Buenos Aires – Mata uang Argentina terus terdepresiasi, sehingga memaksa pemerintah Argentina mengambil tindakan darurat untuk menyelamatkan.
Mata uang Argentina, peso dalam perdagangannya pada hari Kamis (30/8/2018), setelah pasar dibuka mengalami anjlok sebesar 15 persen. Selanjutnya harga peso bergerak pada level terendah sepanjang sejarah.

Menurut Associated Press, bank sentral Argentina dengan cepat mengambil tindakan. Mereka menaikkan suku bunga acuannya sebesar 15, sehingga kini menjadi 60 persen. Ini merupakan suku bunga tertinggi di dunia. Tindakan radikal ini bertujuan untuk mengekang inflasi dan mengurangi kekhawatiran tentang tren negatif yang terjadi.

Sejak awal tahun, mata uang Peso telah kehilangan hampir 50 persen dari nilainya.

Presiden Argentina, Mauricio Macri meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mempercepat realisasi pinjaman senilai 50 miliar dolar AS yang akan digunakan untuk meredakan kegelisahan pasar.

Macri pada hari Rabu melalui akunnya di Facebook menyebutkan, “Kami telah melihat sikap kurangnya kepercayaan pada pasar, terutama mengkhawatirkan mengenai kapasitas pembiayaan kami di tahun 2019. Keputusan ini dimaksudkan untuk menghilangkan segala ketidakpastian yang muncul.”

Namun langkah yang diambil Mauricio Macri, tampaknya tidak memiliki efek yang bagus.

IMF mengatakan pihaknya dapat menyesuaikan jadwal untuk pinjaman kepada Argentina yang disepakati pada bulan Mei lalu. Ketua IMF, Christine Lagarde mengatakan pada hari Rabu bahwa revisi diperlukan mengingat belum sepenuhnya memprediksi kondisi pasar internasional yang lebih buruk.

Dalam beberapa bulan terakhir, ekonomi AS telah tumbuh kuat. Bank Sentral AS, the Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 13 Juni 2018. Tekanan untuk menaikkan lagi suku bunga saat ini masih sangat tinggi.

“Karena ekonomi AS menguat, ini memiliki efek berantai di pasar negara berkembang di dunia. Banyak dari negara-negara ini telah meminjam banyak uang di pasar internasional, terutama ketika dolar murah, mereka meminjam banyak uang dalam mata uang dolar AS,” demikian Eswar Prasad, seorang ekonom global di Cornell University memberitakan kepada Radio Publik NPR.

Prasad menambahkan bahwa sekarang, ketika suku bunga AS naik, itu akan memberi tekanan pada pasar negara berkembang di seluruh dunia.

Selain Argentina, Prasad mengatakan bahwa mata uang Turki, Afrika Selatan dan Indonesia telah terpengaruh dalam tingkatan yang berbeda. Karena dolar AS terus menguat, menarik lebih banyak investasi internasional untuk keluar dari pasar-pasar negara berkembang ini.

Di Argentina, dukungan IMF belum tentu menjadi berita yang disambut baik masyarakat. Banyak orang Argentina masih menyalahkan keruntuhan ekonomi negara mereka yang terjadi hampir 20 tahun yang lalu, kepada reformasi yang dipromosikan oleh organisasi internasional.

Sebagaimana yang diamati oleh BBC; “Pergi ke Dana Moneter Internasional untuk mencari bantuan merupakan tindakan Presiden Macri yang paling tidak populer bagi rakyat Argentina.” (Lin Nan/ET/Sinatra/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds