ILUSTRASI. (Internet)

Laki-laki itu menjulurkan cakwe goreng kepadanya, “Makanlah, mumpung masih panas, harum dan empuk.”

Perempuan itu berkata, “Kita makan bersama, kamu setengah aku separuh.”

Dia menggelengkan-gelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak suka makanan yang berminyak, buat kamu saja.”

Dia pun menggigit sesuap, matanya berkaca-kaca, dan ia ingin mengusapnya. Sementara dia yang masih tampak ceria bertanya, “Harum ya, gimana rasanya, manis ?”

“Pahit, sangat pahit,” sahutnya seketika.

Dia hampir melompat mendengarnya, “Pahit? Kok bisa, padahal aku sudah menyuruh paman itu menggoreng sepotong cakwe special yang paling harum dan manis lho.”

Dia mendongak dan mengerutkan kening.

“Tidak percaya, nih coba saja sendiri,” katanya sambil menyodorkan setengah cakwenya itu dan disuapkan ke mulutnya.

Dia mengunyahnya sebentar, dan mengunyah lagi, dan hmmm, ia mengerutkan kening.

“Tidak pahit kok, malah manis rasanya, hangat, dan enak di mulut,” gumamnya.

Melihatnya tampak bingung dan bertanya-tanya, tiba-tiba, perempuan itu tertawa terbahak-bahak.

Laki-laki itu melongo sesaat, dan baru mengerti apa yang sedang terjadi. Perempuan itu hanya “membohonginya” agar dia bisa berbagi cakwe itu untuknya, dan siasatnya ternyata berhasil hingga dia menyantap setengah cakwe itu.

ILUSTRASI. (Internet)

Dia dalam cerita ini adalah ayah saya 30 tahun yang lalu. Sementara sosok dia lainnya adalah ibuku. Ayah dan ibu masing-masing telah “9999” kali menceritakan kisah ini kepadaku.

Versi yang diceritakan ayah dan ibu agak berbeda. Ayah selalu melupakan alur cerita tentang tembakau rokok kesukaannya yang ditukar dengan cakwe ketika itu, tapi suka mengulang alur cerita tentang ibu yang membohonginya makan cakwe.

Sedangkan ibu selalu menekankan tentang tembakau rokok ayah yang ditukar dengan cakwe, tapi tidak menceritakan tentang dirinya yang membohongi ayah makan cakwe.

Apa itu hidup bahagia?

Bahagia, bukan sandang pangan yang serba mahal, mewah dan mentereng. Barang-barang mewah yang melilit di badan, bukan harta kekayaan segunung, bukan pula mobil mewah atau tinggal di istana!

Bahagia itu adalah, ada seseorang yang sayang dan peduli saat meneteskan air mata, ada seseorang yang menjadi sandaran saat lelah.

Dan bahagia itu adalah memilliki seseorang yang memahami dan mencintai kita, tidak peduli berapa pun yang dia miliki, dia selalu memberikan yang terbaik untukmu.

Panorama seindah apa pun juga akan terasa menyedihkan tanpa sebab yang bisa dijelaskan jika tidak bisa dinikmati bersama dengan seseorang.

Hidup senyaman apa pun juga akan terasa dingin jika tidak bisa berbagi bersama dengan seseorang.

Seburuk apa pun kondisinya, tetap akan terasa berkesan jika ada seseorang yang menemani dan menyemarakkan nuansa hidup yang hambar

Segetir apa pun hari-hari yang dilalui juga akan terasa bahagia yang tak bisa dijelaskan jika ada seseorang yang mendampingi.

Bahagia adalah semacam rasa, tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin.

Asmara itu juga tak mesti harus indah sempurna dan memabukkan, tapi selalu ada dan setia serta tidak pernah mengkhianati!

Uang memang penting, tapi itu hanya kebutuhan hidup.

Selama ada sepasang tangan dan kerja keras, berapa pun bisa diraup, tapi cinta sejati, tidak akan pernah ditemukan lagi jika berlalu.

Uang, adalah kepuasan materi, sementara kebahagiaan adalah kepuasan spiritual.

Cinta sejati tidak perlu dibeli dengan uang, apalagi membeli sekeping hati yang tulus.

Wanita, lebih baik hidup dengan indah daripada keindahan wajah, dan daripada punya uang bersenang-senang lebih baik ada seseorang yang sayang dengan tulus setia.

Bahagia itu sangat sederhana, sebuah pelukan yang hangat, sebuah bahu yang bisa disandarkan. (jhn/rp)

goodtimes.my

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular