Erabaru.net. “Sudah keluar banyak darah, tetapi dia masih hidup,” kata dokter Enver Tohti.

Itu pernyataan dokter Enver Tohti, seorang ahli bedah etnis Uighur. Dia bersaksi pada sidang dengar pendapat, yang digelar Komite Gabungan Irlandia untuk Urusan Luar Negeri, Perdagangan, dan Pertahanan pada 6 Juli 2017 silam. Tohti adalah satu-satunya ahli bedah Tiongkok yang terlibat pengambilan organ yang hadir dalam sidang dengar pendapat parlemen Irlandia itu.

Kesaksian dokter itu untuk mengungkapkan kolaborasi antara rumah sakit dengan sistem keamanan publik Komunis Tiongkok dalam operasi pengambilan paksa organ tubuh dari tahanan politik.

Dokter Enver Tohti hadir dalam sidang itu sebagai anggota panel transplantasi organ. Siding dihadiri juga pengacara hak asasi manusia Kanada, David Matas dan jurnalis Amerika pakar urusan Tiongkok Ethan Gutmann. Kedua nama itu telah dinominasikan untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian karena prestasinya dalam penyelidikan atas pengambilan paksa organ oleh Tiongkok komunis.

Dr. Enver Tohti adalah salah satu dokter yang langsung menangani transplantasi organ tubuh hidu-hidup. Dia bekerja untuk Rumah Sakit Pusat Bedah Onkologi klinik Biro Kereta Api Urumqi pada tahun 1990-an. Pada tahun itulah, dia melakukan pengambilan organ dari tubuh hidup.

Saat itu ia masih beranggapan, yang dilakukannya adalah sedang menjalankan tugas mulia negara untuk menghancurkan musuh-musuh Komunisi Tiongkok.

“Setiap kali teringat peristiwa itu, saya sangat menyesal,” demikian ia memulai pengungkapannya di depan sidang.

Pada tahun 1995, dua kepala ahli bedah memanggilnya ke kantor dan memintanya untuk segera membentuk tim demi mempersiapkan sebuah tindak transplantasi terbesar. Keesokan paginya, Dr. Enver Tohti bersama perawat dan ahli anestesi dibawa dengan kendaraan menuju lapangan eksekusi tahanan di daerah Xishan dan diperintahkan untuk menunggu bunyi letupan senjata.

“Begitu suara tembakan terdengar kami dengan cepat menuju lapangan. Seorang polisi bersenjata menggiring kami menuju sebuah sudut jauh di sebelah kanan, di sana saya bisa melihat seorang pria berpakaian sederhana tergeletak dengan dada kanannya tertembus peluru,” katanya.

Kedua kepala ahli bedah memerintahkan dan mengawasinya dalam mengambil organ hati dan kedua butir ginjalnya yang masih hangat. Ketika Tohti menjahit lukanya, ia masih dapat melihat detakan pembuluh darah pria itu. Itu adalah tanda jantungnya masih bekerja.

“Pria itu masih hidup,” teriak Tohti.

Atasan yang memberi tugas lapangan tersebut lalu berpesan, “Ingat, anggap hal ini tidak pernah terjadi, tidak boleh diceritakan.”

Menurut Enver Tohti di Tiongkok yang didominasi oleh komunis Tiongkok, orang-orang akan menjadi budak dengan penuh kebanggaan. Anggota masyarakat yang otaknya sudah sepenuhnya terprogram, siap melaksanakan tugas yang diberikan atasan tanpa mengajukan pertanyaan.

Permintaan organ yang tinggi adalah salah satu faktor pendorong pesatnya perkembangan industri perjalanan ‘wisata organ’ ke Tiongkok.

Enver Tohti menggambarkan industri organ yang tidak manusiawi dengan mengutip slogan dalam situs transplantasi organ Tiongkok seperti “Persediaan Organ yang Tanpa Batas, Ada Jaminan Penukaran, Mudah ! Buatlah Janji Kapan Transplantasi Jantung akan Dilakukan”. Bahkan ada yang mengiklankan dengan “Beli Satu Gratis Satu” yang tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia.

Itulah yang membuat miris. Kalau di sebagian besar negara, setelah seorang pasien mendaftarkan namanya dalam daftar transplantasi organ, mungkin diperlukan beberapa bulan atau tahun untuk menunggu giliran memperoleh organ yang dibutuhkan. Namun pasien yang melakukan perjalanan wisata organ ke Tiongkok dapat memperoleh organ dalam beberapa minggu, hari, atau bahkan jam. Jelas ini gila, dan tak masuk akal, namun itu fakta!

Lalu siapa yang menjadi penyedia organ hidup-hidup itu?

Sebagian besar sumber organ berasal dari para praktisi Falun Gong yang menganut keyakinan Sejati – Baik – Sabar.

Sejak 1999, praktisi Falun Gong dianiaya secara brutal oleh Komunis Tiongkok. Mereka ditangkap sewenang-wenang dan ditahan di kamp kerja paksa. Mereka sudah menjadi calon korban pengambilan organ, kondisi kesehatan mereka dimasukan ke dalam database sumber organ untuk sewaktu-waktu dibunuh, diambil paksa organ tubuhnya setelah ada permintaan organ segar untuk transplantasi.

Sumber organ lainnya adalah warga etnis Uighur yang beragama Islam. Enver Tohti menjelaskan, Komunis Tiongkok menggunakan beragam cara. Sejak Juni 2016, Komunis Tiongkok sudah melaksanakan pemeriksaan kesehatan fisik secara cuma-cuma di wilayah Xinjiang.

Mereka beralasan untuk meningkatkan kualitas hidup warga etnis Uighur. Menurut survei Ethan Gutmann, tahun lalu populasi Uighur sekitar 15 -20 juta jiwa, dan sudah 99,7% orang Uighur telah menyelesaikan pengambilan contoh darah karena dipaksa.

“Kami menduga bahwa Komunis Tiongkok sedang membangun basis data untuk perdagangan organ nasional,” kata Enver Tohti.

Pada Juni 2016, Ethan Gutmann, David Matas dan mantan Sekretaris Kanada untuk Asia-Pasifik David Kilgour, bersama-sama mengeluarkan laporan yang berisi hampir 700 halaman. Laporan mengacu pada kasus transplantasi organ di Tiongkok yang berlangsung antara 60 sampai 100 ribu kali setiap tahunnya.

Sementara pada 10 Agustus tahun ini, Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial menuduh Komunis Tiongkok secara diam-diam telah memenjarakan jutaan orang etnis Uighur di Xinjiang.

Fakta itu hanyalah puncak gunung es dari kamp konsentrasi di Tiongkok. Beberapa tahun yang lalu, media asing melaporkan bahwa jumlah tahanan di kamp-kamp seluruh Tiongkok mencapai lebih dari 5,5 juta orang.

Lalu bagaimana nasib Dokter Enver Tohti?

Dia hidup dalam pengasingan sejak tahun 1999. Tohti memperoleh pekerjaan baru sebagai sopir bus. Namun, pengalaman operasi pengambilan organ itu, tidak pernah dilupakan sampai sekarang. Bertahun-tahun kemudian, ketika dia berkesempatan untuk mengungkapkan pengakuan penyesalan dalam hatinya, ia baru dapat memperoleh kebebasan.

Dunia internasional bereaksi terhadap peristiwa pengambilan organ tubuh di Tiongkok itu. Israel, melalui Undang-undang Israel melarang warganya pergi ke Tiongkok untuk menjalani transplantasi organ. Langkah serupa diambil oleh Spanyol, Taiwan, dan Italia.

Negara-negara itu melakukannya semata karena mengacu pada perilaku yang baik, integritas, tidak mementingkan diri sendiri, dan mengambil hikmah dari pengalaman sejarah.

Dalam periode sejarah yang sangat kritis ini, momen kejahatan pengambilan organ tubuh di Tiongkok itu adalah momen yang penting, “Sudah waktunya untuk bertindak”. (sin/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds