Washington DC – Para pejabat Amerika Serikat dan Kuba bertemu di Departemen Luar Negeri AS, pekan lalu. Mereka membahas masalah kesehatan misterius yang diderita oleh sekitar 26 personel Kedutaan Besar AS. Insiden misterius itu menyebabkan pengurangan staf kedubes AS di Havana dan dinginnya hubungan antar negara.

“Ada briefing yang terjadi antara beberapa rekan kami dari berbagai biro kami. Mereka mengadakan pertemuan dengan pemerintah Kuba untuk membahas beberapa masalah medis yang dialami oleh orang-orang kami,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Heather Nauert, seperti dikutip The Epoch Times dari Reuters, Senin (17/9/2018).

Nauert, yang menolak membahas detail tentang pertemuan itu, mengatakan perundingan itu melibatkan personel medis dan ahli mengenai situasi itu, serta pejabat dari pemerintah Kuba.

Pada 13 September 2018, anggota delegasi medis Kuba yang menghadiri pertemuan mengatakan kepada wartawan bahwa mereka membantah kesimpulan oleh para pejabat AS. Kesimpulan bahwa kondisi medis yang diderita staf asal Amerika, sama secara keseluruhan.

“Kami tidak dapat secara kolektif mendukung hipotesis serangan kesehatan dan kerusakan otak pada diplomat AS sebagai penjelasan gejala,” kata perwakilan delegasi itu.

Mereka menambahkan, bagaimanapun, bahwa penyakit itu memiliki legitimasi dan mungkin saja lebih disebabkan oleh kesehatan psikologis daripada fisik.

“Kita tidak bisa mengatakan itu semua dapat dijelaskan oleh tantangan psikologis, tetapi itu tidak dapat diabaikan,” kata Pedro Antonio Valdés, seorang ahli saraf dan salah satu dokter medis dalam pertemuan tersebut.

Setidaknya 26 orang Amerika telah dipengaruhi oleh penyakit misterius di Kedutaan Besar AS di Kuba dengan gejala yang termasuk gangguan pendengaran, tinnitus, atau dengung di telinga, vertigo, sakit kepala, dan kelelahan. Pola tersebut konsisten dengan cedera otak traumatis ringan, menurut Departemen Luar Negeri.

Penyakit itu, yang pertama kali muncul tahun lalu, digambarkan sebagai hasil serangan sonik atau serangan kesehatan.

Tetapi pada 13 September, dokter Kuba mengatakan bahwa peninjauan ulang mereka terhadap bukti menunjukkan bahwa hanya tiga orang yang mengalami gangguan pendengaran ringan hingga sedang. Kuba berdalih, itu mungkin berasal dari kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Mereka juga mengatakan bahwa bukti yang ditinjau tidak menunjukkan kerusakan otak. Hal itu membuktikan bahwa hanya dua atau tiga dari subyek warga Amerika yang memiliki disfungsi kognitif.

NBC News melaporkan awal pekan ini bahwa para pejabat AS meyakini masalah kesehatan mungkin disebabkan oleh senjata elektromagnetik yang canggih. NBC, mengutip para pejabat administrasi dan pembantu kongres, mengatakan militer AS telah mencoba merekayasa ulang jenis senjata yang diduga menyebabkan kerusakan orak. FBI dan badan-badan intelijen menolak untuk mengomentari laporan NBC.

Nauert mengatakan Departemen Luar Negeri tidak membuat keputusan tentang siapa atau apa yang menyebabkan serangan kesehatan itu. Para pejabat Kuba membantah pihak mereka terlibat dalam serangan.

“Mengapa kita harus melihat hipotesis yang dibuat-buat, bahwa beberapa senjata misterius digunakan untuk menyerang orang Amerika,” tambah delegasi Kuba.

Delegasi Kuba menyebutkan perlunya penjelasan baru dan kesediaan AS untuk membahas ilmu di balik temuan itu. Kuba berharap bisa membahasnya dengan delegasi Amerika dalam pertemuan mendatang, yang akan diselenggarakan di Havana.

Departemen Luar Negeri mengatakan pada Juni bahwa mereka juga telah membawa pulang sekelompok diplomat dari Guangzhou, Tiongkok. Deplu khawatir mereka juga menderita penyakit serupa dengan diplomat di Kuba.

Pada bulan April, Kanada mengatakan akan memindahkan keluarga diplomat yang ditempatkan di kedutaannya di Kuba. Mereka khawatir tentang cedera otak jenis baru tersebut.

Amerika Serikat telah mengurangi staf kedutaan di Kuba, dari semula 50 orang lebih. Diplomat AS di Kuba kini hanya 18 orang, dan memaksa mereka yang tetap bertugas untuk merangkap banyak jenis pekerjaan.

Kantor Akuntabilitas Pemerintah mengatakan dalam kesaksian kepada Kongres pekan lalu bahwa Departemen Luar Negeri mengalami ‘tantangan manajemen’ dalam menanggapi insiden tersebut. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds