PBB baru-baru ini merilis sebuah laporan bahwa manusia menciptakan 9 miliar ton plastik setiap tahun dan sumber sampah plastik terbesar di dunia berasal dari Tiongkok (Indonesia menduduki peringkat ke 2), namun hanya 9 % dari sampah itu yang didaur ulang. António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, dengan lantang menyatakan bahwa pada tahun 2050, plastik di lautan mungkin lebih banyak daripada ikan.

Laporan itu menunjukkan bahwa sekitar 8 juta metrik ton sampah plastik dibuang secara global ke lautan setiap tahun, yang berarti satu truk sampah plastik dibuang ke laut setiap menit.

Menurut laporan US Marine Conservation Society di tahun 2017, lebih dari setengah dari sampah tersebut berasal dari lima negara Asia, yaitu RRT, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam; mereka merupakan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia, sekaligus adalah: manufaktur produk – konsumsi – pembuang plastik terbanyak di seluruh dunia.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa jumlah kantong plastik yang digunakan setiap tahun di dunia mencapai 5 triliun, jika mereka dijejer satu per satu, cakupan luasnya akan mencapai dua kali wilayah Prancis.

9 miliar ton plastik yang diproduksi di seluruh dunia, hanya 9% yang di daur ulang, dan sebagian besarnya berakhir di tempat pembuangan sampah, lokasi pengurukan atau tersebar di lingkungan sekitarnya.

Direktur Eksekutif UNEP Erik Solheim menulis dalam laporannya: “Malapetaka plastik di setiap sudut bumi.” Sampah plastik tidak hanya menghancurkan kehidupan di laut dan mencemari tanah, juga melepaskan bahan kimia beracun saat dibakar.

Menurut laporan, setelah peraturan pengurangan diberlakukan pada tahun pertama, 30% dari konsumsi kantong plastik dunia mulai turun tajam, dan 20% memiliki sedikit atau tidak ada perubahan. Dalam 50% kasus tersisa, rata-rata pemerintahannya belum mampu menilai efektivitas peraturan tersebut.

Laporan itu memuat beberapa rekomendasi, termasuk himbauan untuk meningkatkan: pemilahan sampah – daur ulang dan mempromosikan alternatif plastik ramah lingkungan melalui insentif ekonomi, serta mendidik konsumen dan membiasakan penggunaan produk daur ulang. (HUI/WHS/asr)

Share

Video Popular