hadapi dalam hidup ini adalah menjadi orang yang sabar – hanya fokus untuk melakukan semua hal yang harus dikerjakan dan lalu bertahan, menunggu dengan sabar.

Seringkali, kita harus berkorban sebagai ujian atas keyakinan dan kepercayaan terhadap ‘sisi pengetahuan yang melekat dengan baik’ dan pada para pendeta penuh kasih.

Pilihan kita bisa berubah menjadi kritis – tapi jika kita bisa mempertahkan percikan kebaikan dalam diri kita, hasilnya pasti akan membawa sesuatu yang positif.

[1]

Seorang petani muda dan pekerja keras yang tinggal di gunung yang jauh telah menikah, dan setelah menyadari bahwa ia tidak dapat menyediakan nafkah yang cukup untuk istri dan anggota keluarganya yang akan datang, ia pun memutuskan untuk pergi dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Petani itu mengatakan kepada istrinya, “Saya harus pergi dan mencari pekerjaan dengan gaji yang bagus untuk bisa memberimu yang layak kau dapatkan.

“Saya mungkin harus melakukan perjalanan jauh, dan pergi untuk sementara waktu. Tapi saya berjanji padamu; ‘Saya akan tetap setia selamanya, dan saya harap kau bisa menjanjikan hal yang sama kepada saya.’ ”

Istrinya berjanji tidak akan mencintai lelaki lain, dan mereka saling mengucapkan selamat tinggal dengan penuh air mata.

Setelah beberapa hari berjalan, ia menemui seorang petani yang sangat membutuhkan pertolongan, dan ia pun dipekerjakan saat itu juga.

Tapi pemuda itu menginginkan sebuah kesepakatan sebelum ia mulai bekerja. “Biarkan saya bekerja untuk Anda selama yang saya inginkan, tapi ketika saya ingin pulang, bebaskan saya dari semua tugas saya. Tolong simpan upah saya sampai saya siap untuk pergi. ”

[2]
(Foto : Getty Image)

Jadi pemuda itu pun mulai bekerja, menghabiskan hari-hari yang panjang dan sulit, hampir tidak ada istirahat dan tidak ada hari libur.

Setelah 20 tahun, dia mendatangi bosnya dan berkata, “Sudah waktunya saya pergi. Tolong beri saya uang yang saya dapatkan. ”

Sang bos setuju, “Kau telah bekerja dengan tekun selama 20 tahun terakhir dan menghasilkan cukup banyak uang. Namun, sebelum saya membayarmu, saya ingin menawarkan pilihan lain untukmu.

“Saya tidak akan memberi uang, tapi menawarkan tiga nasihat. Ingat, jika kau memilih tiga nasihat itu, kau tidak mendapatkan uang. Saya memintamu untuk pergi dan memikirkannya sebelum memberikan jawaban.”

Selama dua hari, pria tersebut merenungkan hal ini, lalu mendatangi bosnya dan berkata, “Saya telah lama memikirkannya dan telah memutuskan untuk tidak mengambil uang itu, tapi tolong beri saya tiga nasihat itu.”

Sang bos menekankan bahwa jika ia memberinya nasihat, pria itu tidak bisa mengambil uangnya.

“Tolong, berikan tiga nasihatnya,” kata pria itu.

Jadi bos itu pun berkata, “Pertama, jangan mengambil jalan pintas apa pun dalam hidup, itu bisa sangat mahal dan bahkan bisa mengakhiri hidupmu. Kedua, jangan terlalu penasaran, karena keingintahuan terhadap kejahatan akan mematikan. Dan nasihat ketiga – jangan pernah membuat keputusan saat kau marah atau menderita, karena penyesalan bisa jadi tidak ada habisnya. ”

Bosnya itu kemudian memberinya tiga roti dan berkata, “Dua roti pertama adalah untukmu makan selama dalam perjalanan kembali ke rumah, dan yang ketiga adalah agar kau berbagi dengan istrimu saat tiba di sana.”

[3]
(Foto: Getty Images | Stanislav KrasilnikovTASS)

Jadi pria itu pun pulang, dan pada hari pertama dia bertemu dengan seorang pengelana yang bertanya, “Kemana tujuanmu?”

Pria itu menjawab, “Saya harus berjalan sepanjang jalan ini selama sekitar 20 hari.”

“Oh tidak, kau seharusnya mengambil jalan pintas ini, akan jauh lebih cepat, dan jalan itu hanya perlu kau tempuh dalam lima hari,” kata si pengelana.

[4]
(Foto: Flickr | Carson Tolkmit)

Pria itu mulai mengambil rute yang lebih pendek, tapi tiba-tiba teringat saran bosnya, jadi berbalik dan melanjutkan perjalanan yang panjang. Ia kemudian mengetahui bahwa ia hampir saja mengalami penyergapan.

Setelah beberapa hari berjalan di sepanjang jalan, ia tiba di sebuah desa kecil, tempat ia bertanya apakah dia bisa tinggal di gubuk malam itu.

Di tengah malam, ia terbangun karena jeritan yang menakutkan. Pria itu melompat berdiri, penasaran untuk melihat apa yang terjadi, tapi saat ia ingin membuka pintu, ia teringat nasihat kedua dari bosnya, lalu kembali tidur.

Keesokan paginya, pemilik gubuk itu bertanya apakah ia mendengar jeritan itu. Ketika pria itu mengatakan ia mendengarnya juga, pemiliknya pun bertanya, “Apa kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi?”

“Tidak, tidak sedikit pun,” jawab pria itu.

“Anda adalah satu-satunya orang asing yang bisa bertahan semalaman di sini, tetangga saya adalah orang gila, ia berteriak dan ketika seseorang berlari mendatanginya, ia akan membunuh mereka dan mengubur mayat mereka di halaman belakang,” kata pria pemilik gubuk itu.

Pria itu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, dan setelah siang dan malam yang melelahkan, ia tiba di tanah pertaniannya.

[5]
(Foto: Getty Image)

Saat itu malam telah tiba, ia bisa melihat bayangan istrinya di bawah cahaya bulan, tapi saat ia mendekat, ia melihat istrinya tidak sendirian – ia sedang membelai pria lain.

Dipenuhi kemarahan dan kebencian pada pengkhianatan sang istri, ia ingin menghadapi keduanya dan membunuh mereka. Tapi mengingat nasihat ketiga, ia menahan diri, berjanji untuk membuat keputusan saat fajar menyingsing.

[6]
(Foto: Getty Image)

Saat Matahari telah terbit, pria itu sudah tenang dan berpikir, “Saya akan meminta pekerjaan saya kembali pada bos saya dan tidak akan membunuh istri saya dan kekasihnya, tapi sebelum saya pergi, saya harus mengatakan kepadanya bahwa saya tetap setia selama ini.”

Pria itupun mengetuk pintu, dan saat istrinya membuka pintu, ia berhambur dalam pelukan suaminya, tapi dengan kasar pria itu mendorongnya ke samping dan dengan air mata bercucuran berkata, “Saya tetap setia kepadamu selama ini, tapi kau telah mengkhianati saya!”

Istrinya terkejut atas tuduhannya dan membantah telah melakukan hal seperti itu.

“Siapa orang yang saya lihat tadi malam?” Tanya suaminya.

“Dia anak kita,” jawabnya. “Saya mengetahui kalau saya hamil setelah kau pergi, dan anak laki-laki kita berusia 20 tahun hari ini.”

[7]

Mendengar hal itu, mereka berpelukan dengan gembira, dan pria itu pun menceritakan banyak kisah tentang petualangannya di sepanjang jalan. Istrinya menyiapkan kopi, dan dengan roti terakhir, ia duduk untuk berbagi bersama keluarganya.

Ketika ia memotong roti itu jadi dua, ia baru tahu kalau bosnya telah memberikan semua uang yang ia hasilkan selama 20 tahun terakhir ini, bahkan lebih banyak jumlahnya.

Bos itu seperti Tuhan kita, Ia ingin memberi kita lebih banyak. Kadang-kadang, kita harus menderita dan mempercayaiNya untuk memperoleh hadiah kita.(iin/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.