London – Setelah 40 tahun berlalu dan menimbulkan 3.000 kematian, korban terinfeksi HIV dan hepatitis C yang selamat dari transfusi darah ‘pelacur’, pengguna narkoba, dan bahkan darah orang meninggal dunia, berharap untuk mendapatkan jawaban. Banyak dari korban skandal ‘darah tercemar’ di Inggris baru tahu setelah bertahun-tahun, bahwa perawatan darah revolusioner yang merekajalani, yang disediakan oleh dinas kesehatan nasional, adalah ‘hukuman mati’.

Setelah beberapa dekade berkampanye, dengar pendapat akhirnya digelar pada 24 September 2018, terkait pemeriksaan resmi pertama terhadap produk darah yang terinfeksi. Darah-darah itu, yang diimpor dari Amerika Serikat pada tahun 1970-an.

Penyelidikan akan mencoba menetapkan apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, dan apakah ada upaya penyembunyian informasi, seperti yang banyak diklaim oleh para korban. Penyelidikan bisa mengarah kepada penuntutan.

Pejabat dan perusahaan farmasi dihukum di Jepang dan Perancis beberapa tahun lalu, terkait kasus serupa. Menteri kesehatan Perancis bahkan dinyatakan bersalah atas pembunuhan pada tahun 1999.

Sebagian besar dari mereka yang terkena dampak adalah pasien hemofilia, suatu penyakit keturunan dimana darah penderitanya tidak memiliki faktor yang penting untuk pembekuan. Sebelum tahun 1970-an, pengobatan membutuhkan transfusi plasma, yang berarti ‘dilarikan’ ke rumah sakit bahkan untuk cedera ringan.

Kemudian, produk baru, yang disebut ‘konsentrat faktor’, dikembangkan. Metode pengobatan yang dapat dilakukan sendiri di rumah melalui injeksi. Terapi ini dikembangkan dari darah yang didonorkan.

Inggris mendatangkan darah dari Amerika Serikat, di mana PSK dan tahanan termasuk di antara mereka yang dibayar untuk memberikan darah mereka, sehingga meningkatkan risiko infeksi. Risiko semakin meningkat, karena darah dari kebanyakan donor dikumpulkan dan diolah untuk menciptakan suatu produk terapi medis.

“Risiko ini diabaikan oleh dokter dan pemerintah, yang kemudian gagal mengambil tindakan yang tepat untuk mengakhiri penggunaannya untuk kembali ke produk yang lebih aman,” kata pernyataan dari Masyarakat Haemophilia Inggris.

“Perusahaan farmasi dan dokter terkemuka tidak berbagi, atau bahkan menyembunyikan, informasi tentang risiko bagi pasien dan kelompok pasien. Banyak orang terinfeksi virus mematikan selama waktu (40 tahun) ini.”

Tahun lalu, Collins Solicitors, salah satu firma hukum yang membantu korban, mengatakan bahwa skandal itu memiliki ‘bukti baru yang kuat’. Bukti yang menjelaskan upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan untuk menjaga informasi terkait, tetap menjadi rahasia dan tersembunyi.

Statistik tentang jumlah kematian bervariasi menurut berbagai sumber dan kriteria, dengan jumlah kematian antara 2.000 dan 3.000 pasien.

Menurut penyelidikan tahun lalu oleh sekelompok anggota parlemen, diperkirakan ada 32.718 orang yang terinfeksi virus hepatitis C antara tahun 1970 dan 1991. Namun, hanya ada 6.000 pasien yang sudah berhasil diidentifikasi.

Menurut komunitas Masyarakat Hemofilia, “Pada 1970-an dan 1980-an, lebih dari 4.500 orang dengan hemofilia dan kelainan perdarahan lainnya, apakah multiply terinfeksi Dengan HIV, hepatitis B dan C, dan berbagai virus melalui darah lainnya. Lebih dari 2.000 orang telah meninggal dan 1.243 orang terinfeksi HIV. Kurang dari 250 orang masih bertahan hidup.”

Penyelidikan publik resmi telah diperintahkan tahun lalu oleh Perdana Menteri Inggris, Theresa May.

Perintah yang secara resmi membuka penyelidikan pada 24 September 2018, Sir Brian Langstaff mengatakan bahwa mungkin ada banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka telah terinfeksi.

“Mungkin ada ribuan lagi yang belum merasa, atau belum diberitahu bahwa alasan untuk ini adalah bahwa hidup mereka terancam oleh hepatitis C,” kata May dalam perintah penyelidikan.

Banyak korban skandal yang bersaksi melalui rekaman video pada awal sidang, pada 25 September 2018. Seorang wanita digambarkan sedang tertegun setelah dia terinfeksi HIV melalui suaminya, yang merupakan penderita hemofilia.

“Ini adalah pertengahan 1980-an dan iklim ketakutan, diskriminasi, dan stigma yang terkait dengan HIV dan AIDS sangat mengerikan,” kata wanita itu. “Kami berupaya sebaik mungkin. Kami dibungkam, dan kami diam. “

Michelle Tolley, peserta inti dalam penyelidikan, menggambarkan skandal itu sebagai tragedi terburuk dalam sejarah NHS. “Setiap hari, saya bangun dengan hukuman mati terbayang di kepala saya.”

Bukti akan dibuka dan diperdengarkan mulai musim semi 2019. Penyelidikan diperkirakan akan berlangsung selama 15 bulan. (SIMON VEAZEY/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

 

Share

Video Popular