London – Inggris akan meminta Rusia mengekstradisi dua orang tersangka pelaku serangan racun pelumpuh (agen) saraf. Tersanga diduga melakukan serangan agen saraf terhadap mata-mata mantan Rusia, Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury, Inggris.

Guardian pada 6 Agustus 2018, mengatakan jaksa telah menyelesaikan permintaan ekstradisi dan siap untuk diserahkan kepada pihak Rusia. Surat kabar itu mengutip narasumber dan pihak pemerintah dan petugas keamanan.

Sergei Skripal, adalah seorang mantan kolonel intelijen militer Rusia. Dia pernah mengkhianati puluhan agen Rusia, dengan menyerahkan data mereka kepada dinas mata-mata asing Inggris, MI6.

Skripal dan putrinya, Yulia, ditemukan tidak sadarkan diri di bangku umum di Salisbury pada awal Maret 2018. Inggris menyalahkan Rusia atas keracunan itu dan mengidentifikasi racun itu sebagai Novichok.

Novichok merupakan sejenis agen saraf mematikan yang dikembangkan oleh militer Soviet pada 1970-an dan 1980-an. Rusia telah berulang kali membantah keterlibatan mereka dalam serangan itu.

Permintaan ekstradisi kemungkinan akan ditolak oleh Rusia. Itu juga berisiko membuat Moskow meradang, serta meningkatkan ketegangan diplomatik antara London dan Moskow. Krisis diplomatik terburuk sejak Perang Dingin.

Konstitusi Rusia melarang ekstradisi warga Rusia ke negara lain. Pejabat Rusia pernah menolak menyerahkan orang-orang yang dicari atas pembunuhan Alexander Litvinenko dengan isotop radioaktif langka pada 2006.

Penyelidikan oleh ratusan polisi dan perwira intelijen Inggris berhasil menyatukan kepingan-kepingan bukti yang mengarah pada dua tersangka orang Rusia. Aparat gabungan berhasil mendeteksi masuknya mereka ke Inggris hingga kepergian mereka, lapor The Guardian.

Kementerian dalam negeri Inggris dan Dinas Penuntutan Mahkota menolak berkomentar.

Motif untuk menyerang Skripal, pria 66 tahun yang dipertukarkan dengan mata-mata yang disetujui Kremlin pada tahun 2010, masih belum jelas. Motif mereka menggunakan agen saraf eksotis itu juga tidak jelas. Racun pelumpuh saraf itu memiliki kaitan yang sangat erat dengan masa lalu Soviet-Rusia.

Keputusan untuk menekan ekstradisi juga menghasilkan perdebatan di dalam pemerintahan Inggris. Mereka terbagi antara kelompok yang ingin meningkatkan respon terhadap Rusia dan kelompok yang melihat permintaan itu sebagai tindakan politik yang sia-sia, masih menurut Guardian. (Reuters/The Epoch Times)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular