Erabaru.net. Ini adalah pertama kalinya dia pulang ke kampung halamannya lagi setelah tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Di kampung halamannya, di sebuah desa kecil, ada bunga di mana-mana, juga pepohonan hijau, dan lumut-lumut yang melekat di bagian tembok luar rumah.

Ilustrasi.

Air di kolam sudah lama kering, masih hangat dalam benaknya, ada banyak ikan di kolam itu saat pertama kali datang ke sini. Dulu, dia sangat suka dengan semuanya di sini.

Pada saat itu, wanita itu berjalan di depan dan dengan penuh gelora berkata kepada dirinya: “Meskipun keluarga kami sudah pindah, tapi ini adalah tempatku dibesarkan.”

Wanita itu membawanya untuk melihat tempat di mana dia dilahirkan, dia ingin menebus hari-hari yang telah mereka lewatkan tanpa kesan itu dengan cara lain.

Ilustrasi.

Sinar mentari yang menyilaukan membuat dirinya hanya bisa menatapnya sambil menyipitkan mata, mendengarkan dia bercerita tentang hal-hal yang menarik di masa lalu. Terlalu indah kenangan yang wanita itu tinggalkan untuknya, karena itulah belakangan, kebencian dirinya menjadi sangat dalam …

Namun, wanita itu akhirnya menjadi mantan istrinya. Mantan istri, selama ini menjadi simpul di hatinya. Simpul ini sangat dalam di lubuk hatinya, sampai sejauh mana?

Mereka bercerai pada tahun kedua usia pernikahan mereka, dan telah tujuh tahun lamanya. Selama tujuh tahun ini, dia tidak pernah mencarinya, apalagi menemuinya. Dia berpikir, mungkin dia sudah menikah lagi, dan mungkin dia sudah melahirkan satu atau dua anak yang baru.

Ilustrasi.

Bagaimanapun, ucapannya cukup menyakitkan ketika dia pergi, dan bahkan membawa serta anak perempuannya.

Dia khawatir putrinya nanti akan menderita jika ikut dengannya.

Pada saat itu, istrinya baru sembuh dari sakitnya, dan kondisi ekonomi keluarga juga semakin memprihatinkan. Orangtuanya menjual rumah untuk biaya pengobatannya, tapi masih jauh dari cukup… Jika bukan karena bantuan kerabat jauhnya, yang meminjamkan sejumlah uang pada keluarganya, mungkin dia sudah tiada sejak dari dulu!

Pada saat itu, isteri mengusulkan untuk bercerai dengannya. Namaun, dirinya tidak berani menanyakan alasannya, dan akhirnya istrinya mengatakannya “Aku punya teman akrab masa kecil. Dia bilang masih menungguku. Dia tidak keberatan jika aku membawa anak. Bagaimanapun juga, itu adalah anak perempuanku,”katanya.

Pada waktu itu, putrinya belum lahir, dan dirinya memang tidak punya kemampuan itu untuk mengurus anak.

Setelah cerai, dirinya seakan terlepas dari beban berat, dan yang terlintas dalam pikirannya adalah mencari uang sebanyak-banyaknya.

Ilustrasi

Jadi, ketika dia benar-benar mendapatkan apa yang diinginkannya, reaksi pertamanya adalah mengendarai mobil mewahnya ke rumah mantan istrinya.

Meskipun dia sendiri tidak mau mengakuinya, tapi mau tidak mau dia harus mengakuinya, kalau kepergianyanya itu tak lain hanya ingin pamer di depan mantan istrinya.

Jika tidak menunjukkan kesuksesannya sekarang, maka apalah arti dari semua usaha kerasnya selama ini ? Dia bahkan ingin melihat penyesalan di wajah mantan istrinya, membayangkan wajahnya yang berlinang air mata sambil menangis.

Ilustrasi.

Tapi apa yang ditunggu-tunggu tidak juga tampak bayangannya

Dia bertanya ke sana ke mari dengan setiap penduduk desa yang ditemui, suasana desanya sekarang sangat sepi, jarang penduduknya.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya dia bertemu dengan seorang lelaki tua. Orang tua itu mungkin sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun, tetapi pandangan matanya masih jernih.

Orang tua itu berkata : “Dengar-dengar waktu itu dia dalam keadaaan hamil, dan tertular kebiasaan buruk, setelah kalah judi… Kalau tidak, dia juga tidak akan pergi. Kamu punya hubungan dengannya?” Tanya si kakek.

“O..Tidak.” Jawabnya

“Oh.” Desah si kakek. Dia ingin bertanya lagi, tapi tercengang seketika melihat orang tua itu tampak tertidur sambil bersandar di dinding, dan mendengkur beberapa kali.

Kemudian, dia bertemu dengan seorang gadis cilik, tampak sekilas bocah cilik itu mirip dengan mantan istrinya. Dia pun langsung bertanya pada gadis cilik itu : “Dimana ibumu nak ?”

“Ibu telah pergi tujuh tahun lalu!” Jawabnya polos. Tampaknya dia masih belum mengerti dengan maksud kata “pergi” dari gadis cilik itu.

Kemudian dia melihat sebuah makam terpencil, dan di atas batu nisan itu terukir mantan istrinya.

Dengan diantar gadis kecil itu, dia juga menemukan sosok orang teman semasa kecil mantan istrinya.

Ilustrasi.

Teman semasa kecilnya itu telah lama menikah sepuluh tahun yang lalu, jadi istrinya hanya mengarang cerita waktu itu….Dia bertanya pada teman mantan istrinya itu, apa sebab yang membuatnya pergi (meninggal) ?

“(Meninggal ) karena sakit,” sahut si teman mantan istrinya itu.

Sebenarnya, tujuh tahun yang lalu, keluarganya sudah mengumpulkan uang untuk biaya operasinya kala itu.

Tapi, siapa sangka, dia sendiri yang menghabiskan uang itu di meja judi. Mendengar itu, keluarganya sangat marah dan tak peduli lagi dengan keadaannya.

Kemudian, dia ke tempat ini sambil membawa anak dalam perutnya, belakangan kakek-neneknya akhirnya datang menjenguknya.

Teman masa kecil istrinya itu menunjuk ke arah seorang gadis kecil: “Itu dia, anak perempuannya,”sekaligus juga putri kecilnya.

Setelah pergi dari desa kecil itu, dia menelepon ibunya, dan keluarganya sendiri sama sekali tidak memiliki kerabat.

Akhirnya ibunya mengatakan, “Aying (mantan istrinya) meminta kami merahasiakannya, kalau uang untuk modal usahanya itu darinya…”

Mendengar cerita ibunya, dia pun tersadar seketika dan meratap pilu : Ternyata aku telah salah paham dengan istriku yang sangat mencintaiku, aku telah membencinya selama bertahun-tahun …Dan aku benar-benar menyesal baru tahu sekarang !(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular