oleh Lin Yan – Epochtimes.com

Tidak ada salahnya Tiongkok mengembangkan teknologi tinggi, tetapi ia harus mematuhi norma yang berlaku di dunia internasional

Baru-baru ini, seorang etnis Tionghoa yang bergelut di bidang teknologi tinggi di Amerika Serikat menuliskan kesan dan pesannya kepada Epoch Times.

Masih banyak etnis Tionghoa di seluruh dunia belum memahami mengapa pemerintah AS mengenakan Tarif 301 terhadap program Made in China 2025.

Seakan AS terlalu sombong dan bertindak sewenang-wenang, berusaha mencegah Tiongkok berkembang. Di sini terdapat suatu kesalahpahaman yang mendalam.

Made in China 2025 merupakan pedoman penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi Tiongkok komunis di masa depan, dengan tercapainya swasembada teknologi maka Tiongkok akan mampu untuk menempatkan diri di posisi terkemuka dunia dalam bidang teknologi canggih tertentu.

The Epoch Times telah berulang kali melaporkan bahwa di dalam lorong persaingan dan pengembangan iptek yang cukup sengit, Tiongkok komunis enggan menyebutkan bahwa program Made In China 2025 akan dicapai melalui cara Beli dan atau Curi. Ini menjadi alasan dasar mengapa AS melakukan Penyidikan 301.

Sumber yang berkecimpung di dunia IT tersebut mengatakan bahwa, di satu pihak Tiongkok komunis menggunakan peraturan premanisme, mengharuskan perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok untuk berbagi teknologi milik mereka. Selain itu, mengirim sejumlah spionase di bidang perdagangan dan teknologi untuk mencuri langsung dari perusahaan-perusahaan AS. “Seribu satu cara mereka lakukan.”

Di sisi lain, Begitu Tiongkok komunis menguasai teknologi, mereka menggunakan cara-cara seperti perang harga, membanting harga meskipun merugi demi merebut pasar dan menggeser pesaing keluar pasar. Kemudian memonopoli pasar, atau melakukan produksi massal terhadap jenis produk tertentu untuk mendistorsi kondisi operasional industri terkait.

Seorang karyawan bekerja pada jalur produksi serat karbon T1000 di sebuah pabrik di Lianyungang di Provinsi Jiangsu timur, Tiongkok pada 27 Februari 2018. (AFP / Getty Images)

“Menghadapi serangan dari kiri dan kanan, banyak perusahaan AS akhirnya memilih keluar dari pasar, melakukan PHK,” katanya.

“Banyak etnis Tionghoa di AS juga menjadi korban,” ujarnya.

“Dengan kata lain, Made In China 2025 juga merupakan program merebut ‘mangkuk nasi’ para etnis Tionghoa yang berkecimpung di industri teknologi tinggi. Saya tanya kepada Anda, apa alasannya kita harus mendukung program itu ?” komentar tulisan pembaca Epoch Times News.

Sebelumnya, ada sejumlah media AS mengungkapkan bahwa Tiongkok komunis tidak mementingkan investasi pada R & D hanya berkonsentrasi pada dapat hasil tanpa usaha, mencuri teknologi dari Amerika Serikat ini yang dikembangkan.

Cara yang dilakukan termasuk memaksa perusahaan-perusahaan AS di Tiongkok mengalihkan  teknologi sebagai ‘alat tukar’ akses pasar di Tiongkok. Mendorong perusahaan Tiongkok yang beroperasi di luar negeri untuk mengakuisisi perusahaan teknologi tinggi asing di luar negeri.

Mencuri rahasia dagang melalui jaringan mata-mata, mencuri rahasia dagang milik perusahaan asing; membentuk front persatuan di luar negeri, mengembangkan Program Talenta Seribu untuk merekrut karyawan kunci perusahaan teknologi tinggi dari luar negeri.

New York Times juga melaporkan bahwa telah terbukti bahwa kemakmuran teknologi Tiongkok komunis sebagian besar dibangun di atas pondasi teknologi yang diciptakan oleh Barat.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dalam sidang dengar pendapat di Kongres AS pada bulan Mei telah menyinggung soal Made In China 2025, ia mengatakan jika program Tiongkok komunis untuk tahun 2025 itu bersaing secara fair dengan negara lain, itu tidak bermasalah.

Tetapi Tiongkok komunis melalui gelontoran dana subsidi sebesar USD. 300 miliar untuk mencegah pesaing masuk pasar, pengalihan paksa teknologi dan cara-cara lainnya, mengorbankan negara lain demi kepentingan sendiri, dan itu adalah masalah lain.

Robert menggambarkan rencana 2025 sebagai “Saya memiliki sebuah daftar, jika Anda mau, akan saya beli semuanya”

Ia mengambil contoh teknologi tinggi seperti robot, kendaraan energi baru, dan alat transportasi berkecepatan tinggi yang baru muncul di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, tetapi sekarang Tiongkok komunis mengatakan bahwa mereka siap untuk menginvestasikan jutaan dolar untuk mendapatkan sumber daya, sesuai dengan daftar rencana mendapatkan teknologi, jelas tercermin bahwa Tiongkok berambisi untuk menjadi pemimpin di bidang ini melalui sarana ekonomi.

“Kategori-kategori ini secara eksplisit adalah teknologi yang mereka ingin dapatkan dari kami, tentu saja saya merekomendasikan pengusutan 301 yang difokuskan pada isi dari daftar itu,” kata Robert Lighthizer. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds