Bern – Negara-negara yang dilanda perang saudara di Timur Tengah selama ini dilarang oleh Peraturan Pemerintah Swiss untuk membeli senjata buatan mereka. Namun, kebijakan itu nampaknya akan segera menjadi usang dan tidak akan berlaku lagi.

Sebab, partai penguasa Swiss berniat melonggarkan aturan ekspor-senjata. Partai Rakyat Swiss (SVP) baru-baru ini menyatakan bahwa mereka akan meminta pemerintah untuk mengurangi dan melonggarkan peraturan tentang ekspor senjata. Dua komite di parlemen sudah menandatangani kebijakan baru, yang akan dapat diterapkan oleh pemerintah melalui peraturan perundang-undangan.

Negara-negara yang sebelumnya ‘terlarang’, selanjutnya akan dapat membeli senjata dari Swiss jika kebijakan lama resmi dihapus dengan terbitnya peraturan baru. Partai penguasa dan para pendukung industri senjata api menilai bahwa rakyat membutuhkan dukungan pemerintah dalam peningkatan lapangan kerja pada sektor industri pertahanan.

Pada 2017, perusahaan Swiss memenangkan izin pemerintah untuk mengekspor 446,8 juta franc Swiss (sekitar 6,8 triliun rupiah) persenjataan ke 64 negara. Jumlah ini naik 8 persen dari tahun sebelumnya.

Hampir 50 persen senjata itu diekspor ke negara-negara Eropa lainnya. Akan tetapi, pangsa pasar Eropa pada 2016 adalah 52 persen. Ketika persentase pangsa pasar di Eropa menurun, persentase ekspor senjata Swiss ke Amerika dan Asia justru meningkat.

“Aturan baru, juga akan memberikan dampak positif bagi negara-negara konflik. Itu akan memungkinkan negara-negara dalam konflik bersenjata untuk mendapatkan sistem pertahanan rudal buatan Swiss, untuk melindungi warganya,” kilah Werner Salzmann, ketua komite keamanan majelis rendah parlemen Swiss, kepada Reuters.

Rencana pelonggaran impor senjata ini sesungguhnya sempat digoyang isu tidak sedap. Laporan media Swiss mengungkap bahwa granat buatan Swiss kemungkinan jatuh ke tangan militan di Suriah.

Granat tangan buatan perusahaan negara Swiss, RUAG, diduga kuat ditimbun anggota kelompok teroris ISIS di Suriah. Granat itu diduga dijual kepada Uni Emirat Arab pada 15 tahun lalu. Surat Kabar SonntagsBlick melaporkan dugaan itu pada 2 September 2018. Mereka menyertakan bukti berupa foto-foto senjata yang disita dari para milisi di Suriah.

Dalam sebuah pernyataan, RUAG mengatakan granat yang ditimbun ISIS, kemungkinan bagian dari 250.000 buah yang dikirimkan 15 tahun lalu ke Uni Emirat Arab. Bisa jadi, granat itulah yang dipindahkan ke Suriah.

“Memang ada kasus di tahun 2003/2004. Seorang pelanggan RUAG membuat pernyataan ‘pengguna akhir’ palsu. Mereka gagal memenuhi persyaratan itu,” ujar pernyataan RUAG.

Ini bukan pertama kalinya granat RUAG dikirim ke UEA, dan muncul di Suriah. Pada tahun 2012, granat mereka ditemukan dalam penguasaan Tentara Pembebasan Suriah, yang memerangi dan memberontak kepada pemerintah Bashar al-Assad.

RUAG mengatakan pihaknya sudah tidak mengirimkan granat ke negara-negara Arab sejak periode 2003/2004. RUAG adalah eksportir utama senjata Swiss. Perusahaan Swiss lainnya, Rheinmetall Jerman juga memproduksi senjata api. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular