Tampak setumpukan ubi jalar Xiao Xiang di gudang. Semua ubi jalar itu diurut sesuai dengan waktu penggalian, dan ukurannya juga dipisahkan secara rapi.

 

Tampak dalam gambar Xiao ying dan putrinya jalan-jalan ke mal sambil mengurus order kiriman melalui ponsel.

Sementara setumpukan ubi jalar yang rusak diletakkan di luar gudang, Xiao Xiang mengatakan, bahwa lahannya bisa menghasilkan sekitar 15.000 kg ubi jalar setiap tahun, dan yang dibuang karena membusuk juga ada sekitar 2500 Kg.

Sementara itu, Xiao Ying mengatakan bahwa hidupnya getir daripada sebagian besar orang-orang, ayahnya meninggal saat dia baru berusia 6 tahun, menyusul ibunya yang juga meninggal setengah tahun kemudian.

Dia dipandang sebelah mata oleh segenap penduduk desa sejak kecil, inilah yang membuatnya ingin mengubah nasibnya, menjadi sesosok orang yang sukses dan tidak dianggap remeh lagi dan berharap memiliki keluarga yang bahagia.

Orang-orang bilang, menikah sama dengan kelahiran kedua wanita, tapi Xiao Ying tak menyangka kelahiran keduanya justru lebih menyedihkan.

Dia mengalami kerugian 200 juta saat bisnis bersama suaminya di usia 27 tahun, dan suaminya hanya mengucapkan sepatah kata yang menyakitkan : “Saya tidak peduli apa pun yang kamu lakukan, asal bisa melunasi utang.” Xiao Ying merasa dunia serasa ambruk ketika itu, lalu memutuskan untuk bercerai.

Namun, suaminya menolak, ia meminta Xiao Ying melunasi sendiri utang itu sebagai pengganti gugatan cerai. Setelah bercerai, mantan suaminya membawa anak sulung mereka pulang ke kampung. Sementara Xiap Ying membawa anak perempuannya dan mulai menjual ubi jalar secara online.

Itu adalah masa-masa paling gelap dalam hidupnya. Untungnya saat itu, pemerintah mulai mendukung E-Commerce, dan Xiao Ying menjadi orang pertama yang berhasil menikmati hasil penjulan online, di tahun pertama dia berhasil menjual sekitar 50.000 kg ubi jalar secara online.

Share

Video Popular