Erabaru.net. Maladewa sedang menjadi fokus permainan adu nasib antara Komunis Tiongkok dengan India di kawasan Asia Selatan.

Seiring akan digelarnya dialog “Dua Plus Dua” antara Amerika Serikat dan India, situasi yang dihadapi Maladewa saat ini, akan dimasukkan sebagai topik pembahasan dalam dialog tersebut.

Hal itu ditegaskan Randall Schriver selaku Asisten Sekretaris Departemen Pertahanan AS untuk urusan Asia Pasifik, beberapa waktu lalu.

“Ada hal yang pasti akan kami lakukan, kita hendak mengekspos apa yang terjadi di sana,” kata Randall Schriver beberapa waktu silam.

Maladewa dan India memiliki hubungan erat di bidang keamanan, ekonomi dan budaya sejak lama.

Letak Maladewa berada di dekat jalur laut penting di Samudera Hindia yang selama ini dianggap sebagai “halaman belakang rumah” India.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh politik Komunis Tiongkok terhadap Maladewa terus meningkat.

Salah satu pengaruh itu, Maladewa akan menjadi tujuan perdagangan dan investasi strategis bagi proyek OBOR atau One Belt One Road Komunis Tiongkok.

Untuk diketahui OBOR adalah gagasan Presiden Tiongkok, Xi Jinping yang bertujuan membangun jaringan perdagangan dan infrastruktur yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Afrika di sepanjang rute perdagangan jalur sutra kuno.

Maladewa menghadapi krisis politik pada Februari silam. Presiden Maladewa, Abdulla Yameen yang pro Komunis Tiongkok mengumumkan keadaan darurat nasional, kemudian oposisi meminta AS dan India untuk melakukan intervensi.

Pada Agustus lalu, pihak berwenang Maladewa menuntut India untuk menarik kembali kedua buah helikopter militer dan 48 orang personel militer yang ditempatkan di Maladewa. Hal itu menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak.

Randal menyatakan, hal itu akan menjadi isu regional yang lebih luas jika memasukkan faktor Komunis Tiongkok ke dalam masalah itu.

Hal itu mengingat Komunis Tiongkok selama ini tidak peduli terhadap kondisi kebebasan politik dan masa depan rakyat Maladewa. Mereka hanya peduli dengan perluasan pengaruh politik dan memperoleh akses untuk mensukseskan proyek OBORnya.

Di lain sisi Amerika Serikat telah berulang kali menekankan dukungannya terhadap kebebasan dan keterbukaan wilayah Indo – Pasifik dan menentang predator intimidasi ekonomi atau militer, yang merusak kedaulatan negara lain. Perilaku Komunis Tiongkok jelas bertentangan dengan hal itu.

Randall mencontohkan ancaman pengaruh Komunis Tiongkok itu seperti kasus-kasus yang terjadi di Djibouti, Sri Lanka dan negara-negara lain. Mereka yang membiarkan masuknya Komunis Tiongkok ke negara mereka, akhirnya mengalami kehancuran kedaulatan negaranya. Komunis Tiongkok sekarang memperoleh pengaruh yang tidak semestinya mereka dapatkan.

Saat ini Amerika Serikat sedang meninjau langkah-langkah yang mungkin diambil untuk Maladewa, termasuk memberikan sanksi ekonomi dan visa. (sin/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular