Berlin – Jerman menyerahkan tengkorak, tulang, dan sisa-sisa jenasah suku bangsa yang dibantai lebih dari seabad yang lalu kepada Namibia. Tengkorak suku Nama itu sebelumnya digunakan untuk penelitian yang kini didiskreditkan. Sebab, penelitian itu berusaha untuk membuktikan superioritas ras Eropa kulit putih.

Dalam apa yang oleh para sejarawan sebut sebagai genosida pertama abad ke-20, tentara Kaiser Wilhelm dari Jerman membantai sekitar 65.000 etnis Herero dan 10.000 etnis Nama. Penduduk asli itu dibantai dalam operasi militer dari tahun 1904 hingga 1908, setelah pemberontakan melawan pengambilalihan tanah terhadap kolonial Jerman. Pada saat itu, Namibia berada di bawah kekuasaan kolonial Jerman.

Pada upacara gereja di Berlin pada 29 Agustus 2018, delegasi Namibia menerima kerangka dari perwakilan Kementerian Luar Negeri Jerman. Mereka akan dibawa ke ibukota Namibia, Windhoek, pada 31 Agustus 2018. Menteri pendidikan Namibia, Katrina Hanse-Himarwa mengatakan pemerintah akan membuat panitia untuk mendiskusikan dan memutuskan apakah akan mengubur atau memamerkan tengkorak yang dipulangkan.

“Hari ini, kami ingin melakukan apa yang seharusnya dilakukan beberapa tahun yang lalu. Untuk mengembalikan keturunan mereka, kerangka leluhur yang menjadi korban genosida pertama abad ke-20,” kata Petra Bosse-Huber, seorang uskup Protestan Jerman.

Anggota delegasi menghadiri upacara untuk menyerahkan kembali kerangka suku Nama dari Jerman ke Namibia, dari era genosida 1904-1908 terhadap suku Herero dan Nama, di Berlin pada 29 Agustus 2018. (Christian Mang/Reuters/The Epoch Times)

Jerman telah mengakui ‘tanggung jawab moral’ untuk pembantaian tersebut. Akan tetapi, mereka menghindari klaim kompensasi. Jerman juga menghindari untuk membuat permintaan maaf resmi atas genosida tersebut.

Setelah diabaikan selama beberapa dekade, sejarah kolonial Jerman semakin menarik perhatian. Jerman, yang kehilangan semua wilayah kolonialnya setelah Perang Dunia I, adalah kekuatan kolonial terbesar ketiga dunia setelah Inggris dan Prancis, yang kehilangan wilayah mereka setelah Perang Dunia II.

Selama operasi militer 1904–1908, di tempat yang kemudian disebut Jerman Afrika Barat Daya, Reich Jerman, mengirim bala bantuan untuk menumpas pemberontakan oleh anggota suku lokasl. Suku lokal memberontak atas pengusiran suku asli dari tanah mereka, dan perekrutan warga asli untuk kerja paksa. Hereros telah menewaskan 123 pedagang, pemukim, dan tentara Jerman.

Selain pembantaian, ribuan Hereros didorong ke padang pasir sehingga mati kehausan dan kelaparan. Sisanya yang selamat, dikirim ke kamp konsentrasi kerja paksa. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds