London – Badan Pengawas Obat Uni Eropa (EMA), yang pindah dari London ke Amsterdam karena Brexit, digugat ke pengadilan oleh tuan tanah di Inggris. Tuan tanah menuntut agar EMA membayar tagihan sewa yang diperkirakan sekitar 500 juta pound (sekitar 660 juta dolar/sekitar 9,2 trilun rupiah).

Pengawas Obat dan Makanan Uni Eropa itu menandatangani kontrak selama 25 tahun pada tahun 2014, di distrik Canary Wharf, London. Akan tetapi, kini mereka mendapati Brexit secara tidak terduga, membawa frustrasi dalam perjanjian sewa lahan yang berpotensi menghasilkan konflik hukum.

Pemilik properti Canary Wharf T1 Ltd tidak setuju dan telah membawa kasus ini ke pengadilan. Mereka meminta hakim untuk menegakkan perjanjian sewa. Tagihan luar biasa untuk sisa sewa, termasuk biaya layanan dan tarif, adalah sekitar 500 juta pound.

“Kami merasa bahwa EMA (European Medicines Agency) harus terus mematuhi kewajiban hukum mereka yang dinegosiasikan secara bebas,” kata seorang juru bicara.

“Kami telah bekerja dengan EMA selama sembilan bulan untuk melihat apakah mereka dapat menyelesaikan masalah ini. Namun, kami sedang mencari deklarasi ini sehingga EMA jelas bahwa kewajiban kontraknya tidak akan terpengaruh oleh Brexit.”

EMA mempekerjakan sekitar 900 staf dan merupakan institusi UE terbesar yang dipengaruhi oleh keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit).

Kepindahannya ke kantor baru di negara Uni Eropa lainnya telah memicu kekhawatiran di kalangan produsen obat. Mereka takut ada gangguan potensial terhadap regulasi obat-obatan. Ini juga akan membutuhkan redistribusi yang signifikan dari pekerjaan pengawasan, mengikuti hilangnya para ahli Inggris dari sistem regulasi.

Seorang juru bicara EMA mengatakan, agensi tidak akan bersedia berkomentar mengenai kasus hukum yang sedang berlangsung. (Reuters/The Epoch Times)

Video Pilihan :

Share

Video Popular