oleh Li Yun

Sebagai pihak yang terlibat langsung dalam Perang Korea, Tiongkok komunis bersikeras untuk ikut serta sampai deklarasi akhir perang dicetuskan. Tetapi dalam Eastern Economic Forum Russia, Xi Jinping menekankan bahwa pemeran utama pada isu denuklirisasi semenanjung itu adalah Amerika Serikat, Korea Utara dan Korea Selatan.

Xi Jinping menyingkirkan Tiongkok dari urusan tersebut memicu komentar sejumlah pihak luar. Sebuah media Korea Selatan mencoba untuk menguak apa latar belakangnya.

Media Korea Selatan ‘Doong-A Ilbo’ pada 13 September melaporkan, dalam Eastern Economic Forum yang diadakan di Rusia pada 12 September, Xi Jinping menekankan bahwa masyarakat internasional perlu memberikan jaminan untuk sistem perdamaian di semenanjung Korea. Xi juga menekankan pihak yang mampu memecahkan masalah denuklirisasi adalah para pihak yang terlibat, yaitu Korea Utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Xi Jinping menjelaskan, biar pemasang lonceng yang melepas lonceng (alias biar pihak yang memasalahkan yang mengatasi masalah), hanya pihak-pihak Amerika Serikat, Korea Selatan dan Korea Utara 3 negara ini yang mewujudkan bebas nuklir di Semenanjung Korea dan menciptakan perdamaian, baru kita mampu membantu mereka. Mencapai hasil yang baik melalui upaya semua.

Laporan beranggapan, dari ucapan Xi Jinping itu dapat diartikan bahwa pemeran utama dalam isu denuklirisasi semenanjung itu adalah AS, Korea Utara dan Korea Selatan dan Tiongkok hanya akan berperan sebagai pembantu dalam prosesnya.

Sebagai pihak yang terlibat dalam Perang Korea, Tiongkok komunis bersikeras untuk ikut serta sampai deklarasi akhir perang dicetuskan. Tetapi sikap ini sekarang diubah Xi Jinping.

Analis percaya bahwa perubahan sikap Xi Jinping ini sangat mungkin karena terkait dengan Presiden Trump yang baru-baru ini menyalahkan Tiongkok yang banyak melakukan tindakan yang menyebabkan terganggunya proses negosiasi nuklir AS – Korut. Penyampaian sikap Xi Jinping ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses denuklirisasi semenanjung.

Namun, menurut media Jepang pada 12 September bahwa Xi Jinping juga mengatakan bahwa denuklirisasi Korea tidak mungkin dapat dicapai melalui satu atau dua kali pembicaraan. Sekarang pemeran utama isu tersebut adalah Korea Utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat, tiga negara tersebut perlu menjalin kerjasama.

Dalam pernyataan bersama AS – Korut yang ditandatangani di Singapura pada 12 Juni lalu, Korea Utara berjanji akan sepenuhnya meninggalkan nuklir. AS berjanji akan menghentikan latihan militer dengan Korea Selatan, tetapi sanksi masih berlanjut sampai DPRK merealisasikan janjinya.

Namun, sejak saat itu, Korea Utara menunjukkan sikap non-positif berupa kurang serius. Dan janji membongkar fasilitas senjata nuklir pun belum terlaksana.

Pada 7 September, sejumlah media mengungkapkan bahwa Korea Utara tampaknya terus mempercepat produksi bahan untuk senjata nuklir, bahkan memperluas bangunannya.

Pada saat yang sama, Tiongkok komunis juga membuka kembali perjalanan wisata warga Tiongkok ke Korea Utara, menunjukkan tanda-tanda telah mulai melonggarkan sanksi  terhadap Korea Utara. Pada bulan November tahun lalu, Tiongkok telah membatasi perjalanan wisata ke DPRK.

Analisa komentator bernama Tang Hao mengatakan salah satu alasan Korea Utara menolak untuk menyerahkan senjata nuklir adalah faktor Tiongkok komunis. Mengapa? Ini dikarenakan tiongkok komunis tidak ingin Kim Jong-un memihak Amerika Serikat, Selain mempertimbangkan geopolitik dari Korea Utara yang dapat dijadikan bamper dalam menghadapi Korea Selatan, Jepang atau AS, Korea Utara juga dapat dijadikan ‘kartu AS’ dalam bernegosiasi dengan masyarakat internasional.

Selain itu, Tiongkok telah diketahui masyarakat internasional sebelumnya sebagai pendukung utama bagi Korea Utara dalam mengembangkan senjata nuklir.

Jika denuklirisasi terlaksana, Amerika Serikat dan masyarakat internasional diijinkan untuk datang ke Korea Utara untuk memeriksa, maka dukungan Tiongkok komunis akan terbukti, terbuka. Permain saling memanfaatkan antara Tiongkok komunis dengan Korea Utara akan terekspos.

Trump pada 24 Agustus melalui akun Twitter menyampaikan agar Mike Pompeo membatalkan perjalanan ke Pyongyang karena progesivitas denuklirisasi dinilai lambat.

Trump menulis, “karena sikap kita menghadapi konflik perdagangan dengan Tiongkok komunis lebih keras, saya pikir mereka tidak akan memberikan bantuan mencapai proses denuklirisasi seperti waktu-waktu sebelumnya, meskipun sanksi PBB sudah di tempat.”

Pada akhir bulan Agustus, Trump kembali mengkritik Tiongkok komunis karena memperumit masalah dengan Korea Utara.

Xi Jinping telah membatalkan kunjungannya ke Pyongyang menghadiri undangan Kim Jongun untuk ikut merayakan hari jadi ke 70 negara itu yang jatuh pada 9 September.

Utusan khusus Li Zhanshu yang ditunjuk sebagai wakil untuk berangkat ke Korea Utara. Tampaknya Xi Jinping telah mempertimbangkan untuk tidak menyulut konflik dengan AS lebih jauh gara-gara berdekatan dengan Kim Jong-un. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds