EpochTimesId – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berbicara tentang menggunakan militer untuk menjaga dan mengontrol perbatasan barat daya Amerika Serikat. Rencana Trump itu disampaikan saat makan siang dengan presiden negara-negara Baltik pada 3 April 2018.

“Kami akan menjaga perbatasan kami dengan militer kami,” kata Trump. “Itu langkah besar.”

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kehadiran militer di perbatasan. Namun, Trump mengungkapkan kekesalannya atas perbatasan yang keropos.

Penasihat Keamanan Nasional, H.R. McMaster dan Menteri Pertahanan, James Mattis juga hadir pada acara makan siang itu.

Trump juga mengomentari eksodus sekitar 1.200 orang Amerika Tengah. Eksodus itu sedang berlangsung dan melakukan perjalanan ke utara melalui Meksiko, ke arah Amerika Serikat.

“Jika mencapai perbatasan kita, hukum kita begitu lemah dan sangat menyedihkan … sepertinya kita tidak memiliki perbatasan,” sesal Trump.

Gerombolan itu diduga mengatahui celah dalam undang-undang imigrasi AS yang menciptakan apa yang disebut fenomena, “tangkap dan lepaskan.”

Di bawah penangkapan dan pembebasan, siapa pun yang melintasi perbatasan secara ilegal dari Amerika Tengah dan menuntut suaka, maka kemungkinan besar akan dilepaskan ke Amerika Serikat dalam beberapa minggu. Mereka akan diberi tanggal untuk datang di sidang imigrasi yang kadang-kadang baru dijadwalkan beberapa tahun mendatang.

Sebagian besar dari ‘pencari suaka’ itu tidak akan muncul di persidangan.

Tentara Amerika berjalan dari sebuah helikopter di landasan pacu Camp Bost, Provinsi Helmand, Afghanistan pada pada 11 September 2017. (Andrew Renneisen/Getty Images/The Epoch Times)

“Kita tidak bisa membiarkan orang-orang mengalir ke negara kita secara ilegal, menghilang, dan, omong-omong, tidak pernah muncul ke pengadilan,” sambung Trump.

Pencari suaka perlu membuktikan bahwa mereka memiliki ‘rasa takut yang kredibel’ jika kembali ke negara asal mereka.

“Proses rasa takut yang kredibel dimaksudkan untuk menjadi garis hidup bagi orang-orang yang menghadapi penganiayaan berat,” kata Jaksa Agung Jeff Sessions di Virginia pada 12 Oktober 2017.

“Tapi itu telah menjadi tiket yang mudah untuk masuk secara ilegal ke Amerika Serikat.”

Kasus yang dimulai dengan klaim ketakutan yang kredibel melonjak dari sekitar 3.000 kasus pada 2009 menjadi lebih dari 69.000 pada tahun 2016.

Tahun lalu, dibandingkan dengan 2009, ada 700 persen lebih banyak pesanan penghapusan dikeluarkan karena pemohon suaka tidak muncul di pengadilan. Itu adalah kasus-kasus yang berdasarkan klaim rasa takut yang kredibel.

Video Rekomendasi Erabaru Chanel :

Perintah penghapusan dikeluarkan setelah pemohon gagal muncul di pengadilan di semua kasus imigrasi telah berlipat ganda sejak 2012. Hampir 40.000 dikeluarkan pada tahun 2017 saja.

Trump akhir-akhir ini sibuk di Twitter sejak gerombolan eksodus berangkat pada akhir Maret. Dia mengancam memutus kerjasama NAFTA, jika Meksiko membiarkan kelompok itu untuk melanjutkan perjalanan ke AS.

Dia juga mengancam akan menarik bantuan asing dari Honduras, di mana sebagian besar peserta rombongan imigran gelap berasal.

“Pengembara dalam rombongan besar berisi mayoritas orang-orang dari Honduras, sekarang datang melintasi Meksiko dan menuju ke ‘Perbatasan Hukum Lemah’ kami, sebaiknya dihentikan sebelum tiba di sana. Kas NAFTA sedang bermain, seperti bantuan luar negeri ke Honduras dan negara-negara yang memungkinkan kondisi ini terjadi,” kicau Trump tanggal 3 April 2018.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kirstjen Nielsen juga berkicau di Twitter pada 2 April. “Kami bekerja dengan pejabat Meksiko untuk menangani pengembara asing ilegal tahunan. Menjajaki semua opsi.”

Otoritas Meksiko langsung menanggapi dengan mengatakan bahwa mereka mengizinkan beberapa anggota pengembara mengajukan permohonan suaka di Meksiko. Selain itu, sekitar 400 orang telah dikirim kembali ke negara asalnya.

“Dalam keadaan apa pun pemerintah Meksiko tidak mendukung migrasi ilegal,” kata Departemen Dalam Negeri Meksiko dalam sebuah pernyataan pada 2 April.

Departemen itu juga mengatakan Meksiko tidak bertanggung jawab untuk menghentikan orang-orang pergi ke Amerika Serikat untuk mengajukan permohonan suaka.

“Bukanlah tanggung jawab pemerintah ini untuk membuat keputusan imigrasi untuk Amerika Serikat atau negara lain. Jadi itu akan sampai kepada otoritas yang sesuai dari Amerika Serikat untuk memutuskan apakah akan mengizinkan masuknya pengembara ke wilayah AS,” kata pernyataan itu.

Presiden AS, Donald Trump memeriksa prototipe tembok perbatasan di San Diego, California pada 13 Maret 2018. (MANDEL NGAN/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Trump pun langsung menanggapi pernyataan dan tindakan Meksiko. “Mereka melakukannya karena Anda benar-benar harus melakukannya.”

“Pengembara itu tidak membuat saya kesal, pengembara itu membuat saya sangat sedih bahwa ini bisa terjadi di Amerika Serikat,” kata Trump. “Presiden Obama membuat perubahan yang pada dasarnya tidak menciptakan perbatasan.”

Trump juga mengulangi niat dan rencananya membangun tembok perbatasan. Dia baru-baru ini mengusulkan agar anggaran militer digunakan untuk pembangunannya.

“Kita perlu memiliki tembok sekitar 700 hingga 800 mil,” kata Trump. (Charlotte Cuthbertson/The Epoch Times/waa)

Share

Video Popular