Pinjaman senilai US$2,5 miliar dari Tiongkok ke utilitas (perusahaan layanan publik) terbesar di Afrika Selatan telah mendapat sorotan ketika anggota parlemen setempat menuduh rezim Tiongkok melakukan “diplomasi jebakan utang.”

Tiongkok telah secara agresif mendorong negara-negara Afrika melakukan investasi-investasi yang terlihat seperti berguna bagi agenda nasionalnya.

Di Kongo, Tiongkok telah menyediakan miliaran bantuan, memungkinkannya untuk mengamankan hak penambangan kobalt, bahan yang merupakan komponen kunci untuk membuat baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan listrik, sebuah industri yang ditargetkan oleh Beijing untuk pembangunan. Di Kenya, Tiongkok telah membiayai proyek-proyek infrastruktur dengan anggaran besar, yang telah membuat negara Afrika tersebut tidak mampu membayar pinjamannya kepada entitas-entitas Tiongkok.

Pada forum kerjasama baru-baru ini di Beijing, Tiongkok telah menjanjikan $60 juta untuk negara-negara Afrika, menjanjikan bahwa utang pemerintah dari pinjaman tanpa bunga Tiongkok yang jatuh tempo pada akhir tahun akan dihapuskan bagi negara-negara Afrika yang paling miskin.

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah memulai perjalanan ke negara-negara Afrika pada bulan Juli, kesepakatan-kesepatan bisnis yang mencolok. Di antara mereka adalah pinjaman US$2,5 miliar dari China Development Bank untuk membantu utilitas raksasa Afrika Selatan yang penuh skandal dan utang, Eskom, tetap bertahan. Perusahaan tersebut memasok lebih dari 90 persen listrik negara dan memiliki 220 miliar rand (US$ 17 miliar) utang yang dijamin negara, menurut Reuters. Hingga akhir Maret, Eskom memiliki utang 399 miliar rand ($30 miliar), menurut Bloomberg.

Partai Aliansi Demokratik Afrika Selatan telah menyuarakan keprihatinan tentang sifat dari pinjaman tersebut, dan kemungkinan bahwa utang akan membebani negara tersebut.

“Diplomasi jebakan utang Tiongkok telah menjebak utilitas listrik Zambia dan tidak diragukan lagi akan menjadi kejam terhadap utilitas listrik Afrika Selatan jika Eskom gagal membayar pinjaman 33 miliar rand dari CDB [China Development Bank],” akun Twitter resmi partai tersebut mencatat pada 9 September. Perusahaan utilitas Zambia yang dimaksud adalah Zesco, yang dilaporkan media Afrika saat ini sedang dalam pembicaraan dengan perusahaan Tiongkok untuk menyerahkan kendali, setelah Zambia tidak dapat membayar utangnya.

Di Afrika Selatan, pemimpin Aliansi Demokrat, Mmusi Maimane, mengancam litigasi (proses pengadilan) terhadap Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, jika akhirnya tidak mengungkapkan syarat dan ketentuan pinjaman dari Tiongkok, menurut laporan 9 September oleh EWN Eyewitness News, sebuah outlet berita Afrika Selatan.

afrika selatan terjebak utang
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada konferensi pers bersama selama Forum Kerjasama Tiongkok-Afrika yang diadakan di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 4 September 2018. (Lintao Zhang / AFP / Getty Images)

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Eskom Phakamani Radebe mengatakan Eskom akan mendanai pembayaran untuk pinjaman tersebut sendiri, yang mewakili 62 persen dari pendanaan yang diperlukan Eskom untuk tahun keuangan ini, katanya.

Pada 11 September, Ramaphosa telah memberikan lebih banyak rincian tentang pinjaman tersebut saat menjawab pertanyaan dari majelis parlemen yang lebih tinggi, Dewan Provinsi Nasional. Pinjaman ini akan digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara, yang harus dibayarkan Eskom mulai tahun 2020, melalui 20 cicilan dalam 10 tahun, menurut laporan EWN.

Presiden telah menolak gagasan tentang telah terjebak oleh utang ke Tiongkok. “Kita sangat waspada tentang kehilangan aset kita dan tidak akan menyerahkan Afrika Selatan ke negara lain atau entitas lain apa pun, yang dapat saya jamin,” kata EWN mengutip Ramaphosa.

Ramaphosa menambahkan bahwa China Development Bank tidak memiliki kepemilikan aset Eskom secara langsung atau tidak langsung.

Bagaimanapun kekhawatiran yang diungkapkan oleh beberapa anggota parlemen Afrika Selatan dapat dimengerti, mengingat rekam jejak di negara-negara seperti Djibouti dan Kenya, di mana proyek-proyek bersama Tiongkok telah menyebabkan Beijing menjadi kreditor terbesar negara tersebut dan memungkinkan rezim Tiongkok untuk memberikan pengaruh dalam tawar-menawar. (ran)

Rekomendasi video:

Share

Video Popular