Moskow – Alexei Nikolayev, salah satu dari 56 juta warga Rusia yang memilih kembali Presiden Rusia Vladimir Putin pada pemilu Maret lalu. Dia sudah menghitung kemungkinan melemahnya mata uang rubel. Itu artinya lebih sedikit belanja di luar negeri, harga-harga lebih mahal di dalam negeri, dan beberapa usaha untuk mengencangkan ikat pinggang.

Tetapi bagi Nikolayev, seorang perancang grafis berusia 56 tahun yang menikmati perjalanan ke luar negeri dan anggur impor, menyalahkan negara-negara Barat. Dia tidak menyalahkan Putin, untuk rasa sakit ini. Dia mengaku tidak menyesal memilih seorang politisi yang menurutnya adalah orang yang tepat untuk membimbing Rusia melalui masa-masa sulit.

“Ini menyakitkan dan itu tidak menyenangkan, tetapi itu tidak akan mengubah sikap politik saya,” ujar Nikolayev.

Dia mengatakan bahwa rubel melemah 10 persen nilainya terhadap dolar AS sejak akhir Juli. Sebagian besar didorong oleh sanksi baru AS terhadap Rusia.

“Sebenarnya, aneh kedengarannya, itu hanya akan memperkuat keyakinan saya. Mereka (Barat) mencoba menghancurkan Rusia.”

Pandangan Nikolayev bahwa Putin tidak dapat disalahkan dipegang secara luas di kalangan orang Rusia, menurut Stepan Goncharov, seorang sosiolog di lembaga survei Levada Center.

“Orang-orang tidak benar-benar memahami dinamika di belakangnya dan presiden, secara tradisional, aman dari kritik,” kata Goncharov.

Narasi di Rusia bahwa merosotnya rubel adalah hasil dari plot Barat yang memiliki gema langsung dengan Turki, sekutu Rusia yang mata uang lira-nya merosot ke rekor terendah pada 13 Agustus 2018. Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan negaranya adalah target perang ekonomi. Dia mengatakan Turki akan memboikot beberapa produk impor AS sebagai pembalasan.

Di Rusia, rubel yang jatuh menyebabkan rasa sakit bagi sebagian orang. Harga barang impor cenderung naik. Liburan luar negeri juga menjadi lebih mahal.

Irina Turina, juru bicara Uni Industri Perjalanan Rusia, mengatakan agen perjalanan telah melihat permintaan untuk paket liburan turun 10-15 persen pekan lalu, karena volatilitas rubel.

“Orang-orang yang belum membayar penuh untuk liburan mereka bergegas untuk melunasi sisanya bahkan jika mereka tidak memiliki kewajiban untuk melakukannya,” kata Turina.

Dia mengatakan, orang-orang khawatir bahwa saldo terutang akan dihitung ulang menjadi lebih tinggi, karena nilai tukar yang kurang menguntungkan.

“Orang-orang yang belum membeli paket liburan juga berhenti untuk berencana,” katanya. “Ini bukan hanya tentang membayar liburan Anda, Anda perlu mengeluarkan uang begitu Anda sampai di sana.”

Namun demikian, tanda-tanda awal dan anekdot menunjukkan banyak orang Rusia, bersikap tabah. Mereka sudah sejak lama terbiasa pada kondisi mata uang nasional yang bergejolak. Mereka bahkan menantang, bersiap dalam menghadapi rubel yang jatuh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan pekan lalu bahwa sanksi terhadap Rusia tidak ada hubungannya dengan perilaku Moskow di tempat-tempat seperti Ukraina atau Suriah. Sanksi itu dimotivasi oleh kebutuhan AS untuk menjaga rival ekonomi mereka jatuh.

Pandangan itu mendapatkan dukungan dari banyak orang Rusia yang telah mendengarkan melalui TV negara. Mereka terbius retorika anti-Barat Kremlin selama bertahun-tahun.

Orang Rusia lainnya juga optimis tentang penurunan rubel yang mengejutkan. Karena mereka telah melihat dan menjalani yang lebih buruk sebelumnya.

“Tidak ada yang selamanya, sesuatu akan berubah entah bagaimana,” kata penduduk Moskow, Gennady Tsurkan. “Semuanya akan selalu berubah menjadi lebih baik. Saya pikir hari ini tidak akan lama, saya percaya itu.”

Penurunan rubel, jauh lebih buruk daripada krisis mata uang setelah 2014. Ketika itu kemerosotan ekonomi bertepatan dengan kejatuhan dari aneksasi Rusia terhadap Krimea di Ukraina.

Eksposur Rusia terhadap fluktuasi rubel secara signifikan lebih sedikit daripada empat tahun lalu.

Sejak saat itu, perusahaan-perusahaan Rusia telah mengurangi pinjaman luar negeri mereka. Negara juga memotong jumlah yang diperlukan untuk menaikkan pasar utang Barat, dan negara itu mengimpor lebih sedikit barang yang harus dibayar dengan dolar.

Rating persetujuan Putin yang masih tinggi telah merosot dalam beberapa bulan terakhir. Tetapi lembaga survei menunjukkan bahwa itu akibat rencana reformasi pensiun, bukan karena kelemahan rubel.

Jajak pendapat mengatakan bahwa pelemahan rubel dapat memicu rasa ketidakpuasan yang muncul di antara beberapa orang Rusia yang dipicu oleh reformasi pensiun. Tidak jelas apakah itu akan mengkatalisasi protes atau mempengaruhi lanskap politik yang Putin telah capai selama lebih dari 18 tahun.

“Jika itu memiliki efek, itu akan menjadi tidak langsung, memperbesar ketidakpuasan atas kondisi hidup yang jatuh,” kata Goncharov dari Levada Center.

Nikolayev, desainer grafis pendukung Putin, menanggapi dengan filosofis.

“Ini seperti sinar matahari atau salju. Saya tidak bisa mempengaruhinya. Mungkin saya harus minum anggur yang berbeda. Atau mungkin saya harus membelinya, (uangnya) bukan (untuk) dua pasang sepatu. Itu menyakitkan tetapi tidak sesakit itu.” (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds