Erabaru.net. Warga Tibet telah dianiaya oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) sejak tahun 1949, dan penderitaan mereka telah disuarakan oleh aktivis hak asasi manusia di seluruh dunia.

Jutaan orang Tibet disangkal hak asasi manusianya, serta disangkal kebebasan dasarnya di tanah air mereka sendiri, dengan budaya, agama, dan nilai-nilai mereka yang indah telah dan sedang terus berusaha dihapuskan oleh PKT.

Tapi mereka masih terus menegaskan diri untuk memperoleh kebebasan, bahkan di tengah penindasan yang parah!

Suatu gerakan yang berdasarkan atas kebenaran, keadilan, dan non-kekerasan, yakni gerakan kebebasan Tibet, adalah satu dari sedikit upaya demonstrasi damai yang ada di dunia ini.

PKT sangat menyadari kekuatan gerakan ini. Jadi di Tibet, partai ini menggunakan cara-cara represi dan kekerasan, sementara di luar Tibet, PKT menggunakan propaganda.
Orang Tibet yang berbicara melawan rezim Tiongkok dipenjarakan dan dianiaya, kadang bahkan sampai mati.

Berikut adalah kisah Palden Gyatso, seorang biksu Buddha Tibet, yang sangat menakjubkan karena berisi kesaksian tentang ketahanan jiwa manusia, dan kekuatan peradaban Tibet.

Facebook | Dharma Eye

Setelah pemberontakan Tibet tahun 1959, Gyatso ditangkap oleh pihak Tiongkok karena menolak untuk berkompromi dengan keyakinan agamanya.

Dia ditangkap karena melakukan demonstrasi dan kemudian menghabiskan 33 tahun berikutnya di penjara dan kamp kerja paksa Tiongkok.

Di penjara, dia mengalami berbagai bentuk penyiksaan yang paling brutal, yang ada di tangan rezim komunis Tiongkok.

Beberapa pengalaman paling mengerikan yang dialami Gyatso di tangan PKT telah dibagikan di halaman Facebook – Stories From Dharamsala.

Gyatso ingat bahwa pada bulan September 1990, seorang petugas mengambil perangkat kejutan listrik dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Dan setelah itu dia jatuh pingsan, para petugas telah memukulinya begitu keras hingga saat terbangun, dia berada diantara air kencing, kotoran dan juga darahnya.

Terlepas dari semua penyiksaan tersebut, Gyatso tidak pernah berhenti mematuhi ajaran damai yang diyakininya – dan aspek yang paling mencolok dari ketekunannya adalah tidak adanya rasa dendam terhadap orang-orang yang telah menganiaya dirinya.

Facebook | Milla Agai

Pada tahun 1992, Gyatso dilepaskan dan dia melarikan diri ke Dharamsala di India. Dia berhasil membawa beberapa alat penyiksaan yang digunakan, sebagai bukti kejahatan yang dilakukan oleh rezim Tiongkok.

Sejak itu, dia telah mengabdikan hidupnya untuk mengekspos kekejaman rezim komunis tersebut, dan pada tahun 1995, dia bahkan memberi kesaksian di depan pengadilan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Memoarnya “Fire in the Snow”, diterbitkan pada tahun 1997 dan berada di antara karya sastra paling luar biasa tentang penyiksaan dan kelangsungan hidup.

Facebook | International Campaign for Tibet Nederland

Situasi Hak Asasi Manusia di China Hari Ini Sangat Mengkhawatirkan

Rezim komunis tidak membatasi tindakan penyiksaan dan penganiayaannya hanya pada orang Tibet. Selain orang-orang Tibet, selama bertahun-tahun, penganiayaan terhadap kelompok agama lain seperti orang-orang muslim Uighur dan orang-orang Kristen gereja bawah tanah juga semakin meningkat.

Yang lebih besar lagi, yakni penganiayaan terhadap Falun Gong (juga dikenal sebagai Falun Dafa), sebuah latihan kultivasi diri yang damai, telah menjadi kasus pelanggaran hak asasi manusia terbesar dan terparah yang terjadi di dunia saat ini.

Bahkan sampai hari ini, Tiongkok tetap menjadi negara otoriter satu partai yang secara sistematis membatasi hak-hak fundamental setiap warganya.

Catatan pelanggaran hak asasi manusia Tiongkok telah mendapat beberapa kritik tajam selama bertahun-tahun dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada dan anggota Uni Eropa yang secara bersama-sama mengutuk dan mengungkapkan keprihatinan mereka.

PKT sering bereaksi agresif untuk membungkam kritik terhadap pelanggaran hak asasi manusia di hadapan badan-badan PBB.

Pengaruh Tiongkok yang berkembang di seluruh dunia perlu dipandang serius, karena itu juga adalah salah satu faktor utama yang memungkinkan Tiongkok untuk membeli ketenangan internasional semu atas kritik terhadap hak asasi manusia.
Jika Anda menyukai artikel ini, silahkan bagikan. (anai/rp)

Share

Video Popular