Berlin – Sebuah skandal mengenai imigran yang dikejar di jalanan mengungkap perselisihan antara Angela Merkel dan badan keamanan Jerman. Perselisihan itu memecah-belah koalisi Merkel dan menghalangi upaya untuk menghentikan kegagalan dalam kebijakan ‘pintu terbuka bagi pengungsi’.

Krisis itu meledak ketika Hans-Georg Maassen, kepala badan intelijen BfV, mengatakan dia tidak yakin ekstrimis ekstrem kanan telah menyerang para migran di kota Chemnitz di Jerman timur bulan lalu. Sebuah video menunjukkan bahwa kekerasan itu mungkin palsu atau rekayasa.

Itu membuat Maassen berselisih dengan Merkel, yang mengatakan gambar-gambar itu ‘sangat jelas mengungkapkan kebencian’ yang tidak bisa ditoleransi.

“Untuk seorang kanselir yang lebih menentukan, ini sudah cukup untuk memecatnya,” kata Carsten Nikel dari konsultan politik Teneo Intelligence.

Nikel menambahkan bahwa dukungan untuk Maassen dari sekutu Bavarian konservatif Merkel tetap berada di tangannya.

Sekarang, Merkel terperangkap di antara partai Bavaria yang mendukungnya, Persatuan Sosial Kristen (CSU), yang mendukung Maassen, dan rekan koalisinya yang lain, Sosial Demokrat yang berhaluan kiri (SPD), yang mengatakan dia telah kehilangan kredibilitas dan harus pergi.

“Hasilnya adalah bahwa kanselir terlihat lemah, koalisinya sedang dalam krisis. Dan dia kurang mampu menangani masalah mendesak seperti Brexit, reformasi Uni Eropa, dan masalah perdagangan dengan Amerika Serikat. Masalah migrasi pasti akan terus menghantui Merkel hingga akhir masa tugasnya,” analisa Nickel.

Kegaduhan Maassen berakar pada keputusan Merkel pada tahun 2015 untuk membuka perbatasan Jerman bagi para pengungsi yang melarikan diri dari perang di Timur Tengah. Lebih dari satu juta pengungsi datang membanjiri Jerman.

“Maassen bukan kasus yang terisolasi. Maassen adalah bagian dari komunitas keamanan,” kata Robin Alexander, penulis ‘Die Getriebenen’ (Mereka Didorong oleh Peristiwa), sebuah laporan tentang bagaimana Merkel dan para ‘letnan’-nya menangani krisis pengungsi.

“Untuk komunitas keamanan ini, musim gugur 2015 adalah bencana. Bukan hanya untuk Maassen, tetapi untuk semua dari mereka. Ada keterasingan mendalam dari seluruh komunitas keamanan dari kanselir, dan itu tidak pernah terjadi di Jerman sebelumnya,” tambah Alexander.

Mata-Mata Frustrasi
Keretakan dimulai pada Oktober 2015, ketika Merkel menempatkan dua orang kepercayaannya untuk bertindak sebagai orang inti di Kementerian Dalam Negeri. Mereka adalah kepala stafnya, Peter Altmaier, yang bertanggung jawab atas respon Jerman terhadap krisis pengungsi, bersama Emily Haber, seorang diplomat.

Rantai komando tersebut secara efektif mematikan akses layanan keamanan, yang tidak dapat bertemu dengan Merkel.

“Itu benar-benar membuat frustrasi orang-orang ini. Mereka ngeri,” kata Alexander.

Secara pribadi, Maassen mengeluh tentang kesulitan mengawasi para pengungsi dan menilai apakah mereka menimbulkan risiko keamanan.

Penyebabnya mendapat dorongan dengan pemilu 2017, ketika Partai Alternatif yang anti-imigrasi untuk Jerman (AfD) melonjak dalam perolehan kursi di parlemen untuk pertama kalinya. Merkel pun harus mengubah susunan pemerintahannya.

Pemimpin CSU, Horst Seehofer, yang telah menyebut tindakan Merkel menangani krisis pengungsi sebagai ‘pemerintahan ketidakadilan’, diangkat menjadi menteri dalam negeri. Dia memberi Maassen perlindungan politik untuk mendorong agenda keamanannya, yang telah dia lakukan.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada Januari, Maassen, 55, menyerukan peninjauan hukum yang bertujuan membatasi pengawasan anak imigran di bawah umur. Itu untuk menjaga potensi bahwa anak-anak pejuang Islam yang masuk ke Jerman menjadi ‘agen tidur’, yang suatu ketika bisa saja melakukan serangan.

Maassen juga bentrok dengan pejabat pemerintah lainnya yang lebih berhati-hati ketika dia mengatakan Rusia adalah penyebab utama di balik serangan cyber di Jerman.

Lalu datanglah insiden ‘Chemnitz’. Kali ini, Maassen secara terbuka mempertanyakan keaslian video itu sebelum agensinya menyelesaikan pekerjaannya atas insiden tersebut.

Dalam surat 10 September 2018 kepada Kementerian Dalam Negeri, didapat oleh Reuters, di mana ia menjelaskan komentarnya pada insiden Kota Chemnitz. Maassen mengatakan ingin menjelaskan peristiwa setelah perdana menteri negara bagian Sachsen, di mana kota itu berada, membantah para migran telah diburu. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds