Rejim Tiongkok sedang melakukan pemantauan terhadap internet dengan strategi baru: menciptakan isu gosip online sendiri.

Strategi ini melibatkan kader-kader dari masyarakat yang akan membuka akun media sosial dan mempublikasikan konten internet untuk membentuk opini publik secara langsung, Chen Yixin, kepala Political and Legal Affairs Commission (PLAC) Partai Komunis Tiongkok, mengatakan pada pertemuan 4 September dengan pejabat-pejabat senior. PLAC mengontrol aparat keamanan Tiongkok.

“Memanfaatkan keuntungan PLAC dalam sumber daya untuk mengatur subyek isu dan membuat topik-topik hangat,” kata Chen, pada pelatihan “penulis profesional dalam sistem PLAC yang memiliki pemikiran internet.”

Para penulis harus dapat membuat berita utama yang menarik yang membuat para netizen langsung mengklik, dan melompat pada setiap peristiwa besar untuk mempengaruhi opini publik dan menyebarkan propaganda dengan segera, “untuk mengambil inisiatif membantu Partai dengan berbagi beban,” tambahnya.

Pemantauan internet dan aparat sensor Tiongkok, yang mencakup berbagai lembaga, terkenal karena menghapus konten apa pun yang dianggap tidak pantas oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), bahkan menangkap dan menghukum mereka yang menyatakan ketidaksetujuan terhadap Partai. Namun, ini adalah pertama kalinya PLAC secara terbuka mengumumkan bekerja di bidang pembuatan percakapan internet.

Partai mempekerjakan warga untuk menulis postingan yang memuji kebijakan Partai atau memperingatkan mereka yang tidak setuju, yang dikenal sebagai tentara “50 sen”, karena mereka dibayar 50 sen per postingan. Namun Chen mengatakan bahwa tentara “50 sen” tidak cukup.

“Jumlah mereka tidak cukup sementara kualitasnya lemah,” jadi mereka seperti “sekelompok tentara yang berkeliaran,” adalah kesimpulan dari pertemuan tersebut, menurut laporan media pemerintah. Sebaliknya, anggota Partai harus menumbuhkan para penulis berbakat yang dapat menarik jutaan pengikut untuk akun Weibo mereka. Menurut survei online 2015 dari tentara “50 sen” yang disewa oleh rezim Tiongkok, ada sekitar 10 juta mahasiswa perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam posting online untuk Partai.

Rezim Tiongkok telah mengintensifkan kontrolnya atas internet, karena para pemimpin Partai berusaha untuk mempererat cengkeraman mereka di kancah budaya online yang besar dan beragam yang populer di kalangan pemuda Tiongkok. Semuanya, mulai dari parodi video hingga meme viral dan percakapan yang tidak setuju, berada di bawah sensor Tiongkok.

Platform-platform internet mempekerjakan staf mereka sendiri untuk menyensor informasi, seperti 1.000 orang yang disewa Weibo, setara dengan Twitter di Tiongkok, untuk melaporkan konten “berbahaya”.

Semangat Partai yang semakin meningkat untuk mengendalikan opini publik juga datang pada saat kepemimpinan tersebut mencoba untuk memadamkan kritik yang menentang propaganda nasionalis Partai yang agresif. Beberapa yang vokal, termasuk para akademisi, telah menyalahkan propaganda tersebut karena meningkatkan kewaspadaan dan tekanan internasional terhadap Tiongkok.

Pada bulan Agustus, Partai mengadakan pertemuan dua hari tentang propaganda dan ideologi yang dihadiri oleh para pejabat dari outlet media utama negara dan regulator internet. Pemimpin Tiongkok Xi Jinping memberikan pidato dimana dia berusaha meyakinkan para peserta bahwa upaya-upaya propaganda Partai adalah benar.

Xi mengatakan kebijakan propaganda Partai sejak 2012, ketika ia berkuasa, telah menjunjung tinggi Marxisme dan sosialisme dengan karakteristik Tiongkok. Upaya propaganda masa depan perlu diletakkan di depan dan di tengah, menurut media yang dikelola negara Xinhua.

“Menjunjung tinggi ruang internet yang bersih dan benar,” laporan tersebut mengutip ucapan Xi. (ran)

Rekomendasi video:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds