Pihak berwenang di Provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya, baru-baru ini memperkenalkan jenis kasus kriminal baru, yang melibatkan “tentara air internet” (internet water army) yang terkenal, yaitu, para penjahat online yang memposting ulasan-ulasan negatif dan memeras uang dari perusahaan-perusahaan yang menginginkan agar ulasan tersebut dihapus.

Pada 18 September, Biro Keamanan Publik Provinsi Sichuan membuka sebuah kasus yang melibatkan lima orang yang diduga telah memeras 200.000 yuan (sekitar $30.000) dari satu perusahaan dengan menggunakan metode ini.

Pada 27 November 2017, akun WeChat milik sebuah perusahaan bernama “Chengdu Jizhi Interaction Internet Technology Co. Ltd.” menerbitkan sebuah artikel yang mengkritik sebuah perusahaan Sichuan yang terkenal. Perusahaan tersebut menganggap artikel itu sebagai hal penting dalam hubungan masyarakat yang dapat merusak citra dan merek perusahaan, dan dengan segera menghubungi akun WeChat tersebut.

Pemilik WeChat meminta pertemuan tatap muka. Dalam pertemuan itu, mereka memperkenalkan diri sebagai wakil dari Interaksi Jizhi, dan meminta para korban untuk membayar 200.000 yuan agar artikel itu dihapus. Perusahaan menghubungi polisi pada 22 Desember setelah membayar uang.

Investigasi polisi menemukan bahwa Jizhi Interaction adalah perusahaan yang didedikasikan untuk melakukan penipuan internet. Para tersangka, hanya diidentifikasi dalam laporan Tiongkok dengan nama keluarga mereka, termasuk para penulis, editor, dan perancang grafis. Setelah mengidentifikasi target, ketiganya akan menyusun artikel yang merendahkan dan mempublikasikannya di situs media sosial seperti WeChat, Toutiao, dan Sohu. Anggota lain dari komplotan tersebut akan bernegosiasi dengan para korban untuk memeras uang dari mereka.

Fenomena “internet water army” telah dikenal dalam bentuk aslinya, “wumaodang” atau “tentara 50 sen”, selama lebih dari satu dekade. Pada Oktober 2004, pihak berwenang di kota Changsha telah membentuk sebuah tim pengguna internet untuk mempublikasikan ulasan-ulasan positif tentang kota di lebih dari 20 forum terkemuka, sambil menghubungi para pemilik situs untuk menghapus konten negatif.

Pada Maret 2005, Kementerian Pendidikan Tiongkok membentuk tim-tim internet di universitas dan perguruan tinggi untuk mempublikasikan konten propaganda dan menghapus pendapat-pendapat yang berbeda. Pada tahun 2007, pemimpin Tiongkok berikutnya, Hu Jintao memerintahkan Partai Komunis Tiongkok untuk mengembangkan propaganda internet untuk memandu sentimen publik.

Pada tahun 2016, sebuah penelitian di Harvard memperkirakan bahwa setiap tahun, para propagandis (orang yang melakukan propaganda) internet Tiongkok yang dibayar telah membuat sekitar 488 juta posting di media sosial.

Saat ini, praktik tersebut digunakan tidak hanya untuk menyebarkan ideologi Partai, tetapi juga sebagai sarana bisnis terlarang. Februari ini, kota Guangzhou telah merobohkan sebuah bisnis “internet water army” yang disebut “San Da Ha,” yang beroperasi di 21 provinsi di seluruh negeri.

Menurut polisi, San Da Ha telah menyewa sejumlah besar “tentara air,” yang dapat mempromosikan perusahaan atau produk hanya karena mereka dapat memolesnya. Untuk biaya layanan, para pekerja San Da Ha akan membantu perusahaan tersebut meningkatkan penjualannya, menyebarkan informasi pemasarannya di berbagai situs dan platform, atau menghapus ulasan-ulasan negatif.

Misalnya, San Da Ha akan membebankan 100 yuan (sekitar $15) untuk 1.000 pesan teks, dan 200 yuan untuk 2500 pesan teks ponsel.

Kementerian Keamanan Publik Tiongkok mengatakan bahwa pada akhir Mei 2017, telah menindak lebih dari 40 “kasus tentara air internet”, yang melibatkan lebih dari 100 juta yuan. (ran)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds