Moskow — Rusia sedang bereksperimen dengan teknologi yang lebih baik dan tepat untuk memblokir layanan online tertentu. Teknologi yang diprediksi tidak akan tanpa sengaja mengganggu lalu lintas internet lainnya.

Uji coba digelar setelah Moskow gagal dalam usaha menghentikan layanan pesan yang dilarang, Telegram Messenger. Telegram telah dilarang di Rusia karena menolak mematuhi perintah pengadilan untuk mengizinkan akses oleh badan keamanan kepada pesan terenkripsi pengguna.

Ketika pihak berwenang mulai mencoba memblokir layanan Telegram pada bulan April, mereka secara tidak sengaja memutuskan akses pengguna Rusia ke banyak layanan online yang tidak terkait. Itu termasuk panggilan suara pada layanan pesan Viber, aplikasi berbasis cloud untuk mobil Volvo, dan aplikasi yang mengontrol kamera video Xiaomi.

Karena ‘cegukan’ itu, upaya untuk memblokir Telegram ditangguhkan. Sehingga layanan itu masih dapat diakses, hingga saat ini.

“Sejak 6 Agustus 2018, pengawas komunikasi negara Rusia, Roskomnadzor dan badan keamanan negara, FSB, menguji sistem yang dirancang untuk memungkinkan pemblokiran layanan tertentu yang lebih tepat,” menurut risalah pertemuan oleh para pejabat untuk membahas rencana tersebut.

Anton Pinchuk, salah satu pemilik perusahaan teknologi Rusia, Protei, menurut berita acara, diundang untuk ambil bagian dalam pengujian. Pinchuk menegaskan kepada Reuters bahwa pengujian sedang berlangsung. Dia mengatakan perusahaannya menolak untuk berpartisipasi.

Upaya sebelumnya untuk memblokir Telegram melibatkan penargetan alamat-alamat Internet Protocol yang dioperasikan oleh Amazon, Google, dan lainnya yang ‘meng-hosting’ lalu lintas Telegram. Masalahnya adalah bahwa alamat IP ini sering menjadi tuan rumah lalu lintas untuk beberapa layanan lain yang juga terpengaruh.

Sistem yang sedang diuji ini, menggunakan teknologi yang disebut ‘Deep Packet Inspection’. Teknologi ini beroperasi dengan cara yang lebih dalam, menganalisis lalu lintas Internet, mengidentifikasi aliran data dari layanan tertentu, dan memblokirnya.

Namun, eksekutif di dua perusahaan yang diundang untuk ambil bagian mengatakan ujicoba awal tidak berhasil. Sebabm masih ada layanan aplikasi selain yang ditargetkan, tanpa sengaja turut kena blokir. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds