Pengadilan Tiongkok menghentikan sementara produsen chip memori AS untuk menjual produk semikonduktor di Tiongkok, sebuah langkah yang dapat semakin memperdalam sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Beijing dan Washington.

Pengadilan Menengah Rakyat Fuzhou, yang terletak di Provinsi Fujian, Tiongkok selatan, mengeluarkan keputusan awal penjualan terhadap Micron, produsen chip memori terbesar di dunia, mengklaim bahwa perusahaan tersebut melanggar paten yang dipegang oleh produsen chip Taiwan, United Microelectronics (UMC).

Keputusan tersebut mencegah Mikron dari penjualan 26 produk semikonduktor, termasuk DRAM dan chip memori flash Nano, yang merupakan komponen dasar untuk ponsel, komputer, dan perangkat TI (teknologi informasi) lainnya, serta solid-state hard drive komputer (SSD), menurut pengumuman online 3 Juli di situs web UMC.

Micron mengatakan belum bertindak dengan keputusan tersebut dan tidak akan berkomentar lebih lanjut sampai mereka meninjau dokumen dari pengadilan Tiongkok, menurut Reuters. Pengadilan menolak mengomentari kasus tersebut dan mengatakan bahwa keputusan-keputusan tidak diumumkan secara publik.

Kembali pada bulan Desember 2017, Micron mengajukan gugatan perdata di California, menuduh UMC dan mitra Tiongkoknya, Fujian Jinhua Integrated Circuit, mencuri desain dan teknologi manufaktur terkait dengan chip DRAM-nya.

Dalam pengajuan gugatannya, Micron mengatakan UMC, yang sedang meningkatkan bisnisnya di Tiongkok dan berencana untuk mendaftar di Bursa Efek Shanghai, telah berburu karyawan-karyawan kunci Micron dengan tujuan membantu Fujian Jinhua meningkatkan teknologi DRAM sendiri.

UMC belum mengomentari tuduhan perburuan tersebut. Kasus AS masih didengar.

Hal ini mendorong UMC untuk menggugat balik pada tanggal 12 Januari, mengajukan gugatan pelanggaran paten terhadap Micron di Pengadilan Menengah Rakyat Fuzhou. Gugatan mencakup tiga area, termasuk aplikasi memori spesifik dan memori yang digunakan di dalam kartu-kartu grafis.

Larangan tersebut muncul di tengah-tengah meluasnya perdagangan antara Washington dan Beijing yang memacu Tiongkok untuk mempercepat langkahnya mengembangkan produsen chip domestik guna mengurangi ketergantungannya yang tinggi pada perusahaan AS seperti Micron dan Qualcomm, pembuat chip lain yang berbasis di AS.

ZTE, raksasa telekomunikasi Tiongkok, saat ini dalam keadaan terlantar setelah administrasi Trump melarang para pemasok AS menyediakan komponen-komponen teknologi untuk perusahaan tersebut pada bulan April, sebagai hukuman bagi ZTE yang telah melanggar kesepakatan sebelumnya terkait dengan pelanggaran sanksi-sanksi terhadap Iran dan Korea Utara.

Larangan tersebut telah melumpuhkan operasi bisnis ZTE dan menyoroti kekurangan chip domestik Tiongkok yang parah.

Itulah alasan mengapa Tiongkok ingin cepat mempersempit kesenjangan teknologi dengan kekuatan-kekuatan besar semikonduktor global seperti Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Untuk memperoleh teknologi tersebut, Tiongkok telah menargetkan para insinyur top di perusahaan-perusahaan pembuat chip Taiwan, menawarkan paket-paket gaji yang menggiurkan untuk memikat mereka agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan Tiongkok. Para insinyur milik Micron di anak perusahaannya di Taiwan juga diburu, membuat Micron mengajukan tuntutan hukum pada 2017 terhadap mantan karyawan-karyawan karena mencuri rahasia dagang dan membawanya ke majikan baru mereka.

Motivasi

Larangan tersebut, bersama dengan penyelidikan anti monopoli terpisah oleh Tiongkok pada awal Juni terhadap Micron dan dua pembuat chip Korea Selatan, SK Hynix dan Samsung Electronics, semuanya adalah “terhubung dan terjalin secara politik,” kata Arisa Liu, analis dari Taiwan Institute of Economic Research, sebuah think tank nirlaba terkemuka di Taiwan, dalam sebuah wawancara dengan majalah Jepang, Nikkei Asian Review.

“Langkah UMC untuk memperdalam hubungan dengan Tiongkok dan keinginan untuk bergabung dengan ekosistem chip Tiongkok pasti dapat membantunya mendongkrak lebih banyak sumber daya dan mendapatkan kepentingan bisnis dari negara tersebut ketika banyak kemunculan para penyedia chip Tiongkok yang masih memerlukan dukungan teknis dari Taiwan,” kata Liu.

Sebagian besar bisnis perusahaan semikonduktor Taiwan dilakukan dengan daratan. Menurut situs berita bisnis Taiwan, CnYes, pada tahun 2017, sumber-sumber impor semikonduktor terbesar Tiongkok adalah Taiwan, memberikan 36,7 persen. Korea Selatan adalah penyedia terbesar kedua, sebesar 27 persen.

Pada 2017, Taiwan mengekspor produk senilai $92,3 milyar dari industri semikonduktornya, dimana 55,5 persen (senilai $51,2 milyar) yang dikirim ke Tiongkok dan Hong Kong.

Ho Chin-cheng, presiden firma konsultan investasi Taiwan, Forwin, juga percaya larangan tersebut termotivasi secara politis.

“Saya pikir Tiongkok menggunakan kasus ini sebagai balasan terhadap AS,” kata Ho dalam sebuah wawancara dengan New Tang Dynasty Television cabang Taiwan, media yang berbasis di New York.

Li Yiqiang, seorang partner di firma hukum Faegre Baker Daniels, mengatakan kepada Reuters bahwa biasanya, pengadilan Tiongkok menetapkan sebuah penghalang yang sangat tinggi untuk memberikan keputusan dalam kasus pelanggaran paten yang kompleks, tetapi ketegangan perdagangan mungkin telah memberi pengadilan lebih banyak kelonggaran dalam kasus ini.

“Dalam lingkungan sekarang, karena ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat,” hakim-hakim lokal mungkin merasa lebih nyaman memberikan keputusan menyadari mereka akan “menghadapi sedikit tekanan dari pengadilan-pengadilan yang lebih tinggi,” kata Li.

Pembalikan

Tiongkok adalah pengimpor produk memori terbesar, mengkonsumsi 20 persen dari DRAM dunia.

Micron membuat bisnis besar dari menjual produknya ke Tiongkok. Pada 2017, Micron menghasilkan sekitar setengah dari $20,3 miliar pendapatan fiskal dari Tiongkok. Pasar-pasar utama lainnya, Amerika Serikat (sekitar 13 persen) dan Taiwan (sekitar 12 persen), merupakan bagian yang jauh lebih kecil.

Larangan Micron bisa menjadi peluang besar bagi para pembuat chip global lainnya untuk melangkah masuk. “Ini adalah peluang bagi SK Hynix dan Samsung, karena produk-produk yang dilarang tersebut bukan apa yang dapat dibuat oleh Tiongkok sendiri. Jadi mereka harus mengimpor,” kata Greg Roh, seorang analis di Hyundai Motor Securities, kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Yang lain percaya larangan tersebut akan berumur pendek. Karena Tiongkok tidak dapat menggantikan pasokan chip Micron dengan chip yang diproduksi di dalam negeri, ini akhirnya dapat mengarah pada pembalikan larangan pengadilan, menurut seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya di industri semikonduktor Korea Selatan, dalam sebuah wawancara dengan portal berita Korea Selatan, Business Korea.

“Pada akhirnya, pengadilan Tiongkok diharapkan untuk mencabut keputusan awal itu,” kata pejabat tersebut.

Sementara itu, larangan Micron dapat memberi tekanan pada perusahaan-perusahaan Tiongkok dan dengan demikian menaikkan harga pada beberapa chip buatan dalam negeri, kata Wang Yanhui, sekretaris umum China Mobile Alliance, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar bisnis Tiongkok, 21st Century Business Herald.

Menurut Wang, Micron saat ini memasok modul SSD ke Alibaba, peritel elektronik terbesar di Tiongkok; Huawei, pembuat smartphone terbesar ketiga di dunia; Tencent Holdings, konglomerat Tiongkok yang menyediakan layanan internet dan telekomunikasi; dan Baidu, mesin pencari terbesar Tiongkok. Perusahaan-perusahaan Tiongkok ini semua perlu mencari pemasok lain untuk memenuhi permintaan mereka.

Orang dalam industri Korea Selatan yang tidak disebutkan namanya juga menambahkan bahwa Tiongkok telah menetapkan pembuat chip Korea Selatan sebagai target berikutnya. Dia percaya investigasi anti monopoli pada SK Hynix dan Samsung Electronics menunjukkan bahwa pihak berwenang Tiongkok berniat untuk “menahan semikonduktor Korea di bawah kendali.”

Dan jika para produsen chip Tiongkok maju ke kemampuan teknologi pembuat chip Korea Selatan di masa depan, “mungkin ada tekanan kuat atau sanksi pada perusahaan-perusahaan Korea,” mirip dengan larangan Micron, kata orang dalam. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular