Wu Minzhou

Sri Paus Fransiskus pernah mengatakan pada bulan Juni lalu bahwa Vatikan sedang membahas dengan PKT isu tentang penunjukan Uskup Paroki di daratan Tiongkok, tetapi media asing baru-baru ini mengungkapkan, ragam penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Gereja Katolik semakin meningkat, tidak hanya salib dibongkar dan dihancurkan, juga menghendaki diganti dengan bendera Bintang Lima RRT, para pastor yang tidak mau bekerja sama, setelah wawancara dengan pemerintah akan “dihilangkan”.

Kantor Berita Asia Katolik UCAN (Union of Catholic Asian News ) baru-baru ini mengungkapkan bahwa RRT dan Vatikan akan mengadakan putaran pembicaraan baru pada bulan September ini.

Tapi di satu sisi, PKT memberikan minyak zaitun (simbol perdamaian) ke Vatikan Roma, di sisi lain mereka terus meningkatkan penganiayaan pada umat Katolik dalam negeri.

UCAN melaporkan pada 5 September lalu, cara penanganan penganiayaan pemerintah daerah provinsi Henan, Tiongkok di tahun ini semakin represif yakni: Melarang anak di bawah umur memasuki gereja dan mengadakan kelas belajar.

Selain itu mereka melarang diadakannya pendataan statistik terhadap jumlah serta identitas anak di bawah umur dan mahasiswa, belakangan ini malah dikembangkan dengan memaksa orang tua, pegawai negeri sipil, guru dan keluarga mereka untuk keluar dari agama mereka. Jika tidak, tunjangan (pemerintah) mereka akan dicabut.  

Laporan itu mengatakan, pihak berwenang semakin meningkatkan penganiayaan terhadap gereja, menghancurkan dan menurunkan salib seluruh gereja di provinsi Henan.

Gereja di keuskupan paroki Annan tidak hanya dipaksa menurunkan salib, tetapi juga diminta memasang bendera nasional, PKT menanya dengan paksa lokasi percetakan bahan kotbah dari pihak gereja, dan para pastor yang tidak mau bekerja sama setelah wawancara dengan pemerintah akan “dihilangkan”.

Situasi penganiayaan telah merembet ke Hebei, Jiangxi, Zhejiang, Jiangsu, Liaoning dan provinsi lainnya.

Asian News Service (Asia News) melaporkan dari Yueqing Zhejiang, pemerintah malah meminta gereja setempat menyanyikan lagu rohani pujaan terhadap Partai Komunis, dan mengadakan konser patriotisme.

Di Shangrao, provinsi Jiangxi, setidaknya ada 40 gereja dipaksa untuk menggantung spanduk yang isinya: Melarang misionaris asing berkotbah dan melarang anak di bawah 18 tahun memasuki gereja. (HUI/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds