oleh Gu Xiaohua dan Li Xin’an

Baru lebih dari sebulan sekolah memulai kembali pelajaran baru. Sejumlah anak-anak dari taman kanak – kanak di kota Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok mengatakan kepada orangtua mereka bahwa daging paha ayam yang dimakan berbau busuk.

Orangtua coba menyelinap ke dalam ruang dapur sekolahan untuk melihat apa yang terjadi dan menggambarkan pemandangannya mengejutkan.

Pada 18 September siang, ada orangtua dari anak-anak yang bersekolah di sana memposting berita berikut gambar penemuan bahwa Sekolahan TK Tongxin di Distrik Wujiang, kota Wuhu memberi makan siang siswa beras yang sudah berjamur, menggunakan bumbu masak yang sudah kedaluwarsa, paha ayam yang busuk dan berbau.

Video terkait menunjukkan bahwa nasi yang dimakan oleh kepala sekolah dan guru berwarna putih dan segar, sedangkan beras untuk anak-anak sudah berwarna kehitam-hitaman, dan banyak ulat beras, bumbu dapur telah kadaluwarsa lebih dari setahun.

Sebotol cuka putih menunjukkan tanggal kedaluwarsa adalah bulan Agustus 2015, “Merk Minyak Salad yang digunakan adalah merek yang tidak dapat ditemukan lagi di Taobao”

Cuka Kedaluwarsa

Sejumlah orangtua melaporkan bahwa direktur sekolahan tersebut juga membuka taman kanak-kanak lainnya bernama Dedebei. Ditemukan belatung dalam lemari freezer di TK ini. Bahkan kecoak-kecoak merangkak di rak peralatan makan.

“Sosis yang dikemas dalam wadah hampa udara semuanya sudah berjamur” Anak yang dibawa ke rumah sakit untuk menerima pemeriksaan kesehatan telah divonis terinfeksi virus EB (Epstein-Barr herpesvirus) dan gangguan fungsi hati, dan demam tinggi tidak turun.

Ketika orangtua melaporkan kepada pihak sekolah bahwa beberapa anak yang keracunan telah dikirim ke Rumah Sakit  Yanjishan, sekolah menolak memberikan pemeriksaan medis kepada anak-anak, memicu kemarahan orangtua dan meminta pihak sekolah untuk melakukan pemeriksaan medis.

Orangtua memprotes pihak sekolah

Seorang kepala keluarga yang tak mau disebutkan namanya memberitakan kepada Epoch Times pada Kamis (20/09/2018) ada sedikitnya 50 orang tua siswa yang mengadu kepada pemerintah, beberapa petugas keamanan dikerahkan untuk ‘menjaga ketertiban’.

Akhirnya pemerintah setuju untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan anak. Jadwal yang ditetapkan adalah, pemeriksaan awal segera dilaksanakan, pemeriksaan kedua dilakukan dengan jarak setengah tahun dari pemeriksaan pertama, dan pemeriksaan ketiga diadakan dengan jarak 1 tahun setelah pemeriksaan kedua.

“Kemarin beberapa anak sudah naik suhu badannya, sakit, demam berulang, muncul ruam tubuh (bintik-bintik merah di kulit), komplikasi herpes angina, karena virus ini terlalu banyak, muncul ruam di sekujur tubuh, suaranya serak, gusi bengkak, sudah tiga hari diperiksakan ke dokter tetapi tidak dirawat di rumah sakit.”

“Yang tidak demam saat ini, tetapi bintik-bintik merah di kulit tidak kunjung hilang, tenggorokan terasa bengkak suaranya serak dan sulit untuk menelan makanan. Jumlah anak yang sakit secara spesifiknya belum terhitung.”

Orangtua memprotes beramai-ramai atas sakit yang diderita buah hati mereka gara-gara paham ayam busuk

Orangtua tersebut mengungkapkan, bahwa belum diketahui sejak kapan pihak sekolahan menyediakan makanan busuk, kedaluwarsa kepada siswa. Beberapa orang tua mengatakan bahwa itu mungkin adalah makanan sisa yang tidak digunakan dalam semester sebelumnya.

“Makanan setengah jadi yang tidak dibuat di dapur taman kanak-kanak, umur simpannya akan habis dalam satu atau dua bulan.”

Para orangtua juga melaporkan kepada dinas pemerintah terkait tentang uang sekolah, kualifikasi pengajar, kepadatan kelas, pungutan biaya dan pengadaan barang dan jasa yang tidak masuk akal.

Pada 19 September, kantin taman kanak-kanak tersebut disegel pihak berwenang, tetapi taman kanak-kanak masih beroperasi seperti biasa.

Beberapa orang tua terlihat sedang mengurus kepindahan sekolah. Ada komite keluarga dan orang tua, biro pendidikan, dan personel biro keamanan pangan yang ditempatkan di TK tersebut untuk mengawasi jalannya kegiatan manajemen.

Warganet ‘@Vity7520 : Tidak ada pintu bagi orangtua untuk mengadukan masalah. Pergi ke Pemerintah Kota Wuhu. Masalah dipendam pemerintah dengan alasan agar masalah tidak membesar. jika membesar, sanksi hukumannya berat. Rakyat biasa hanya kebagian menderita penyiksaan, kolusi antara pejabat dan pengusaha, terlalu jijik, mengerikan ! Mereka sangat garang terhadap para orang tua siswa, sepertinya orang biasa yang melanggar hukum.”

Warganet @Tianran mei de pei pei menulis : Yang tidak habis pikir adalah para orang tua siswa pergi mengadu kepada pemerintah yang berwenang, tetapi pemerintah justru membiarkan petugas keamanan yang dikerahkan untuk memukuli orangtua siswa !

Warganet @Fanqie xiao biaomei : Orangtua warga distrik kami yang pergi mengadukan masalah ke pihak berwenang, membentangkan spanduk minta petugas yang bersalah dikenakan hukuman, tetapi mereka justru dicegah dengan kekerasan oleh aparatur keamanan, Ada orangtua yang dipelitir lehernya, rekaman videonya sudah beredar di lingkungan kami.

Ada orangtua siswa yang mengatakan bahwa antar pejabat pemerintah saling melindungi. Ia cukup mampu membela kepentingan TK itu, jelas memiliki hubungan khusus.

Seorang warganet mengatakan : Untuk membesarkan seorang anak sangat tidak mudah sekarang, susu bubuk, vaksinasi, pelecehan, kekerasan di sekolah, kekerasan seksual, makanan beracun ……

Anak-anak dijadikan objek pemerasan, bahkan dari nilai sesuap makanannya saja tidak dilepaskan. Uang apalgi yang tidak ingin direbut oleh para pejabat berhati binatang ? Apakah kalian tidak sakit hati dengan merusak masa depan anak-anak ?! (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds