New York – Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, menuduh Rusia melakukan ‘kecurangan’ atas sanksi AS terhadap Korea Utara. Haley mengatakan Washington memiliki bukti pelanggaran oleh Rusia yang konsisten dan meluas, Senin (17/9/2018).

Pertikaian antara Amerika Serikat dan Rusia atas Korea Utara secara terbuka menunjukkan keretakan dalam kesatuan Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara. Dewan Keamanan sebelumnya dengan suara bulat meningkatkan sanksi sejak 2006 dalam upaya untuk menghentikan pendanaan bagi program rudal nuklir dan balistik Pyongyang.

Haley mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa Rusia membantu Korea Utara secara ilegal untuk mendapatkan bahan bakar melalui transfer di laut. Rusia juga menolak untuk mengusir seorang warga Korea Utara yang oleh DK PBB dimasukkan dalam daftar hitam pada tahun lalu. Amerika juga menuding Rusia mendorong perubahan pada laporan independen PBB tentang pelanggaran sanksi untuk menutupi pelanggaran yang dilakukan oleh Rusia.

Sementara itu Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, mengatakan Moskow tidak menekan para penulis laporan PBB. Dia justru menyalahkan Haley karena meningkatkan ketegangan. Dia juga menunjukkan bahwa laporan itu telah memutuskan bahwa transfer kapal-ke-kapal khusus bahan bakar oleh kapal Rusia, yang dikatakan oleh Haley, bukan pelanggaran terhadap sanksi PBB terhadap Korea Utara.

Haley mengatakan Washington telah melacak sekitar 148 kasus tahun ini dari kapal tanker minyak yang mengirim bahan bakar ke Korea Utara yang diperoleh melalui pengiriman transfer ‘kapal-ke-kapal’ di tengah laut yang melanggar batas atas AS. Dia tidak mengatakan berapa banyak transfer ke kapal Korut yang mungkin dilakukan atas bantuan Rusia.

“Rusia harus menghentikan pelanggarannya terhadap sanksi Korea Utara. Negara itu harus mengakhiri upaya bersama untuk menutupi bukti pelanggaran sanksi. Pelanggaran Rusia bukan satu-satunya. Mereka sistematis,” hardik Haley.

Rusia dan Tiongkok menyarankan kepada Dewan Keamanan untuk membahas pengurangan sanksi setelah Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu pada bulan Juni. Kim berjanji untuk bekerja menuju denuklirisasi.

Haley mengatakan bahwa ‘pembicaraan sensitif dan sulit’ antara Amerika Serikat dan Korea Utara sedang berlangsung. Saat ini adalah saat yang salah untuk mulai mengurangi sanksi terhadap Pyongyang.

“Tidak mungkin untuk mencapai kesepakatan jika Anda tidak menawarkan apa pun sebagai imbalan atas permintaan Anda,” kata Nebenzia, menunjukkan bahwa langkah membangun kepercayaan dapat dilakukan untuk Korea Utara dan Korea Selatan, yang menandatangani perjanjian damai.

Duta Besar Tiongkok, Ma Zhaoxu mengatakan Beijing menerapkan sanksi terhadap Korea Utara dan memperingatkan bahwa menghadapi Pyongyang akan menjadi ‘jalan buntu’. Dia menyerukan kemajuan dalam negosiasi dan mendesak Dewan Keamanan untuk tetap bersatu dalam masalah ini.

“Berusaha memaksa tidak akan membawa kemajuan, hanya menghasilkan konsekuensi yang buruk,” kata Ma kepada dewan.

Kepala urusan politik PBB, Rosemary DiCarlo mengatakan kepada dewan bahwa ada beberapa perkembangan positif baru-baru ini, “Masih ada tanda-tanda DPRK (Korea Utara) mempertahankan dan mengembangkan senjata nuklir dan program rudal balistik.”

Menanggapi pidato Haley di dewan keamanan, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menulis di Twitter bahwa Rusia secara aktif merongrong kepatuhan terhadap sanksi Korea Utara.

“Sanksi global merupakan bagian penting dari upaya untuk mencapai denuklirisasi,” tulis Pompeo. “Kami berkomitmen untuk menegakkannya.” (IVAN PENTCHOUKOV dan REUTERS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds