oleh : Xia Xiaoqiang

Perang dagang antara AS – Tiongkok mulai berkobar pada 6 Juli. Dalam beberapa hari terakhir, situasi politik di dalam Zhongnanhai mengalami gejolak, beberapa insiden terjadi berkaitan dengan Xi Jinping.

Di antaranya termasuk diturunkannya poster gambar Xi Jinping di beberapa tempat, adegan permintaan maaf mendiang Hua Guofeng di masa lalu tiba-tiba diekspos kembali, penundaan proyek penelitian Liangjiahe, dan insiden penyiaran berita CCTV (China Central Television).

Media luar negeri melaporkan, masih ada satu lagi tanda-tanda terjadi sesuatu kejanggalan pada kalangan tingkat tinggi di pusat kantor pemerintahan RRT di Zhongnanhai, yaitu nama Xi Jinping 2 kali dalam sepekan (9  dan 15 Juli 2018) tidak dimunculkan di halaman utama surat kabar resmi Tiongkok ‘Renmin Rebao’. Aneh, karena hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Apalagi selama ini nama kepala negara dan berita yang menyangkut kegiatannya selalu diletakkan di halaman paling depan media resmi tersebut.

Ditambah dengan desas-desus lewat internet mengenai terdengar suara tembakan yang cukup intensif pada suatu larut malam di Beijing. Beberapa komentator luar negeri percaya bahwa telah terjadi kudeta di Zhongnanhai dan perubahan besar akan terjadi di puncak kepemimpinan PKT (Partai Komunis Tiongkok). Pada saat yang sama, Zhongnanhai mengadakan pertemuan politbiro yang diperluas, beberapa tokoh veteran Tiongkok dimunculkan ke permukaan, juga diedarkannya daftar perubahan personil tingkat tinggi.

Sejak Xi Jinping menjabat kepala negara tahun 2012, perselisihan politik di internal PKT terjadi semakin sengit. Dalam beberapa tahun terakhir pemerintahan Xi mengalami beberapa kali rencana kudeta yang dipimpin oleh kelompok Jiang Zemin, situasi tegang karena perselisihan terus berlangsung sampai Kongres Nasional ke 19, bahkan berlanjut sampai hari ini. Karena itu, ketika orang luar mengomentari dan menganalisa peristiwa penting di Zhongnanhai, mereka sering mengkaitkannya dengan perselisihan di tingkat tinggi Zhongnanhai, dan kali ini pun tidak terkecuali.

Sebenarnya, perselisihan sengit di internal Zhongnanhai adalah hal biasa. Sejarah PKT memang adalah sejarah kekerasan dan pembunuhan, siapa saja pemimpin yang berkuasa perselisihan dengan kekerasan terus terjadi. Maka jika dinilai dari perspektif ini, perselisihan internal pada pimpinan puncak PKT tidak mengherankan.

Pusat Kantor pemerintahan Tiongkok di Zhongnanhai (AFP)

Media berita luar negeri menyebarkan berita mengenai situasi di kalangan pemimpin tinggi PKT, sering kali bertalian dengan selisih dalam pandangan politik yang sengaja dirilis demi tujuan untuk menjatuhkan lawan politik.

Pesan itu sendiri, serta spekulasi yang dibuat oleh kekuatan PKT di luar negeri, tidak secara langsung mempengaruhi keputusan yang dibuat pimpinan tertinggi Partai Komunis Tiongkok.

Alasan utama mengapa kekacauan internal di Zhongnanhai terjadi terus menerus, sesungguhnya bukan karena dikobarkan oleh lawan politik, tetapi alasan utamanya adalah karena faktor sistem kelembagaan PKT. Sistem kelembagaan PKT perlu dirawat dengan kebohongan dan kekerasan agar bisa tetap hidup.

Baik dari aspek ekonomi atau kelembagaan, termasuk kekerasan dan kebohongan milik PKT itu sama sekali tidak sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku di dunia bebas saat ini. Alasan yang mendasari perang perdagangan antara AS dengan Tiongkok adalah konfrontasi antara sistem komunis yang jahat dengan nilai-nilai universal dan sistem kelembagaan Amerika Serikat.

Satu-satunya pegangan PKT saat ini adalah ekonomi Tiongkok yang relatif masih stabil. Namun, dengan dimulainya perang dagang dengan AS, di satu sisi stabilitas ekonomi akan terancam, dan di sisi lain akan membuat faktor penyebab utama dari terjadinya krisis serius dalam ekonomi Tiongkok, yaitu sistem PKT yang korup, makin jelas terlihat oleh mata rakyat Tiongkok.

Sistem komunis itulah yang menjadi halangan bagi ekonomi Tiongkok untuk menyatu dan sejalan dengan standar ekonomi dunia. Pada saat yang sama, banyak kelompok kepentingan PKT berharap untuk tetap mempertahankan kekuasaan PKT dengan alasan tak lain adalah agar mereka bisa terus menggerogoti kekayaan Tiongkok.

Kepala Negara Tiongkok Xi Jinping. (internet)

Setelah Xi Jinping memegang tampuk pemerintahan, lebih dari lima tahun membasmi korupsi, meskipun berhasil memperkokoh kekuasaannya, tetapi ia dan rezimnya telah menyakiti  hampir semua kelompok kepentingan PKT, lawan-lawan politik dari kelompok kepentingan ini sedang menanti kesempatan untuk melakukan balas dendam.

Diplomasi internal dan eksternal Xi Jinping, terutama kegagalan atau mengalah dalam perang dagang akan menjadi pemicu krisis baru Tiongkok atau bahkan membuat jabatannya terancam. Namun, pada dasarnya krisis dan perselisihan di pimpinan puncak PKT  disebabkan oleh faktor sistem kelembagaan PKT. Dalam perang dagang dengan AS, Tiongkok  nyaris tidak memiliki kartu untuk dimainkan, sehingga keluar sebagai pecundang sudah kelihatan.

Partai Komunis Tiongkok sekarang menghadapi kekacauan baik di internal maupun eksternal, muncul masalah pada hubungan diplomatik dan pertikaian pun terjadi terus menerus. Sistem kelembagaan PKT merusak perkembangan ekonomi Tiongkok, tetapi bahaya dan risiko yang muncul karenanya secara konsisten terus dialihkan kepada rakyat Tiongkok.

Di bawah rezim PKT saat ini, jika pihak berwenang masih menjunjung tinggi panji Marxisme-Leninisme, masih ingin merebut atau mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan model asli PKT, maka jalan keluar di depan bagaikan simpul yang tak terurai, krisis akan terus  timbul.

Ini adalah alasan utama mengapa Zhongnanhai terjebak dalam bahaya kudeta. (Sin/asr)

Share

Video Popular