MELBOURNE – Penyelenggara acara mencurigai konsulat Tiongkok berada di belakang pembatalan yang tidak dapat dijelaskan oleh pihak Universitas Victoria (UV) mengenai pemutaran “In the Name of Confucius”, sebuah film dokumenter pemenang penghargaan yang mengekspos sisi gelap dari apa yang disebut Institut Konfusius.

UV adalah rumah bagi salah satu dari 14 Institut Konfusius Australia. Institut Konfusius (IK) adalah program budaya dan bahasa yang dikelola negara Tiongkok, yang secara luas dilihat sebagai bagian dari strategi soft power rezim komunis.

Pemutaran film tersebut seharusnya dilakukan pada 21 September. Penyelenggara acara Leigh Smith, menerima panggilan dari direktur fasilitas UV pada 11 September yang memberitahukan bahwa pemesanan telah dibatalkan.

“Saya mendapat panggilan telepon dari direktur fasilitas, bukan wakil pemesanan … Saya tidak percaya,” kata Smith.

“Bagaimana Anda bisa membatalkan pemesanan saya? Itu sudah dibayar. Hanya 10 hari dari penayangan kami,” tanyanya, tetapi hanya diberitahu bahwa ada kesalahan.

Ketika dia bertanya apakah ruangan lain tersedia, direktur fasilitas menjawab bahwa “semuanya sudah dipesan. Sudah dipesan dua kali lipat, itu kesalahan,” ungkap Smith.

“Kami telah menggunakan tempat ini berkali-kali, saya tahu ada banyak teater kuliah,” katanya.

RUANG-RUANG KOSONG

Pada hari pemutaran yang diharapkan, The Epoch Times mengunjungi Kampus Kota UV dan menemukan tidak kurang dari empat teater kosong, satu yang dipesan dan tiga lainnya yang setara. Para penyelidik ditolak akses ke teater lain yang mungkin di ruang bawah tanah.

Pengambilan foto dan video dimulai pukul 7 malam, waktu yang dijadwalkan untuk acara tersebut, hingga pukul 8:30 malam. Pada jam 9 malam, lift sudah berhenti berfungsi, semua teater kosong.

film dokumenter In the Name of Confucius tentang sisi gelap institut konfusius
Gambar di sebelah kiri adalah keadaan teater pada pukul 7 malam, dan gambar di sebelah kanan adalah pukul 8:30 malam. Keduanya menunjukkan teater kosong di Universitas Victoria pada 21 September 2018. (The Epoch Times)

Smith, yang telah membuat selusin pemesanan atau lebih dengan UV untuk berbagai acara di masa lalu, mengatakan “mereka selalu sangat membantu.” Ini membuatnya curiga dengan pembatalan mendadak kali ini.

“Pertanyaan saya adalah apakah UV membatalkan pesanan saya di bawah tekanan dari Konsulat Tiongkok atau kelompok Tionghoa lain di Australia, atau apakah UV merendahkan diri sendiri karena takut mengganggu rezim Tiongkok,” kata Smith.

Setelah panggilan telepon pertama pada 11 September, datang email dari manajer senior aset properti UV untuk mengonfirmasi pembatalan tersebut secara tertulis. Email tersebut salah menyatakan tanggal acara sebagai 23 September.

Smith membalas, mengingatkan tanggal yang salah; dia juga meminta penjelasan dan bertanya tentang ketersediaan pada empat tanggal lain yang mungkin untuk pemutaran film.

Keesokan harinya, dia menerima email yang secara resmi membatalkan pemesanan 21 September, tetapi pertanyaannya tidak ditanggapi.

Email dan panggilan telepon lebih lanjut dari Smith telah diabaikan.

