EpochTimesId – Dua kapal penyelamat pengungsi ditolak dan ‘di-ping-pong’ oleh negara-negara yang berada di seputar Laut Mediterian, Eropa Selatan. Akibatnya, kapal yang membawa ratusan pengungsi tidak dapat berlabuh ke daratan Eropa selatan sejak beberapa hari lalu.

Di atas kapal terdapat sekitar 300 orang pengungsi asal Afrika Utara. Mereka pun terpaksa terombang-ambing di atas lautan, ketika para pemimpin negara-negara Uni Eropa berbeda pandangan dan bersitegang terkait penanganan pengungsi asal Arab dan Afrika Utara.

Sebelumnya, pada 22 Juni 2018, Italia dan Malta juga menolak menerima sebuah kapal penyelamat milik sebuah LSM, ‘Lifeline’. Kapal itu membawa lebih dari 230 orang pengungsi ilegal, yang diselamatkan dari perairan di dekat Libya.

Kapal berbendera Belanda itu seharusnya berlabuh di Belanda, menurut pihak berwenang Italia. Tetapi Belanda mengatakan bahwa kapal itu tidak pernah diregistrasi di Belanda.

“Orang Italia memberitahu kami bahwa tanggung jawab berada di Libya, tapi sewaktu kami menelepon mereka, mereka tidak menjawab,” ujar Nakodha Kapal ‘Lifeline’, Claus-Peter Reisch.

Selain kapal Lifeline, kapal kargo Denmark Marquez juga terpaksa mengapung di perairan Italia selatan selama beberapa hari karena alasan yang sama. Dalam kapal itu terdapat 113 orang pengungsi.

Media Italia memberitakan bahwa sejak tahun 2014 hingga kini, sudah ada 600.000 pengungsi yang mendarat di negara tersebut.
Ketika gelombang pengungsi mencapai puncak pada tahun 2015, lebih dari satu juta orang pengungsi tiba di negara-negara Uni Eropa. Serbuan itu menyebabkan negara-negara UE ‘bertengkar’ tentang cara mengatasi pengungsi dan masalah penampungan pengungsi.

Koresponden NTDTV di Eropa, Wang Yuyin dalam sambungan telepon mengatakan, “Italia tidak puas dengan kebijakan pengungsi terutama terpusat pada 2 hal berikut. Pertama, karena negara Uni Eropa lainnya menerima jumlah pengungsi yang tidak sesuai dengan norma Uni Eropa. Sehingga sejumlah pengungsi setelah mendarat lalu ‘menetap’ di Italia, dan menghabiskan anggaran kesejahteraan Italia.”

“Kedua, sebagian dari mereka bukan pengungsi karena negaranya sedang perang. Tetapi, mereka cenderung adalah pengungsi ekonomi, menyelinap masuk negara Eropa yang lebih makmur dengan mendompleng kapal pengungsi perang.”

Permasalahan yang dihadapi oleh Italia adalah bahwa, selama bertahun-tahun Italia mengadopsi sikap liberal terhadap para pengungsi dan imigran ilegal. Setiap beberapa tahun sekali, dilakukan legalisir terhadap imigrasi gelap, terutama karena perkembangan ekonomi Italia membutuhkan banyak tenaga kerja murah dan investasi modal. Namun di sisi lain kebijakan tersebut juga memberikan kontribusi terhadap membanjirnya imigran gelap. (Wang Yuyin/NTDTV/Sinatra/waa)

Simak Juga :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds