London – Inggris menekan Uni Eropa untuk meningkatkan sanksi terhadap Rusia, pada 21 Agustus 2018. London mengatakan negara itu harus bahu-membahu dengan Amerika Serikat, yang memberondong Moskow dengan pembatasan ekonomi baru bulan ini.

Menteri luar negeri Inggris, Jeremy Hunt, mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya. Setelah serangan senjata kimia di kota Salisbury, Inggris, Uni Eropa harus menerapkan lebih banyak tekanan untuk memastikan Rusia tetap berpegang pada aturan internasional.

“Hari ini Britania Raya meminta sekutu-sekutunya untuk melangkah lebih jauh dengan menyerukan Uni Eropa untuk memastikan sanksi-sanksi terhadap Rusia bersifat komprehensif, dan bahwa kita benar-benar berdiri bahu membahu dengan AS,” kata Hunt kepada hadirin Washington, dalam pidato utama pertamanya sejak pengangkatannya pada bulan Juli 2018.

“Itu berarti memanggil dan menanggapi pelanggaran dengan satu suara dimanapun dan kapanpun itu terjadi, dari jalanan Salisbury hingga jantung Krimea.”

Ditanya tentang pidato Hunt, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Inggris memiliki pendapat yang terlalu tinggi tentang dirinya. Inggris dinilai mencoba memaksakan ‘kebijakan Rusia’ Inggris pada UE dan Amerika Serikat, kantor berita RIA melaporkan.

Para pejabat Uni Eropa mengatakan Inggris belum mengajukan sanksi baru terhadap Rusia, kepada 27 negara anggota Uni Eropa lainnya.

Inggris, Uni Eropa, dan Amerika Serikat menyalahkan Rusia atas serangan agen (racun pelumpuh) saraf terhadap agen ganda Rusia di Salisbury awal tahun ini. Kremlin menyangkal keterlibatan mereka dalam serangan itu. Walau investigasi Inggris memastikan pelaku adalah warga negara Rusia dan sudah bersembunyi ke negara asalnya.

Mengutip insiden Salisbury, Washington telah memberlakukan sanksi terhadap Moskow yang mencakup barang-barang yang terkait keamanan nasional. Mereka menjanjikan tindakan lebih keras, kecuali Rusia memberikan ‘jaminan yang dapat diandalkan’, serta tidak akan lagi menggunakan senjata kimia.

Sanksi itu memicu aksi jual di pasar saham Rusia dan meningkatkan biaya pinjaman negara. Kedua kondisi itu akan cenderung memburuk jika gelombang sanksi ekonomi kedua AS diberlakukan.

Uni Eropa Terbagi
Inggris sedang mempersiapkan untuk meninggalkan Uni Eropa bulan Maret mendatang. Namun, saat ini mengikuti kebijakan sanksi tingkat Uni Eropa mengenai Rusia, yang disepakati oleh semua negara anggota.

Uni Eropa baru-baru ini setuju untuk memperbarui sanksi terhadap Rusia. Sanksi itu terkait dengan aneksasi Krimea bagian dari Ukraina oleh Rusia, dan kegiatan lain di wilayah tersebut.

Tetapi Uni Eropa belum memberlakukan sanksi ekonomi lebih lanjut yang secara khusus terkait dengan Salisbury. Meskipun, Uni Eropa mengecam keras Moskow dan bergabung dengan aksi internasional untuk mengusir para pejabat Rusia setelah serangan itu. Tindakan terhadap Rusia selama ini termasuk pembatasan keuangan dan ekspor senjata.

Setiap sanksi baru Uni Eropa membutuhkan suara bulat di antara 28 negara anggota. Sanksi ekonomi saat ini terhadap Rusia masih sama sampai akhir Januari 2019, serta pembatasan melakukan bisnis dengan Krimea.

Beberapa negara seperti Polandia dan negara-negara Baltik mendukung sikap hawkish atau militan Inggris terhadap Rusia. Beberapa negara anggota lainnya termasuk Italia, Austria, dan Yunani menganjurkan lebih banyak komunikasi dengan Moskow.

Dalam pidato 21 Agustus, Menlu Hunt juga mengkritik Tiongkok, seperti Rusia yang anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Kritik disampaikan atas apa yang dia lihat sebagai tindakan tidak beradab Rusia atas Krimea dan senjata kimia.

Pada Brexit, di mana negosiasi menjadi macet karena tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan terlampaui, dengan pendekatan Uni Eropa, Hunt mengulangi seruannya agar blok itu menunjukkan fleksibilitas.

“Sekarang adalah waktu bagi Komisi Eropa untuk terlibat dengan pikiran terbuka dengan proposal yang adil dan konstruktif yang dibuat oleh Perdana Menteri [Theresa May],” katanya.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengejek pidato Hunt dengan mengatakan, “Rekan-rekan kami di Inggris memiliki pendapat yang agak tinggi tentang diri mereka sendiri.”

“Sebuah negara yang meninggalkan Uni Eropa, dalam kerangka yang disebut Brexit, ingin sekali memaksakan kebijakan luar negerinya ke Uni Eropa dan, karena ternyata, London ingin memaksakan ‘kebijakan Rusia-nya’ kepada Washington,” sambungnya. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Share

Video Popular