KANADA DAN AMERIKA WASPADA TERHADAP INSTITUT KONFUSIUS

David Matas, seorang pengacara hak asasi manusia internasional, dijadwalkan menjadi panelis pada sesi tanya jawab pasca pemutaran film. Dia sudah tiba di Australia dari Kanada untuk acara tersebut, yang akan dia hadiri setelah berbicara di acara-acara di New South Wales, Canberra (termasuk Gedung Parlemen) dan Queensland.

“Peristiwa ini adalah tentang pengaruh politik Partai Komunis pada lembaga-lembaga ini melalui Institut Konfusius, dan pembatalan ini adalah sebuah demonstrasi tentang fakta yang sangat nyata yang kami coba lakukan melalui peristiwa ini,” kata Matas.

Matas membuat arti pentingnya bahwa dua lembaga Kanada, Universitas McMaster dan seluruh Dewan Pendidikan Distrik Toronto (terbesar di Kanada), telah menutup Institut-institut Konfusius mereka.

David Matas
David Matas sedang menjawab pertanyaan selama sesi tanya jawab. (The Epoch Times)

Amerika Serikat juga, sadar akan risiko yang terkait dengan institut tersebut.

Pada 13 Agustus, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani RUU anggaran pertahanan yang mencakup pelarangan dukungan keuangan Pentagon untuk Institut-institut Konfusius.

Mantan kandidat presidensial Senator Ted Cruz, memimpin upaya-upaya agar Institut Konfusius dimasukkan dalam RUU tersebut.

“Senator Cruz sangat prihatin dengan upaya Tiongkok yang sedang berlangsung untuk menyusup ke pendidikan tinggi Amerika, dan bekerja untuk menghasilkan sebuah perubahan terhadap NDAA [National Defense Authorization Act] yang melarang universitas menggunakan uang Pentagon untuk Institut Konfusius, yang digunakan oleh Komunis Tiongkok sebagai senjata propaganda di kampus-kampus Amerika,” kata juru bicara kantor Senator Cruz melalui email pada The Epoch Times.

“Namun di Australia, tidak ada yang mundur dari Institut Konfusius,” kata Matas.

Pada bulan Agustus, Senator Konservatif Cory Bernardi mengajukan usulan ke Parlemen Australia menyerukan peninjauan atas keterlibatan Departemen Pendidikan dan Pelatihan dengan Institut-institut Konfusius. Usulan tersebut dikalahkan.

TEMPAT BARU DITEMUKAN

Andrew Bush, seorang anggota senior Partai Liberal Australia, membantu Smith menemukan tempat di detik-detik terakhir untuk pemutaran film tersebut, Scots Church di Collins Street, yang dihadiri sekitar 150 orang pada 21 September.

keberadaan institut konfusius di universitas victoria australia
Scots Church di Collins Street (Screenshot / Google Maps)

Berbicara tentang pembatalan UV, Bush berkata, “Itu hanya membuktikan bahwa mereka tidak memiliki kebebasan berpikir, bahwa mereka tidak memiliki nilai, bahwa seseorang telah menguasainya.”

“Ini adalah salah satu alasan mengapa saya pikir pengaruh Tiongkok adalah berbahaya. Ia berkemampuan untuk mengatakan pada universitas, jangan diadakan. Dan universitas mengatakan ya,” tambahnya.

“Universitas-universitas dahulu mempertahankan kebebasan berbicara sepenuhnya,” kata Bush. “Itu sudah tidak lagi dalam kasus ini. Saya pikir Universitas Victoria telah merugikan diri mereka sendiri, karena mereka terbukti pintar dalam memanipulasi.”

MASALAH DENGAN INSTITUT KONFUSIUS

Profesor Clive Hamilton, yang mengajar etika publik di Charles Sturt University di Canberra, mengatakan kepada SBS News: “Tujuan dari Kelas Konfusius adalah untuk menyebarkan citra positif dari pemerintahan Partai Komunis di Tiongkok. Jadi apa pun yang mungkin negatif untuk dihilangkan dari sejarah Partai Komunis di Tiongkok, para mahasiswa tidak lagi mengetahui tentang hal itu.”

Menyiapkan IK melibatkan kemitraan antara universitas asing, universitas Tiongkok, dan Hanban sebagai Kantor Dewan Bahasa Tionghoa Internasional, yang merupakan bagian dari Kementerian Pendidikan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

“Institut-institut Konfusius berfungsi sebagai basis di mana para ahli propaganda Beijing dan pekerjaan front persatuan dapat ‘menyusup’ universitas-universitas tuan rumah mereka dan membentuk opini (tentang Tiongkok) untuk para sarjana dan mahasiswa,” Profesor Willy Lam dari Chinese University of Hong Kong, mengatakan pada Politico.

Dijuluki “pusat pencucian otak” oleh beberapa orang, lembaga-lembaga yang didukung PKT ini telah dipertanyakan karena sejumlah alasan, termasuk praktik-praktik perekrutan yang diskriminatif, seperti yang disorot di dalam film dokumenter tersebut.

Mantan guru IK, Sonia Zhao, mengatakan kontraknya telah menetapkan bahwa para guru tidak boleh berlatih Falun Gong atau bergaul dengan Falun Gong.

Menjadi praktisi Falun Gong seorang sendiri, Zhao merasakan tekanan besar pada hari dimana dia disodori sebuah kontrak untuk ditandatangani. Karena ia telah berhasil melewati seluruh proses permohonan, dan telah dianggap dapat diterima untuk pekerjaan tersebut, menolak untuk menandatangani pada langkah terakhir tanpa alasan yang dapat diterima bisa berarti penjara.

Untuk melindungi dirinya, Zhao menandatangani kontrak tersebut. Setelah tiba di Kanada dia mengangkat masalah tersebut dengan Pengadilan Hak Asasi Manusia di Ontario.

“In the Name of Confucius” (Di Dalam Nama Konfusius), yang menceritakan kisah Zhao, memberikan wawasan mendetail mengenai sifat-sifat asli dari IK dan sekolah dasar dan menengah mereka setara dengan Kelas-kelas Konfusius, di mana, Australia memiliki 67.

Lembaga-lembaga tersebut mengklaim untuk mengajarkan budaya Tiongkok, namun Zhao mengungkapkan itu adalah budaya versi Tiongkok yang disetujui PKT.

Sebagai contoh, para siswa diajari bahwa Taiwan dan Tibet adalah wilayah Tiongkok, dan jika ada yang mempertanyakan ini, para guru dilatih bagaimana menghindari topik tersebut. Pelajaran tabu lainnya termasuk Pembantaian Lapangan Tiananmen, penganiayaan terhadap Falun Gong, dan seterusnya.

Mereka juga mengajar anak-anak untuk menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Tionghoa yang memuliakan Mao Zedong. Smith mencatat bagaimana di bawah aturan penindasan Mao, jutaan orang Tionghoa telah tewas secara tidak wajar.

“Saya pikir jika para orang tua Australia mendengar hal itu, dan mengetahui apa yang anak-anak mereka nyanyikan, mereka akan marah,” kata Smith.

INFORMASI TERBARU:

The Epoch Times telah menghubungi Universitas Victoria tentang pembatalan tersebut.

Juru bicara, yang menjawab melalui email, tidak menyebutkan pemesanan ganda atau mengapa Smith diberitahu tidak ada ketersediaan. Sebaliknya, dia menjawab: “Pemesanan tampaknya dibuat di gedung yang sama pada saat Institut Konfusius sedang dalam proses pemasaran dan karena itu dibatalkan, menginat potensi gangguan terhadap fasilitas kami.”

Juru bicara itu tidak menjawab pertanyaan lain tentang apakah pembatalan itu karena tekanan dari konsulat Tiongkok atau apakah UV menyadari bahwa Institut Konfusius adalah bagian dari cabang pemerintah PKT. (ran)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds