Brasilia – Calon presiden aliran ‘sayap-kanan’ Brasil, Jair Bolsonaro diprediksi unggul atas para pesaingnya di putaran pertama pemilihan presiden Brasil yang akan digelar pada 7 Oktober 2018. Prediksi itu terungkap dalam sebuah jajak pendapat terbaru, yang diumumkan akhir pekan kemarin.

Bolsonaro, yang baru pulih dan masih dirawat di rumah sakit didukung oleh 28 persen pemilih yang disurvei oleh perusahaan polling, Datafolha, dan diumumkan pada 20 September 2018 waktu setempat. Ada kenaikan 2 persen suara sejak jajak pendapat sebelumnya. Survei sebelelumnya digelar seminggu sebelumnya, atau beberapa hari usai insiden penikaman fatal dua pekan lalu.

Sedangkan kandidat Partai Buruh beraliran sayap-kiri, Fernando Haddad naik ke posisi kedua dengan 16 persen pemilih yang mendukungnya. Dukungan untuknya naik 3 persen.

Sebelumnya, secara statistik dia mendapat persentase dukungan yang sama dengan Ciro Gomes, seorang populis aliran kiri-tengah. Dukungan untuk Gomes tetap sebesar 13 persen, menurut Datafolha.

Datafolha mensurvei 8.601 pemilih di seluruh Brasil pada 18 hingga 19 September 2018. Jajak pendapat, yang diterbitkan oleh surat kabar Folha de S.Paulo, memiliki ‘margin-eror’ sebesar 2 persen.

Haddad menggantikan posisi mantan presiden sayap-kiri yang mendekam di penjara, Luiz Inacio Lula da Silva, sejak dua pekan lalu.

Dengan tidak ada calon yang diproyeksikan memenangkan suara mayoritas dalam pemungutan suara pertama, dua kandidat yang berkinerja terbaik akan bertarung kembali pada putaran kedua.

Gomes adalah satu-satunya kandidat yang diprediksi sanggup mengalahkan Bolsonaro dalam pemilihan putaran kedua, menurut jajak pendapat. Menurut Datafolha, Gomes, mantan gubernur negara bagian Ceará berpotensi mengalahkan Bolsonaro dengan meraih 45 persen suara melawan 39 persen suara untuk kandidat sayap kanan.

Bolsonaro, mantan kapten tentara, mungkin mengalami kesulitan untuk memenangkan pemilihan putaran kedua melawan Haddad. Karena perkiraan perolehan suara mereka sama besar, atau masing-masing 41 persen, menurut Datafolha.

Bolsonaro memimpin di depan sejak awal pencalonan dengan menjawab dan memainkan isu ketidakpuasan orang-orang Brasil yang muak dengan korupsi politik dan meningkatnya kejahatan.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa strategi Lula meyakinkan pendukungnya untuk memilih Haddad, mantan walikota Sao Paulo, bekerja dengan baik. Sebab, Haddad akan bisa mencapai target suara untuk melaju ke putaran kedua.

Presiden Lula dua kali dilarang mengikuti pemilu karena sidang kasus korupsi. Akan tetapi, dia tetap menjadi politisi paling berpengaruh di Brasil, dan partainya berpotensi kembali berkuasa setelah memerintah Brasil dari 2003 hingga 2016.

Kandidat lainnya dalam pemilihan putaran pertama, Geraldo Alckmin, favorit kalangan bisnis dan mantan gubernur Sao Paulo, tetap meraih 9 persen suara, berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru. Dan kandidat pro lingkungan hidup, Marina Silva diprediksi hanya akan meraih 7 persen suara, merosot hampir separuh dukungan dari yang dia kantongi pada survei sebelumnya.

Pemilihan kali ini menjadi yang paling memecah belah sejak berakhirnya kekuasaan militer Brasil tiga dekade lalu telah menjadi semakin terpolarisasi, meningkatkan kekhawatiran tentang masa depan demokrasi negara tersebut.

Bolsonaro menuduh Partai Buruh tengah mencoba untuk memenangkan pemilihan dengan cara curang. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds