ErabaruNews – Pihak berwenang Tiongkok mengklaim akan menaikkan tarif impor terhadap kedelai dan 106 jenis komoditas lainnya yang diimpor dari Amerika Serikat sebesar 25 persen, Rabu Rabu (4/4/2018).

Total keseluruhan dari kenaikan tarif tersebut dapat mencapai jumlah sekitar 50 miliar Dollar AS. Sebagai ‘balancing’ dari kenaikan tarif impor yang diberlakukan oleh AS kepada Tiongkok.

Namun, para ahli ekonomi internasional umumnya percaya bahwa dinaikkannya tarif impor kedelai oleh otoritas Beijing hanya akan merugikan Tiongkok. Tidak diragukan lagi kenaikan tarif hanya bertindak sebagai meriam yang diletupkan dalam perang dagang dengan AS. Dan itu akan segera menjadi ‘senjata makan tuan’.

Kantor Perwakilan Perdagangan AS mengeluarkan sebuah surat ketetapan tentang jenis komoditas impor asal Tiongkok yang dikenakan kenaikan tarif, Selasa (3/4/2018) malam.

Isinya adalah 1.300 jenis barang, di antaranya yang menyita porsi cukup banyak adalah barang-barang keperluan kedirgantaraan, teknologi informasi dan komunikasi terutama yang terlibat dalam volume perdagangan sekitar 50 miliar Dollar AS setahun.

Beberapa jam kemudian, pihak Beijing melakukan ‘serangan balasan’, dengan mengumumkan kenaikan tarif untuk kedelai dan 106 jenis komoditas lainnya yang diimpor dari AS dengan nilai mencapai 50 miliar Dollar AS.

Tindakan Tiongkok itu diprediksi akan mempercepat kehancuran ekonomi Tiongkok. Reuters pada 4 April memberitakan bahwa, para analis dan eksekutif dari industri manufaktur pakan ternak percaya bahwa langkah otoritas Beijing itu pasti akan menciptakan penderitaan ekonomi yang sangat besar bagi perusahaan domestik.

Tiongkok merupakan pengimpor kedelai terbesar dunia. Mereka ‘menelan’ 60 persen dari total produksi kedelai dunia. Tiongkok yang memiliki industri peternakan terbesar dunia ini menggunakan kedelai sebagai pakan ternaknya.

Video Pilihan Erabaru Chanel :

Mark Williams, seorang pakar peneliti dari Capital Economics mengatakan, tidak ada suplaier dari negara lain yang mampu memenuhi kebutuhan akan permintaan kedelai Tiongkok, kecuali Amerika Serikat.

Mark Williams menambahkan bahwa, memang terdapat beberapa alternatif bagi otoritas Beijing untuk ‘menetralisir’ kerugian akibat kenaikan tarif yang diberlakukan AS. Tetapi tidak ditemukan ada komoditas yang bisa dijadikan andalan untuk mengatasi isu tersebut.

Tidak ada pilihan yang dapat membuat sakit para petani AS, tapi tidak membebani ekonomi Tiongkok.

Brazil pada tahun lalu telah memasok setengah dari total impor kebutuhan kedelai Tiongkok dari AS. Jumlahnya sekitar 33 juta ton, atau sekitar sepertiga dari total kebutuhan.

Untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam jumlah besar seperti itu bukanlah tugas yang mudah. Selain itu, menurut laporan Departemen Pertanian AS bahwa Argentina, produsen kedelai terbesar ketiga di dunia telah mengalami gagal panen kedelai karena kekeringan tahun ini.

Ekspor kedelai mereka dari tahun 2017-2018 mennyusust sampai kurang dari 7 juta ton.

Selain ketiga negara produsen kedelai, ada juga beberapa negara yang mampu memasok kedelai untuk Tiongkok. Namun jumlah total produksi mereka juga tidak lebih dari 17 juta ton dalam setahun.

Hasil panen kedelai tradisional dalam negeri Tiongkok hanya berkisar 14 juta ton. Karena pengolahannya masih secara tradisional, maka modalnya lebih tinggi dari kedelai impor.

Kedelai tersebut umumnya diekspor ke Jepang, Korea Selatan sebagai bahan makanan untuk manusia.

Korea Selatan, Jepang cenderung memilah-milah bahan makanan. Mereka lebih memilih harga mahal asal aman untuk dikonsumsikan oleh manusia. Mereka menolak pasokan bahan makanan yang mengalami modifikasi genetik.

Tetapi Tiongkok lain lagi, yang murah untuk dikonsumsi sendiri sedangkan yang mahal untuk dijual demi devisa negara.

Tentu saja, beberapa orang ingin mencari alternatif pengganti kedelai. Seperti jagung misalnya, namun kandungan proteinnya tidak memenuhi persyaratan.

Selain itu, perusahaan-perusahaan Tiongkok juga khawatir bahwa persediaan kedelai yang ketat akan meningkatkan harga pembelian pakan dan akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga daging babi domestik.

Meningkatkan biaya hidup bagi masyarakat dan lebih jauh lagi yaitu meningkatkan inflasi.

Singkatnya, pengenaan kenaikan tarif atas kedelai impor dari AS tidak akan membuat Tiongkok keluar sebagai pemenang dalam perang dagang. Kebijakan itu justru akan menimbulkan kondisi ‘mengambil batu yang menimpa kaki sendiri’. (Li Jiaxin/NTDTV/Sinatra/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular