Erabaru.net. Malam itu, seorang isteri dari pasangan muda itu menangis sesenggukan dan berkata, “Aku benci kamu! Aku mau cerai saja!”katanya saat bertengkar dengan suaminya.

Suami : “Kamu memang kurang kerjaan, aku kan capek kerja seharian, malamnya kamu mau jalan-jalan, aku bilang lain kali saja, kamu malah menangis dan marah-marah, benar-benar menyebalkan!”

Istri : “Kamu tuh yang menjengkelkan, setiap hari aku seperti sapi perah mengurus rumah, nyapu, ngepel, cuci pakaian, masak melahirkan anak untukmu, apa hanya sebagai alat saja untuk kalian laki-laki brengsek, aku hanya memintamu temani aku jalan-jalan saja, memangnya bisa membuat kamu mati kelelahan ya !? ”

Suami : “Hei dengar ya ! Melahirkan anak itu urusan dua orang, bukan urusanku sendiri, memangnya hanya kamu yang capek, aku juga capek, tahu ? Lagipula memangnya kamu tidak menikmatinya ?”

Istri : “Huh! Aku juga tidak mau melahirkan anak kalau tahu kamu juga tidak peduli, untuk apa susah-susah melahirkan anak, terus harus menanggung segalanya keperluan anak, dan tidak boleh kerja lagi.”

Suami : “Hei, memangnya tanpa aku kamu bisa memiliki anak?”

Istri: “Huh! Memangnya apa kontribusi laki-laki ? Apa kontribusimu ?”

Suami : “Huh! Memangnya bisa melahirkan anak tanpa aku, lahir dari Hongkong kali !”

Istri : “Hahaha! Kamu ikut andil juga ya, baiklah, mari kita lihat kontribusi wanita berikut ini :

Aku harus menanggung rasa mual saat hamil
Aku harus hati-hati saat makan
Aku bahkan tidak berani makan obat saat sakit
Aku harus memperhatikan segalanya demi isi perutku (janin)
Aku tidak bisa berjalan leluasa saat hamil
Aku tidak bisa piknik lagi saat hamil
Aku tidak bisa naik mobil dengan nyaman saat hamil
Aku harus memakai pakaian longgar
Aku tidak leluasa dan was-was saat berhubungan intim

Aku harus mencemaskan apakah anak dalam perutku itu sehat
Aku harus ke rumah sakit secara teratur untuk memeriksa kandungan
Aku harus mengorbankan bentuk tubuh saat hamil
Aku harus risau dengan munculnya guratan yang terdapat pada permukaan kulit.

Aku harus berusaha keras memulihkan bentuk tubuh pasca melahirkan, agar tidak dicibir suami
Aku harus menahan nyeri yang tak menentu saat persalinan
Aku harus menahan siksaan melahirkan anak
Aku mungkin harus melahirkan secara caesar

Aku mungkin akan mengalami depresi pasca melahirkan
Aku harus membawa/mengurus bayi yang baru lahir
Aku harus mengorbankan payudaraku menjadi kendur saat memberi ASI
Aku harus mengurus kebutuhan hidupnya sehari-hari
Aku harus tidur lebih malam dar bangun pagi lebih awal dari anakku
Aku harus bangun tengah malam untuk menyusui
Aku juga masih harus membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari
Aku harus mengorbankan karier

Aku harus melihat muka (memelas) suamiku saat minta uang belanja atau kebutuhan rumah tangga.

Suamiku bepergian untuk menikmati hidup, sementara aku harus mengurus anak di rumah.

Bahkan bentuk tubuhku yang tidak menarik lagi akan menjadi alasan suami untuk berselingkuh.

Semua ini adalah kontribusi-ku!

Sementara kamu langsung tidur terlentang begitu usai menikmatinya, itu saja, tak lebih.

Heran aku, dalam situasi seperti ini, lantas atas dasar apa anak itu harus mengikuti nama belakangmu? !

Darahnya, dagingnya dan segala sesuatunya itu adalah pemberianku, sedangkan kamu hanya memberinya secuil, jadi apa hakmu berdebat dan berebut denganku?

Setelah bertengkar, masih hangat dalam benak saya, suaminya itu ingin berusaha keras berdebat lagi, tapi akhirnya dia diam seribu bahasa dan tak berkutik sama sekali mendengar uneg-uneg yang dilampiaskan isterinya.

Kalau direnungkan, tampaknya faktanya memang seperti itu..

Wahai para lelaki! Mulai detik ini bersikap lebih baik dan sayangilah istrimu !

Sedangkan untuk kaum wanita!! Jangan lupa simpan artikel ini, niscaya akan sangat bermanfaat !.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Share

Video Popular