Sumber energi baru dapat ditemukan di posisi paling penting untuk pengembangan kendaraan listrik pada abad 21, dan Tiongkok mulai mendominasi dalam mengendalikan pasokan dunia dari apa yang disebut minyak bumi baru: mineral kobalt.

Kobalt adalah salah satu komponen kunci dari baterai lithium-ion yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan listrik (EV).

Sementara produsen-produsen mobil listrik Jepang berjuang untuk mendapatkan mineral tersebut dan meminta bantuan pemerintah selama pertemuan industri 24 Juli di Tokyo, perusahaan Tiongkok telah mampu mengendalikan salah satu sumber utama dunia: tambang di negara Afrika tengah Republik Demokratik Kongo , yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia.

Lebih dari separuh kobalt dunia berasal dari Kongo, dan kontrol Tiongkok atas industri kobalt seolah-olah “memiliki kontrol penuh atas ladang minyak di Timur Tengah,” seorang pejabat yang tidak dikenal di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang mengatakan pada Nikkei.

Nikkei, mengutip informasi dari lembaga pemerintah tersebut, Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang, menunjukkan bahwa Tiongkok telah menyediakan US$9 miliar dalam bantuan keuangan ke Afrika dari tahun 2007 hingga 2009.

tambang minyak bumi kobalt terbesar
Seorang wanita dan seorang pria memisahkan kobalt dari lumpur dan batu di dekat tambang antara Lubumbashi dan Kolwezi, Republik Demokratik Kongo, pada 31 Mei 2015. (Federico Scoppa / AFP / Getty Images)

Bantuan tersebut merupakan contoh sempurna dari “diplomasi dolar” Tiongkok, di mana rezim Tiongkok menyediakan sejumlah besar pinjaman dan investasi ke negara-negara asing untuk mengerahkan pengaruhnya di wilayah-wilayah tersebut.

Baru-baru ini, pada November 2017, Tiongkok memberikan bantuan keuangan sebesar $6 juta dalam bantuan kemanusiaan darurat ke Kongo, menurut pengumuman pada saat itu oleh Kementerian Perdagangan Tiongkok. Investasi ini memungkinkan Tiongkok untuk mendapatkan hak penambangan tertentu untuk deposit tembaga dan kobalt di Kongo. Koneksi Tiongkok yang mengakar kuat di Kongo telah mencegah perusahaan-perusahaan Jepang mengakses sumber-sumber mineral ini.

Praktik Ketenagakerjaan yang Buruk

Namun, industri pertambangan kobalt Kongo telah mendapat sorotan karena praktik-praktik ketenagakerjaan yang melanggar hukum. Laporan November 2017 oleh Amnesty International mendokumentasikan eksploitasi pekerja anak-anak Kongo. Kobalt yang ditambang oleh anak-anak dan orang dewasa berakhir di sebuah perusahaan pengolahan Tiongkok yang disebut Huayou Cobalt, menurut laporan Amnesty International. Kobalt, pada gilirannya, berubah menjadi baterai-baterai yang digunakan untuk elektronik dan mobil-mobil listrik.

Beberapa pembuat elektronik yang telah mulai menyelidiki rantai pasokan dalam kaitannya dengan Huayou Cobalt termasuk Apple, Dell, dan Hewlett Packard.

Huayou Cobalt, perusahaan publik di Shanghai Stock Exchange, berkantor pusat di provinsi pesisir Zhejiang.

“Semuanya telah menjadi Tiongkok,” kata Richard Muyej, gubernur Provinsi Lualaba di Kongo, pada konferensi pertambangan pada 15 Juni, menurut Bloomberg. Lualaba memiliki sebagian besar deposit tembaga dan kobalt negara tersebut.

pertambangan kobalt di kongo afrika
Seorang anak mematahkan bebatuan yang diambil dari penambangan kobalt di tambang tembaga dan lubang kobalt di Lubumbashi, Republik Demokratik Kongo, pada 23 Mei 2016. (Junior Kannah / AFP / Getty Images)

Cengkeraman kobalt Kongo oleh Tiongkok semakin dipererat Juni ini, ketika Persatuan Perusahaan Pertambangan dengan China Capital, Union of Mining Companies with Chinese Capital (USMCC), yang beranggotakan 35 negara telah didirikan atas prakarsa kedutaan Tiongkok di Kongo, menurut Bloomberg. Termasuk dalam asosiasi tersebut adalah Huayou Cobalt dan China Nonferrous Metal Mining Group yang dikelola pemerintah.

CATL dan Subsidi Pemerintah

Keinginan Tiongkok untuk mengendalikan pasokan kobalt terhubung dengan keinginannya untuk mengembangkan industri kendaraan listriknya. Teknologi Amperex Kontemporer, Contemporary Amperex Technology (CATL), yang didirikan pada tahun 2011 dan berkantor pusat di Kota Ningde di Provinsi Fujian Tiongkok selatan, saat ini adalah produsen sel baterai terbesar di dunia untuk daya EV.

CATL memiliki kehadiran yang kuat di Kongo. Menurut beberapa media Tiongkok, CATL memiliki kendali atas perusahaan Pantai Gading, Societe de Mines, yang memiliki hak penambangan untuk sumber lithium di Kongo. Lithium adalah mineral penting lainnya yang digunakan untuk memproduksi baterai lithium-ion yang digunakan untuk daya EV.

Menurut sebuah artikel 25 Mei oleh portal berita Tiongkok, Sina, CATL juga merupakan pemegang saham perusahaan Kanada, Tanalex Resources, yang memiliki hak penambangan di Kongo untuk sumber lithium, kobalt, dan tantalum.

Pada bulan Maret, CATL mengumumkan bahwa mereka meningkatkan taruhannya di perusahaan pertambangan yang berbasis di Quebec, North American Lithium, untuk menjadi pemegang saham pengendali sebesar 90 persen saham perusahaan tersebut, menurut media berbahasa Inggris, China Daily, yang dikelola pemerintah Tiongkok. Sebuah tambang di wilayah Quebec, di mana ada deposit lithium yang signifikan.

CATL yang melejit dengan cepat menjadi produsen baterai dunia memiliki banyak hal dengan program subsidi rezim Tiongkok. Menurut laporan Juli oleh publikasi yang dikelola negara, The Time Weekly, Beijing memberikan subsidi 59 miliar yuan (sekitar $8,6 miliar) pada tahun 2015, dan 83 miliar yuan (sekitar $12,1 miliar) pada tahun 2016, berdasarkan data pemerintah pusat yang tidak lengkap dan perkiraan The Time Weekly.

Meskipun tidak ada data publik yang tersedia yang merinci jumlah total yang diterima CATL dari negara selama bertahun-tahun, Yicai, surat kabar bisnis utama Tiongkok, melaporkan bahwa CATL secara terbuka mengakui menerima total 440 juta yuan (sekitar $64,2 juta) dari otoritas pemerintah tahun 2017.

Di Tiongkok, pemerintah daerah juga memberikan subsidi pada bisnis-bisnis lokal. Menurut surat kabar corong rezim Tiongkok, People’s Daily, pemerintah provinsi Fujian, tempat CATL berbasis, menyediakan total 110 juta yuan (sekitar $16 juta) dalam bentuk subsidi penelitian dan pengembangan untuk 431 perusahaan teknologi, dan 12,7 juta (sekitar $1,85 juta) untuk yang pindah ke CATL.

BYD, produsen baterai Tiongkok yang berbasis di kota Shenzhen, Tiongkok selatan, menerima 630 juta yuan (sekitar $92 juta) dalam subsidi pemerintah pada kuartal pertama tahun ini, menurut laporan 22 Mei oleh surat kabar Tiongkok, Southern Metropolis Daily.

kobalr sumber energi mobil listrik
Mobil listrik BYD E6 Tiongkok ditampilkan selama hari pratinjau pers kedua di Pameran Otomotif Internasional Amerika Utara 2010 di Detroit, pada 12 Januari 2010. (Stan Honda / AFP / Getty Images)

Rejim Tiongkok juga menempatkan kebijakan-kebijakan istimewa untuk melindungi produsen-produsen baterai domestik dari persaingan asing.

Misalnya, pada tahun 2014, tiga produsen baterai lithium Korea Selatan — Samsung SDI, LG Chem, dan SK Innovation (SKI) —semua mulai berinvestasi di Tiongkok melalui usaha patungan yang akan memproduksi baterai lithium di pabrik-pabrik Tiongkok. Namun pada Juni 2015, Beijing meluncurkan program subsidi istimewa, terbuka hanya untuk pembuat EV domestik jika mereka menggunakan baterai yang diproduksi di dalam negeri, menurut majalah yang dikelola negara, Electronic Engineering & Product World (EEPW). Program subsidi tersebut memaksa tiga perusahaan Korea Selatan menjadi terabaikan pada akhir tahun 2016: SKI menghentikan produksi baterainya di Beijing, ketika berjuang untuk menangani pesanan yang semakin berkurang karena produsen-produsen EV Tiongkok.

Program Perekrutan Luar Negeri

Selain subsidi pemerintah yang besar dan kuat, industri baterai Tiongkok yang berkembang pesat juga bergantung pada kebijakan nasional lain: program rekrutmen untuk memikat para profesional Tionghoa dan asing untuk datang bekerja di negara tersebut.

Salah satu program rekrutmen tersebut adalah Rencana Seribu Talenta, dimulai pada tahun 2008 untuk menarik para pekerja di bidang sains dan teknologi untuk bekerja di Tiongkok melalui penawaran paket keuangan yang menguntungkan. Tujuan dari program ini adalah untuk memajukan sektor teknologi Tiongkok dan akhirnya memungkinkan industri Tiongkok untuk menggantikan rantai pasokan global.

Dua karyawan di CATL telah direkrut berdasarkan rencana tersebut. Liang Chengdu adalah direktur penelitian dan pengembangan di lembaga penelitian CATL. Setelah mendapatkan gelar doktornya di bidang kimia dari University of Tennessee di Knoxville pada tahun 2005, Liang dipekerjakan sebagai ilmuwan di Laboratorium Nasional Oak Ridge (ORNL), di mana ia memimpin sejumlah proyek yang didanai oleh Departemen Energi AS.

bahan mineral kobalt sebagai bahan bakar mobil listrik
Seorang pria mengisi kendaraan listrik di titik pengisian daya di Linan, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, Tiongkok, pada 2 Maret 2016. (STR / AFP / Getty Images)

Selain itu, Robert Galyen, saat ini CFO (chief financial officer) CATL, direkrut berdasarkan rencana pada tahun 2012. Menurut situs berita Tiongkok yang dikelola pemerintah china.com.cn, Galyen diberi paket keuangan sebesar 4,1 juta yuan ($598.932 ). Menurut laman LinkedIn-nya, ia memiliki karier yang luas di Amerika Serikat, termasuk 21 tahun di General Motors; sembilan tahun di Tawas, sebuah perusahaan pengujian baterai; dan dua tahun di divisi e-car Magna International, pemasok otomotif Kanada yang berbasis di Ontario.

Pada tahun 2014, Galyen dianugerahi gelar “ahli terkemuka nasional” oleh program Rencana Seribu Talenta, menurut halaman LinkedIn-nya.

CATL juga mampu merekrut pebakat-pebakat luar negeri melalui program rekrutmen di bawah otoritas provinsi Fujian. Menurut beberapa media Tionghoa, CATL mempekerjakan tujuh profesional melalui program rekrutmen lokal yang dikenal sebagai Rencana Seratus Talenta. (ran)

Share

Video Popular