Washington DC – Negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok berlangsung selama 2 hari. Negosiasi berakhir tanpa menghasilkan terobosan berarti, Kamis (23/8/2018).

Gedung Putih menyebutkan bahwa kedua belah pihak telah membahas topik tentang bagaimana mewujudkan hubungan ekonomi yang adil, berimbang dan saling menguntungkan. Itu termasuk menyelesaikan masalah yang terkait struktural ekonomi Tiongkok komunis.

Lindsay Walters, juru bicara Gedung Putih dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, “Kami berterima kasih kepada delegasi Tiongkok yang datang ke Amerika Serikat untuk berpartisipasi dalam perundingan. Delegasi AS dan Tiongkok juga membahas masalah yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual dan kebijakan pengalihan teknologi.”

Lindsay juga mengatakan bahwa pejabat tingkat menengah AS yang menghadiri perundingan akan menjelaskan kepada kepala masing-masing instansi, terkait topik yang dibahas.

Pertemuan tersebut adalah putaran keempat negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Menteri Keuangan AS David Malpass, dan delegasi Tiongkok dipimpin oleh Wakil Menteri Perdagangan Wang Shouwen.

Ini juga merupakan pertemuan tatap muka pertama antara pejabat AS dan Tiongkok sejak 3 Juni 2018. Kedua pihak berusaha mencari cara untuk meredakan konflik perdagangan yang semakin intensif dan mengatasi perang tarif.

Negosiasi tidak mencapai kemajuan berarti
Wall Street Journal mengutip pernyataan dari sumber yang akrab dengan negosiasi. Media itu melaporkan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Tiongkok gagal mencapai kemajuan yang berarti. Sehingga negosiasi dinilai mempersempit prospek untuk mencapai kemungkinan kesepakatan yang dapat dibuat pada saat KTT Trump-Xi Jinping di bulan November mendatang.

WSJ pekan lalu mengatakan jika negosiasi dapat berjalan lancar, Trump dan Xi Jinping dapat mengadakan pembicaraan lebih intensif pada KTT multilateral yang akan diselenggarakan pada bulan November. Sehingga masalah perselisihan dalam perdagangan dapat segera diakhiri.

Sumber menjelaskan bahwa banyak waktu pertemuan digunakan untuk mendiskusikan ulang topik yang ‘itu-itu saja’. Mereka mengatakan bahwa delegasi Tiongkok tampaknya belum siap untuk menyelesaikan kekhawatiran pemerintahan Trump tentang defisit perdagangan bilateral, dan kekhawatiran dari perusahaan-perusahaan AS yang dipaksa pihak Beijing untuk mentransfer teknologi ke rekan usaha patungan mereka di Tiongkok.

Seorang pejabat senior AS yang akrab dengan perundingan dengan Tiongkok mengatakan, “Untuk mencapai hasil positif dari kegiatan-kegiatan (negosiasi) ini, delegasi Tiongkok seharusnya menyelesaikan masalah yang diangkat oleh Amerika Serikat, ini yang belum kita lihat.”

Pada hari Senin (20/8/2018) Trump mengatakan bahwa dirinya kurang optimis dan tidak menaruh harapan besar pada pertemuan tersebut. Trump juga tidak menjadwalkan waktu (deadline) untuk menyelesaikan masalah sengketa perdagangan dengan Tiongkok.

Tingkat pemahaman dari pihak Tiongkok terhadap kebijakan perdagangan AS
Saat ini di Gedung Putih, kelompok garis keras terhadap Tiongkok berada di atas angin. Namun mereka tidak jelas apakah Tiongkok siap mengajukan penawaran yang dapat memenuhi kebijakan perdagangan pemerintah AS?

Sumber yang akrab dengan masalah ini mengatakan bahwa, dalam beberapa pertemuan tampaknya hanya Liu He, Wakil Perdana Menteri yang telah memimpin tim delegasi Tiongkok untuk bernegosiasi dengan AS, yang memiliki pemahaman yang jelas tentang tuntutan pemerintah AS.

Sumber mengatakan, pihak Tiongkok membagi persyaratan AS menjadi tiga bagian. Sekitar 30 persen hingga 40 persen dari permintaan AS yang melibatkan Tiongkok untuk membeli barang-barang AS. Pejabat Tiongkok beranggapan bahwa bagian dari permintaan ini dapat segera dipenuhi.

Kemudian, ada 30 hingga 40 persen permintaan Amerika yang melibatkan liberalisasi pasar. Seperti memungkinkan perusahaan keuangan asing untuk memiliki saham yang lebih besar dari perusahaan Tiongkok dan hak operasi yang lebih luas, porsi tersebut yang dikatakan mungkin akan memerlukan beberapa tahun negosiasi.

Sisanya, 20 hingga 40 persen terkait persyaratan AS untuk merubah kebijakan industri Tiongkok. Di antaranya termasuk mengakhiri subsidi yang tidak adil dari pemerintah kepada perusahaan teknologi tinggi Tiongkok, yang memungkinkan perusahaan data AS untuk beroperasi (di Tiongkok) tanpa gangguan.

Demikian juga dengan tekanan untuk mengakhiri pengalihan paksa teknologi perusahaan-perusahaan AS kepada Tiongkok. Beijing sepertinya tidak akan setuju dan membutuhkan sangat banyak waktu dan kesempatan negosiasi mengenai banyak persyaratannya.

Pejabat AS mengatakan, mereka percaya bahwa cara ini telah menyoroti pihak Tiongkok yang tidak memahami prioritas Amerika Serikat, terutama dalam perlindungan hak kekayaan intelektual.

Kenaikan tarif senilai 16 miliar dolar AS tetap diberlakukan walau negosiasi sedang berjalan
Pada hari yang sama, Amerika Serikat memberlakukan kenaikan tarif atas barang-barang impor dari Tiongkok senilai 16 miliar dolar AS. Daftar barang itu termasuk 279 jenis produk antara lain produk semikonduktor, plastik, bahan kimia dan peralatan kereta api.

Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan bahwa pemberlakuan kenaikan tarif terhadap komoditas tersebut berkaitan dengan pemerintah Tiongkok yang ingin memberikan kemampuan bersaing kepada industri teknologi tinggi mereka melalui program ‘Made in China 2025’.

Pemerintah Tiongkok sebaliknya juga memberlakukan tarif pembalasan atas 333 jenis produk AS, termasuk batu bara, skrap tembaga, bahan bakar, produk baja, kendaraan umum, peralatan medis dan beberapa lainnya.

Minggu ini, Kantor Perwakilan Dagang AS juga mengadakan sidang dengar pendapat publik untuk berkonsultasi mengenai kenaikan tarif 25 persen atas impor barang dari Tiongkok senilai 200 miliar dolar AS. Jumlah tersebut akan menyita sekitar 50 persen dari komoditas yang diekspor Tiongkok ke AS. Tarif ini mungkin akan diberlakukan pada bulan September.

Meskipun data ekonomi saat ini menunjukkan bahwa kerugian perdagangan bersifat prematur, tetapi kenaikan tarif mulai memaksa perusahaan untuk menyesuaikan rantai pasokan dan harga. Beberapa perusahaan AS sedang mencari cara untuk mengurangi ketergantungan mereka dari Tiongkok.

Seorang eksekutif perusahaan besar AS di Tiongkok kepada Reuters mengatakan bahwa, jika tarif terus berlanjut untuk jangka waktu yang lama, perusahaan akan mulai mengalihkan beberapa jalur pengadaan dan produksinya ke negara lain. Begitu dilakukan, itu akan menjadi tidak dapat diubah selama bertahun-tahun.

Perwakilan dari Amerika, Uni Eropa dan Jepang akan bertemu di Washington DC, Jumat (24/8/2018). Mereka akan melanjutkan pembicaraan tentang bagaimana memberikan tekanan pada Tiongkok komunis melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atau cara-cara penekanan lainnya agar Tiongkok mau bernegosiasi. (Xu Zhenqi/ET/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds