BEIJING — Bank-bank kecil di provinsi-provinsi Tiongkok dipengaruhi oleh upaya-upaya Beijing untuk memangkas kelebihan kapasitas industri dan mengurangi polusi sedang dilanda serentetan pinjaman yang tidak berkinerja, menurut laporan dari lembaga pemeringkat kredit Tiongkok.

Beberapa pemberi pinjaman kecil di provinsi seperti Henan dan Guizhou telah melihat rasio kecukupan modal mereka jatuh ke mendekati nol atau bahkan negatif karena peningkatan kredit macet, kata laporan tersebut.

Para pemberi pinjaman regional yang menghadapi kesulitan tersebut telah tertutupi oleh pertumbuhan pinjaman buruk secara keseluruhan yang lambat di Tiongkok tahun ini saat bank-bank besar yang didukung negara mencatat pertumbuhan laba yang lebih cepat.

Setidaknya 13 kreditur, termasuk 10 bank komersial pedesaan, telah mengalami penurunan peringkat kredit atau prospek mereka diturunkan ke negatif sejak awal 2017, menurut analisis Reuters dari 271 laporan yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga pemeringkat domestik.

Laporan tersebut mengaitkan peningkatan kredit macet tersebut dengan kegagalan usaha kecil seperti kios-kios ekonomi lokal, serta penutupan pabrik dan tambang sebagai bagian dari kampanye Beijing untuk memangkas kelebihan kapasitas dan mengekang polusi, melukai kemampuan perusahaan untuk membayar kembali utang-utangnya.

Banyak bank kecil berlomba untuk mengisi kembali modal mereka untuk mengumpulkan dana tambahan sebagai ketentuan terhadap kredit macet. Serentetan penurunan rating membuat lebih sulit bagi sebagian dari mereka untuk mengumpulkan dana di pasar modal.

“Bank-bank kecil adalah kekuatan utama untuk pembiayaan usaha kecil,” kata Xu Chengyuan, kepala analis di Golden Credit Rating International, menambahkan bahwa “di bawah kendala-kendala modal, mereka harus mengurangi pinjaman.”

Untuk saat ini, provinsi Guizhou, Henan, Liaoning, Shandong, dan Jilin memiliki rasio kredit macet tertinggi di Tiongkok, menurut bank investasi Tiongkok, Citic Securities.

Bagaimanapun risiko bisa menyebar ke lebih banyak wilayah jika perusahaan semakin terpukul oleh kampanye deleveraging keuangan Beijing, yang telah mendorong biaya pinjaman dan mengurangi ketersediaan kredit, kata para analis.

Risiko lebih signifikan di bank komersial pedesaan karena mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan diversifikasi dalam hal geografi, industri, atau nasabah, kata para analis. Banyak bank terlibat dalam pembiayaan bayangan (shadow financing) yang tidak diatur, yang memungkinkan mereka untuk menghindari aturan yang membatasi pengungkapan kredit pemberi pinjaman.

Bank Komersial Pedesaan Jiaohe Jilin diturunkan peringkatnya menjadi A dari A+ pada bulan Februari oleh Shanghai Brilliance Credit Rating & Investors Service sebagian karena ia telah meminjamkan 601 juta yuan (sekitar $88,4 juta) dalam pinjaman bayangan melalui produk kepercayaan kepada pembuat telepon Tiongkok, Cosun Group, yang gagal dalam Januari 2017 di tengah skandal perbankan bayangan profil tinggi yang melibatkan 14 lembaga keuangan.

Pemerintah lokal juga menekan bank-bank kecil yang memiliki hubungan dengan otoritas Tiongkok untuk mendukung sarana-sarana pembiayaan pemerintah daerah yang keruh, kata seorang sumber yang menangani produk-produk tersebut.

Perusahaan jasa keuangan milik negara, Guosen Securities, memperkirakan bahwa bank-bank Tiongkok terkena utang 28 triliun yuan (sekitar $4,1 triliun) yang secara implisit dijamin oleh pemerintah lokal, termasuk 17,2 triliun yuan (sekitar $2,5 triliun) dalam pinjaman on-balance sheet dan 10,5 triliun yuan. (sekitar $1,5 triliun) dikategorikan sebagai apa yang disebut investasi non-standar, yang biasanya mengacu pada pinjaman-pinjaman bayangan.

Beberapa sarana pendanaan pemerintah daerah telah melewatkan pembayaran karena kesulitan pembiayaan kembali dan pertumbuhan ekonomi lokal yang lemah, menyeret bank-bank regional ke dalam perjuangan keras terhadap meningkatnya kredit macet dan proteksionisme birokrasi. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular