Moskow – Sebuah ledakan terjadi di sebuah kafe bertema perang di Ukraina timur pada hari Jumat (31/8/2018) akhir pekan lalu. Ledakan itu dikabarkan menewaskan pemimpin separatis yang didukung Rusia yang memerangi pasukan Ukraina sejak 2014.

Alexander Zakharchenko, adalah perdana menteri dari Republik Rakyat Donetsk (DPR) yang mengklaim wilayah Ukraina Timur. Kematiannya menunjukkan prospek suram untuk menyelesaikan konflik yang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang.

Pemberontak dan pihak berwenang Rusia menyalahkan pemerintah Ukraina. Sebagian menuding bahwa Amerika Serikat memiliki peran dalam serangan itu. Sementara itu, seorang pejabat tinggi keamanan Ukraina mengatakan ledakan itu mungkin hasil dari perseteruan antar-separatis, atau operasi oleh pasukan khusus Rusia.

Wakil komandan militer pemberontak, Eduard Basurin mengatakan ledakan di ibukota wilayah Donetsk disebabkan oleh bom yang ditanam di restoran itu. Cafe itu memiliki nama “Separ” (Pisah) untuk menghormati aksi separatis dan dihiasi dengan jaring kamuflase yang digantung dari atap.

Alexander Timofeev, menteri pendapatan dan pajak bagi kelompok separatis, juga terluka serius dalam ledakan itu. Menurut kantor berita pemberontak, DAN, pada September 2017, Timofeev juga terluka dalam pemboman lain di Donetsk, ibukota wilayah itu.

Republik Rakyat Donetsk, bersama dengan republik separatis di negara bagian tetangga, Luhansk, berjuang melawan pasukan Ukraina sejak 2014. Pada tahun yang sama, Zakharchenko menjadi perdana menteri separatis DPR. Lebih dari 10.000 orang tewas dalam konflik itu.

Pertempuran turun signifikan setelah para pemimpin Rusia, Ukraina, Jerman dan Perancis menandatangani perjanjian di Minsk, Belarusia, pada tahun 2015. Perjanjian digagas untuk mengakhiri kekerasan di kawasan tersebut. Tetapi sebagian besar ketentuan perjanjian tetap tidak dipenuhi dan bentrokan kembali pecah secara sporadis.

“Pembunuhan kepala DPR membuat perjanjian Minsk tidak masuk akal,” kata juru bicara parlemen Rusia, Alexander Volodin.

Presiden Rusia Vladimir Putin memuji Zakharchenko, yang berusia 42 tahun, sebagai ‘pemimpin orang sejati’. Putin bahkan berjanji kepada penduduk Donetsk bahwa rakyat Rusia akan selalu bersama mereka.

Denis Pushilin, juru bicara parlemen separatis, menyalahkan pasukan Ukraina atas ledakan itu. “Ini agresi terbaru dari pihak Ukraina. Serangan itu dilakukan oleh pasukan operasi khusus Ukraina, di bawah kendali dinas khusus AS,” tuding Pushilin.

“Alih-alih memenuhi perjanjian Minsk dan menemukan cara untuk menyelesaikan konflik internal, partai perang Kiev mengimplementasikan skenario teroris,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova tentang kematian Zakharchenko. “Setelah gagal memenuhi janji damai, tampaknya mereka memutuskan untuk mengubahnya menjadi pertumpahan darah.”

Igor Guskov, kepala staf Dinas Keamanan Ukraina, membantah tuduhan keterlibatan. “Kami memiliki alasan untuk percaya bahwa kematian Zakharchenko mungkin merupakan hasil dari konflik kriminal internal di antara para pemberontak. Tapi kami tidak mengecualikan dugaan, bahwa itu adalah upaya dinas khusus Rusia untuk menyingkirkan sosok menjijikkan itu.”

Ada beberapa pembunuhan atau percobaan pembunuhan terhadap pemimpin pemberontak terkemuka dalam beberapa tahun terakhir. Namun, semua insiden itu tidak pernah bisa dibuktikan, bahwa penyerang pro-Kiev yang bertanggung jawab. Penyelidikan yang mengarah pada perselisihan internal pemberontak atau keinginan Moskow untuk menyingkirkan individu tertentu juga tidak pernah dilakukan.

Di antara pemimpin separatis terkemuka yang pernah menjadi sasaran serangan adalah mantan pemimpin Luhansk Igor Plotnitsky, yang terluka parah pada tahun 2016. Ketika itu, sebuah bom meledak di dekat mobilnya. Kemudian ada Arsen Pavlov, seorang pemimpin skuadron yang dikenal sebagai ‘Motorola’, meninggal ketika lift gedung apartemennya dibom. Ada pula milisi Mikhail Tolstykh, yang kantornya diyakini terkena tembakan roket.

Rusia membantah menyediakan pasukan atau peralatan untuk separatis meski ada dugaan luas bahwa hal itu telah dilakukan. Rusia diduga memasok peluncur misil mobile yang ditemukan tim penyelidik internasional. Peluncur roket itu diduga kuat digunakan untuk menembak jatuh pesawat jet penumpang Malaysia, saat terbang di atas wilayah pemberontak pada 2014, dan menewaskan 209 orang yang ada di dalam pesawat.

Pemberontakan di Donetsk dan Luhansk muncul segera setelah Presiden Ukraina pro-Rusia Viktor Yanukovych lengser dari kekuasaan. Dia lengser ditengah protes massal pada Februari 2014. Didorong oleh aneksasi Krimea oleh Rusia, para pemimpin pemberontak di dua wilayah Ukraina Timur itu pada awalnya berharap daerah mereka juga akan dicaplok oleh Rusia. (AP/The Epoch Times)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular