Erabaru.net. Manusia adalah makluk yang emosional, bagaimana mungkin tidak bisa marah? Perasaan suka, marah, sedih, takut dan sebagainya. Tersenyum saat bahagia, menangis di saat sedih, dan marah sambil mencaci maki saat dikuasai emosi. Menurut kedotkteran tradisional Tiongkok dengan jelas mengatakan : Marah akan berdampak buruk pada (organ) hati, berpikir (berlebihan/ekstrim) berdampak buruk pada limpa, rasa takut berdampak buruk pada ginjal, semua penyakit itu bersumber dari emosi/amarah.

Sejujurnya, banyak orang yang meninggal itu bukan karena lanjut usia, atau karena sakit, tapi karena emosi/amarah yang meletup-letup dan tak terkendali.

Gagal jadi pejabat, gagal menjadi kaya dan sebagainya…kemudian terus dipikirkan, lalu kesal, marah-marah, hingga akhirnya stres (gila) atau sakit, lalu pindah ke dunia lain.

Hanya karena sesuatu hal yang sepele, banyak orang tua lanjut usia meninggal karena emosi tak terkendali. Oleh karena itu, manusia tidak bisa tidak pasti akan terpancing emosi, namun, pastikan jangan sampai menjadi budak emosi, tapi harus menguasai dan mengendalikan emosi, jangan biarkan emosi mengendalikan Anda.

Ingat, emosi adalah tongkat dari amarah orang-orang, sekali lagi camkan baik-baik, jaga dan kendalikan diri Anda dari letupan emosi yang pasti berdampak buruk.

70% dari penyakit manusia itu berasal dari keluarga, dan 50% penyakit kanker orang-orang berasal dari keluarga. Jadi, bukankah peranan keluarga itu sangat penting ?

Ini menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga itu sangatlah penting kiranya.

Karena itu, jangan sampai berdebat dan bertengkar di rumah setiap hari, hanya karena sesuatu yang sepele dan tak berarti, ingat dampak buruknya pada kesehatan. Jangan juga hanya karena itu, lalu diam membisu tidak saling bicara, apalagi sampai berbulan-bulan, itu sama juga dengan memendamnya dalam hati yang justru akan berdampak buruk pada kesehatan.

Pernah dilaporkan, bahwa orang yang bercerai, pasangan yang ditinggalkan cenderung berusia pendek, asal tahu saja, kesepian jauh lebih mengerikan daripada kemiskinan, suami-istri yang saling mencintai jauh lebih berumur panjang, pasangan hidup yang sehat cenderung jauh lebih panjang umur, sementara kesepian rentan terhimpit masalah, dan berumur pendek, ini adalah hukum universal.

Keluarga yang harmonis akan hidup rukun dan tenang. Jika Anda selalu mengeluh sepanjang hari, mencari rezeki sambil marah-marah, apa pun yang ingin Anda capai termasuk rezeki pun tidak akan menghampiri Anda. Demikian juga kerja sama dengan orang lain, siapa yang berani bekerja sama dengan Anda, jika hubungan dengan keluarga sendiri saja tidak harmonis. Coba lihatlah keluarga harmonis orang lain di sekitar Anda, mereka selalu berseri-seri dan dilancarkan rezeki.

Untuk menciptakan keluarga yang harmonis, empat poin ini mutlak diperlukan : 1. Menghormati orangtua ; 2. Mendidik anak-anak secara berkualitas ; 3. Mengatasi dengan baik hubungan antara suami/istri – mertua ; 4. Intinya adalah suami-istri harus saling mencintai dengan tulus.

Suami-istri harus didasarkan pada prinsip mutual berikut ini : saling menghormati, saling cinta, saling percaya, saling membantu, saling menghibur, saling mengalah, saling pengertian.

Setiap orang memiliki karakternya masing-masing, memiliki penyakit (kebiasaan), harus selalu mengingatkan diri : Sudahlah, lebih baik mengalah saja, yang penting dia senang. Oleh karena itu, perlu dicamkan baik-baik, bukan hanya mencintainya semasa muda, tapi akan lebih menyayangi dan mencintai dikala senja ; Tidak hanya mencintainya saat sehat, tapi lebih menyayangi saat jatuh sakit ; Bukan hanya tertarik dengan kelebihannya, tetapi juga bisa menerima kekurangannya. Jadi, penting sekali kiranya pria dan wanita untuk saling pengertian satu sama lain.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular