oleh Lan Minghao

Konflik perdagangan antara Tiongkok dengan Amerika Serikat yang berkepanjangan mulai berdampak. Bahkan harga saham di bursa berjatuhan dan nilai tukar mata uang Renminbi pun terdepresiasi. Akibatnya, membuat kondisi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang dalam beberapa tahun terakhir telah melamban menjadi semakin tidak kondusif.

Data menunjukkan bahwa pada bulan Juli 2018, pertumbuhan total penjualan ritel Tiongkok turun menjadi 8,8%, munculnya data konsumsi penduduk mencapai level terendah terakhir kali adalah pada 15 tahun yang lalu saat terjadi deflasi pada periode deflasi.

Selama tujuh bulan pertama tahun 2018, total pajak penghasilan pribadi penduduk meningkat sebesar 20,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Itu juga telah melampaui tingkat setahun penuh pada tahun 2015.

‘Financial Times’ Inggris melaporkan bahwa kedua angka tersebut sulit untuk dipalsukan. Tetapi masing-masing justru menunjukkan bahwa tingkat kenaikan pendapatan penduduk dalam beberapa tahun terakhir semakin terbatas, bahkan meningkat pada arah yang berlawanan.

Baca juga : Devaluasi Yuan Menutupi Masalah Mendasar Dalam Perekonomian

Satu-satunya penjelasan yang mungkin bisa diterima akal adalah, kesenjangan antara si kaya dan si miskin di Tiongkok semakin melebar, dan ini membuat sosiologi ekonomi negara komunis itu menunjukkan kerentanan yang berbeda daripada di masa lalu.

Dilaporkan bahwa pekerja migran yang berperan sebagai kekuatan utama urbanisasi dan kemakmuran Tiongkok. Tingkat pertumbuhan pendapatan mereka dari yang 21,2% pada tahun 2011 menurun drastis menjadi 6,4% pada tahun 2017. Bahkan lebih kecil dari tingkat pertumbuhan PDB tahun itu.

Peningkatan pendapatan bagi kelompok berpendapatan rendah bahkan lebih lamban. Migrasi melambat, kesempatan kerja atau lapangan kerja berkurang secara signifikan, sehingga pemadatan bertahap terjadi pada struktur ekonomi dan sosial.

Namun, di beberapa kota yang memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan mereka, lonjakan harga sewa terjadi tidak tanggung-tanggung.

Data menunjukkan bahwa uang sewa bangunan pada sepuluh kota teratas Tiongkok telah mengalami peningkatan pada bulan Juli. Uang sewa di Beijing, Shanghai dan Shenzhen meningkat lebih tajam. Uang sewa Beijing pada bulan Juli secara rata-rata naik 3,1% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, di beberapa komunitas lebih kecil bahkan naik lebih dari 30%.

Hal ini telah membuat uang sewa yang sudah tidak murah, bahkan tidak saja menjadi beban ekonomi yang berat, tetapi sudah menjadi ‘Jerami terakhir yang mematahkan punggung unta’ bagi kelompok berpenghasilan rendah. Sehingga menciptakan sejumlah besar pengungsi penyewa.

Laporan berpendapat bahwa kenaikan uang sewa pada beberapa kota tingkat satu merupakan peristiwa hampir pasti, karena kesenjangan antara kaya dan miskin selalu memperkuat diri.

Kenaikan harga sewa hanya sebuah permulaan, untuk kota-kota di mana anak-anak muda terkonsentrasi, biaya makanan, pakaian, perumahan dan transportasi memiliki risiko peningkatan yang lebih tajam.

Selain itu, jatuhnya platform keuangan Peer to Peer (P2P) sejak pecahnya bulan Juni telah melahirkan puluhan juta pengungsi keuangan yang datang ke Beijing untuk menyampaikan petisi. Pihak berwenang Tiongkok telah memblokir, mencegat, memulangkan dan bahkan menangkap rakyatnya yang menjadi pengungsi keuangan ini.

Baca juga : Korban Pinjaman Peer to Peer (P2P) di Tiongkok Bicara Kemalangan, Krisis yang Direncanakan?

Menurut laporan, para pengungsi keuangan ini telah mengumpulkan sejumlah kekayaan sebelumnya, dan mungkin saja mereka telah memperoleh kenaikan status kelas ekonomi, tetapi dalam menghadapi kerapuhan lingkungan, rupanya untuk mempertahankan kekayaan mereka di Tiongkok adalah hal yang tidak mudah.

Semakin besar kesenjangan pendapatan, semakin serakah modal, semakin banyak modal di pasar lokal, dan semakin banyak penipuan keuangan. Berbagai proyek keuangan online, proyek mata uang digital, perangkap yang dirancang untuk orang kaya lebih sulit untuk dicegah, banyak orang yang secara tidak sengaja atau kurang hati-hati lalu menjadi pengungsi keuangan.

Menurut laporan itu, sumber dari penurunan tingkat konsumsi masyarakat, munculnya pengungsi penyewa dan pengungsi keuangan adalah akibat kesenjangan yang semakin lebar antara orang kaya dan orang miskin dan memburuknya struktur pendapatan sosial.

Ketiga fenomena ini secara langsung mencengkram tiga penderitaan masyarakat : Pertama, kaum miskin secara bertahap terpinggirkan oleh semakin majunya ekonomi arus utama. Kedua, yang kaya menghadapi ketidakpastian besar penghapusan aset. Dan ketiga adalah, lapisan yang di tengah terjepit seperti sandwich.

He Jiangbing, seorang pakar keuangan di Tiongkok memperingatkan bahwa jika konflik perdagangan Tiongkok – AS terus berkelanjutan, gelembung real estat dan gelembung keuangan Tiongkok akan meletus yang dapat mengakibatkan ekonomi Tiongkok langsung memasuki model crash. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds