Oleh Cheng Xiaonong

Ketika perang perdagangan Tiongkok-AS meningkat, tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat untuk impor Tiongkok dapat dilihat sebagai “lampu merah” pada barang-barang yang diproduksi Tiongkok, yang akan mengalihkan pengadaan dan pasokan rantai ke lokasi lain. Karena sebagian dari impor AS yang berasal dari Tiongkok berhenti, hal itu akan menyebabkan perubahan dalam rantai industri global Sinosentris (Sinocentric) yang muncul pada awal abad ini.

Pada 18 September, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan menerapkan tarif $200 miliar untuk Tiongkok dalam dua fase. Kementerian Perdagangan Tiongkok segera mengumumkan bahwa mereka akan melawan langkah Trump tersebut dengan tarif yang sama untuk barang-barang Tiongkok. Gedung Putih menanggapi ini, mengatakan bahwa begitu Tiongkok mengambil tindakan balasan ini, akan memberlakukan tarif pada produk Tiongkok senilai $267 milyar lainnya.

Sekarang perang perdagangan telah dimulai dengan sungguh-sungguh, siapa yang akan menang? Kita tidak dapat menentukan kemenangan atau kekalahan hanya dari jumlah tarif yang dipungut, tetapi dari bagaimana tarif berdampak pada aliran perdagangan internasional.

Dengan menyalakan lampu merah tariff-tarif tersebut, Amerika Serikat dapat menyebabkan arus barang bergeser ke negara lain, dan Tiongkok akan kehilangan status “pabrik dunia” yang telah dinikmati sejak awal abad ke-21.

MEDIA NEGARA TIONGKOK SALAH LANGKAH DALAM BERTEMPUR

Sejak awal perang dagang, media Tiongkok sering menggambarkan konfrontasi tersebut dalam istilah militer, membicarakan tentang tarif AS dan tarif perlawanan Tiongkok sebagai “peluru,” seolah-olah siapa pun yang mengenakan tarif lebih banyak terhadap pihak lain akan memenangkan perang perdagangan. Namun perbandingan ini sangat menyesatkan.

Tarif-tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat tidak menghilangkan para importir; sebaliknya, tarif adalah sebuah peringatan, maka istilah “lampu merah” untuk para importir bahwa harga barang yang diimpor dari Tiongkok akan naik. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan kenaikan harga kepada para konsumen, namun jika harga barang impor menjadi terlalu mahal, konsumen akan kehilangan kemauan untuk membeli. Solusi lain berikutnya adalah untuk para importir membayar biaya-biaya tersebut, yang berisiko kehilangan laba yang diperoleh.

Media Tiongkok Daratan dan perusahaan-perusahaan AS yang bersaksi dan menentang kebijakan-kebijakan Washington dalam sidang dengar pendapat pemerintah percaya bahwa kenaikan tarif-tarif tersebut akan memaksa para konsumen AS untuk membeli barang-barang dengan kenaikan harga. Dengan kata lain, “peluru-peluru” Trump yang “ditembakan di Tiongkok” akan menyerang balik ke konsumen AS. Kenyataannya, para importir tidak dapat benar-benar memaksa konsumen AS untuk membeli barang dan produk-produk Tiongkok bukan satu-satunya yang tersedia.

PRODUK-PRODUK TIONGKOK DAPAT TERGANTIKAN

Para importir di Amerika Serikat, seperti mereka yang memiliki rantai ritel besar, telah membeli sejumlah besar kebutuhan sehari-hari yang murah dari Tiongkok selama bertahun-tahun, seperti pakaian, alas kaki, mainan anak-anak, peralatan rumah tangga, dan perlengkapan kantor, dan sejenisnya. Ini adalah produk utama yang terpengaruh oleh tarif-tarif tersebut. Namun, kekhawatiran bahwa konsumen akan menderita karena peningkatan harga untuk barang-barang dari Tiongkok tidak berdasar.

Ambilah produk pakaian dan selimut sebagai contoh. Lebih dari satu dekade yang lalu, toko-toko pakaian Amerika dan toko serba ada penuh dengan produk-produk Tiongkok. Sulit untuk menemukan sesuatu yang tidak dibuat di Tiongkok. Namun, karena biaya pakaian dan tempat tidur Tiongkok naik, importir AS melihat keuntungan mereka menurun dan secara bertahap mulai memindahkan pembelian mereka ke Asia Selatan atau Tenggara. Produk pakaian dan perlengkapan tidur semakin banyak berasal dari negara-negara seperti India, Sri Lanka, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, atau Malaysia. Harga telah sedikit naik dan desainnya mungkin telah berubah, tetapi tidak memengaruhi konsumen Amerika. Pergeseran ini dimulai beberapa tahun sebelum perang perdagangan Tiongkok-AS dimulai musim semi ini.

Dari contoh ini dapat dilihat bahwa produsen-produsen Tiongkok yang mengekspor barang-barang konsumsi, peralatan rumah tangga, perlengkapan kantor dan alat-alat perangkat keras tidak mengisi peran yang tak tergantikan. Bahkan, industri manufaktur Tiongkok untuk konsumen berpenghasilan rendah menghadapi persaingan dari banyak negara di seluruh dunia. Tidak sulit mendirikan perusahaan serupa di Asia Selatan atau Tenggara, atau melatih karyawan di sana, karena perpindahan rantai pakaian dan perlengkapan tidur yang sukses dari Tiongkok ke negara-negara ini membuktikan.

BERHENTI DI LAMPU MERAH

Pada sidang dengar pendapat tentang peningkatan tarif untuk produk-produk Tiongkok yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR), banyak perusahaan Amerika menyatakan perlawanan yang kuat karena produk yang diimpor dari Tiongkok memiliki keseimbangan ideal antara harga dan kualitas dan bahwa tarif yang meningkat akan memaksa mereka untuk melimpahkan beban tersebut pada para konsumen. Pada persidangan tersebut, pemerintah menanyakan apakah perusahaan-perusahaan dapat memesan pada para produsen di negara-negara lain, akan tetapi perwakilan industri tersebut menolak kemungkinan ini.

Namun apakah ini bertahan dalam ujian kritis? Industri pakaian dan selimut Amerika telah menyelesaikan pemindahan rantai pasokan; mengapa perusahaan-perusahaan di industri lain tidak dapat mengikuti? Masalahnya bukan tentang rantai pasokan tidak dapat berpidah, tetapi melakukan hal itu akan menyusahkan para importir, meskipun mereka tidak mau mengakui hal ini. Perusahaan-perusahaan ini telah lama mengandalkan manufaktur Tiongkok dan akrab dengan para pemasoknya, yang menyelamatkan banyak masalah mereka ketika melakukan bisnis. Mereka lebih suka tidak menghabiskan waktu dan uang ekstra untuk mencari rantai pasokan baru.

Bagaimanapun, tidak ada importir di Amerika Serikat yang memiliki monopoli dalam bisnis ini. Jika beberapa perusahaan ini mulai mencari produsen untuk menyediakan rantai pasokan yang stabil di negara-negara selain Tiongkok, perusahaan tersebut akan segera mendominasi pasar AS dengan harga lebih rendah. Importir-importir yang malas akan terpaksa melakukan hal yang sama, atau menghadapi kebangkrutan.

Jika beberapa perusahaan AS bersikeras menggunakan produk buatan Tiongkok, mereka tidak hanya harus menghadapi persaingan dari perusahaan-perusahaan AS lainnya yang memiliki rantai pasokan di negara selain Tiongkok, tetapi juga persaingan dari perusahaan-perusahaan Tiongkok. Untuk mempertahankan pasar AS dan menghindari tarif-tarif Washington, beberapa perusahaan Tiongkok telah mulai mengalihkan produksi ke negara-negara Asia Tenggara dan tempat lain. Tekanan dua kali lipat tersebut akan memaksa para importir Amerika untuk mengalihkan pesanan mereka dan menyesuaikan rantai pasokan.

Kebutuhan sehari-hari seperti alat tulis kantor dan perangkat keras bahkan tidak harus diproduksi di luar negeri sama sekali. Banyak perusahaan AS yang digunakan untuk memproduksi barang-barang ini, tetapi ditutup dari pasar karena biaya produksi domestik yang tinggi. namun karena selisih harga antara AS dan manufaktur Tiongkok kecil, tarif 25 persen tambahan akan memungkinkan pabrik-pabrik Amerika berpeluang untuk bersaing. Ini akan membantu menghidupkan kembali industri Amerika dan menurunkan pengangguran, yang merupakan salah satu alasan Presiden Trump memulai perang dagang tersebut.

Ketika tarif-tarif Washington untuk Tiongkok menyalakan lampu merah untuk perusahaan-perusahaan perdagangan, arus barang-barang impor akan “memutar arah” dari Tiongkok ke negara-negara sumber lain. Dalam beberapa tahun, sejak sebagian dari aliran barang impor AS meninggalkan Tiongkok, sebagian dari rantai industri Sinosentris yang terbentuk selama globalisasi ekonomi di abad ini juga akan berpindah ke negara lain.

Konsep Tiongkok sebagai pabrik dunia memiliki waktu yang singkat di bawah matahari, segera digantikan oleh negara-negara lain di Asia. Salah satu konsekuensi dari ini adalah bahwa karena cadangan mata uang asing Tiongkok menurun seiring dengan penurunan ekspor-ekspornya, rezim Tiongkok dapat mempertimbangkan kemungkinan untuk lebih memperketat kontrol pada bursa luar negeri. (ran)

Dr. Cheng Xiaonong adalah seorang sarjana politik dan ekonomi Tiongkok yang berbasis di New Jersey. Cheng adalah seorang peneliti kebijakan dan diperbantukan untuk mantan pemimpin Partai Zhao Ziyang, ketika Zhao menjadi perdana menteri. Dia juga menjabat sebagai pemimpin redaksi jurnal Modern China Studies.

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds