Erabaru.net. Tahun itu, perempuan itu jatuh sakit. Lalu laki-laki menariknya dengan papan troli ke klinik.

Setelah mengungkapkan maksud kedatangannya, dan mengeluarkan semua uang koin di sakunya.

Dokter klinik akhirnya memberinya suntikan, lalu menjejalkan dua bungkus obat untuknya.

Setelah itu, dia menarik troli itu kembali, dan dia tetap duduk di atas papan troli.

Mereka menyeberangi jalan kecil, belok ke kanan, lalu lewat jalan kecil lagi, dan sayup-sayup tercium aroma harum yang terbawa angin di udara.

ILUSTRASI. (Internet)

Dia menelan ludahnya dengan kuat, dan dengan bimbang berjalan beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh ke belakang, “Kamu mau cakwe gak?”

Dia yang duduk di atas papan troli sebenarnya juga secara diam-diam menghirup aroma harum itu.

Tiba-tiba saat mendengar pertanyaannya, dia tertegun sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.

“Nggak, aku tidak mau,” katanya kepada si laki-laki.

Dia punya beberapa ubi jalar yang masih hangat, “Aku punya ubi jalar, kalau lapar, aku makan ubi jalar saja.”

Perempuan itu tahu persis, kalau laki-laki itu tidak punya uang lagi di sakunya, jadi mana ada uang beli cakwe.

Diam-diam dia menatapnya, seperti menembus sampai ke relung hatinya. Dia pun tersipu malu, menundukkan kepala, dan darahnya berdesir hangat di wajahnya.

Tiba-tiba aroma harum itu kembali tercium lagi, dan tanpa bisa ditahan dia pun menelan ludahnya.

ILUSTRASI. (Internet)

Dia menarik perlahan papan troli itu ke sisi jalan, dan berhenti sejenak di pinggir jalan, kemudian berjalan ke kios penggorengan di sudut jalan itu.

Tatapannya mengiringi bayangan bahunya yang lebar dan memandangnya berdiri di depan kios penggorengan.

Sekali lagi dia tersipu malu, dan memejamkan matanya, Ya Tuhan, kami kan bukan pengemis, apa dia tidak malu memintanya pada orang lain!

Lalu dia membuka matanya, dan melihat dia yang tersenyum ceria berlari kecil ke arahnya sambil mengangkat sepotong cakwe gorengnya.

ILUSTRASI. (Internet)

Perempuan itu marah dan memalingkan kepalanya sambil berkata, “Aku tidak mau makan, aku bukan pengemis, aku tidak mau makan dari hasil mengemis.”

Dia berkata keras, “Siapa bilang cakwe ini hasil mengemis, aku menukarnya dengan potongan tembakau”

Dia tercengang, “potongan tembakau? Lalu bagaimana nanti kalau kamu mau merokok?”

Sudah bertahun-tahun dia merokok. Orang bilang “manusia itu besi dan nasi adalah baja,” tapi dia justeru bilang “manusia itu besi, rokok adalah baja.” Di matanya, rokok lebih penting daripada nasi.

Saat lelah, dia merokok, dan bersemangat lagi . Saat lapar, dia merokok, lapar pun hilang.

Rokoknya adalah tembakau kering yang ditanam di rumahnya, setelah dikeringkan, tembakaunya dipotong kecil/halus, kemudian dimasukkan ke dalam plastik kecil dan diselipkan di sakunya.

Saat ingin merokok, dia melintingnya dengan kertas.

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular